Operasi Pasar, Bulog Gelontorkan 12 Ribu Ton Beras

Kemendag RI Instruksikan OP Diperpanjang Hingga 31 Maret

Bulog Gelontorkan 12 Ribu Ton Beras
OPERASI PASAR: Pegawai Perum Bulog Divre NTB melayani masyarakat yang membeli beras di lokasi operasi pasar beras di Pasar Kebon Roek, Rabu kemarin (10/1). (LUKMAN HAKIM/RADAR LOMBOK)

MATARAM–Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI menginstruksikan seluruh daerah di Indonesia untuk menggelar Operasi Pasar (OP) beras selama tiga bulan penuh di awal tahun 2018 ini.

Menindaklanjuti instruksi Kemendag RI tersebut, Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi NTB bersama Perum Bulog Divisi Regional (Divre) NTB dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah mulai menggelar OP di sejumlah titik.

BACA JUGA :  78 Ribu Ton Pupuk Urea Bersubsidi Sudah Tersalur

Untuk itu, Disdag NTB bersama Perum Bulog Divre NTB dan TPID NTB, Rabu kemarin (10/1) kembali melanjutkan gelaran OP pangan bahan pokok, khususnya beras. OP beras kali ini dilaksanakan serentak seluruh daerah di Provinsi NTB, dengan melibatkan mitra Distributor beras Dinas Perdagangan NTB dan mitra Perum Bulog Divre NTB yang ada di kabupaten/kota.

“Pelaksanaan operasi pasar ini untuk memastikan beras dibawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Karena biasanya di awal tahun itu, harga beras kecenderungannya cukup mahal,” kata Kepala Kasubdit Bapokting, Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kemendag RI, Tirta Karma Sanjaya.

Hadir juga dalam pelaksanaan OP beras tersebut, Kepala Disdag NTB, Hj Putu Selly Andayani, Kepala BPS NTB, Endang Tri Wahyuningsih, Kepala Perum Bulog Divre NTB, H. Achmad Ma’mun, dan Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB, Prijono.

Dijelaskan, OP beras dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia dalam rangka melakukan stabilisasi harga. Pasalnya, tiga bulan di awal tahun serapan pembelian gabah petani oleh Perum Bulog belum bisa dilaksanakan. Karena belum ada panen raya.

Lanjut Tirta, pelaksanaan OP ini sebagai salah satu strategi menstabilkan harga beras yang sudah mulai merangkak naik di awal tahun. Dengan digelontorkannya beras medium di pasar tradisional, maka para pedagang atau spekulan tidak bisa lagi menjual beras kelas medium yang menjadi konsumsi terbanyak masyarakat, di jual dengan harga mahal. “Pelaksanaan OP beras ini diperpanjang sampai 31 Maret 2018 dalam rangka menstablikan harga beras yang terjangkau kepada masyarakat,” ujar Tirta.

Kepala Perum Bulog Divre NTB, H. Achmad Ma’mun menyebut, bahwa pada prinsipnya OP beras dan bahan pokok (Bapok) yang lain sudah dilaksanakan sejak Desember 2017 lalu. Dengan adanya kebijakan memperpanjang OP hingga akhir Maret 2018, Bulog sudah menyiapkan beras yang memang menjadi stok kebutuhan pangan untuk dalam wilayah Provinsi NTB. “OP Pasar ini bisa mengendalikan kenaikan harga di pasar. Karena sekarang ini di awal tahun petani belum ada panen raya ,” ujarnya.

Menurut Ma’mun, kendati belum ada panen raya padi, bukan berarti stok ketersediaan beras di NTB kritis. Justru stok kebutuhan pangan, khususnya beras untuk Provinsi NTB masih dalam kondisi aman hingga Mei 2018 mendatang. Selain itu, awal Maret mendatang sudah mulai panen raya, yang artinya pengadaan dalam jumlah besar dimulai.

Khusus kebutuhan OP, selama tiga bulan dari Januari hingga Maret, Perum Bulog Divre NTB telah menyiapkan 12 ribu ton beras jenis medium. Sebanyak 12 ribu ton, dengan rincian 4.000 ton/bulannya akan digelontorkan di sejumlah titik pasar tradisional dan pusat perkampungan padat penduduk untuk dijual beras medium dan sebagian beras premium.

“Sampai tanggal 9 Januari 2018 sudah terdistribusi sejumlah 1.600 ton khusus OP. Penambahan stok beras medium ke pasar tujuannya tetap menjaga ketersediaan beras medium serta tetap menjaga harga beras di pasaran supaya tetap stabil dibawah HET,” ucapnya.

Sementara Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Hj Putu Selly Andayani mengakui jika harga beras di sejumlah pasar tradisional mulai terjadi kenaikan. Hanya saja, kenaikan harga beras tersebut masih dalam batas sewajarnya. “Kenaikan harga masih terkendali. Pelaksanaan OP beras ini akan semakin mengamankan harga di pasar, agar tidak terlalu melonjak tinggi,” katanya.

BACA JUGA :  Triwulan I Ekonomi NTB Tumbuh 4,59 Persen

Lebih lanjut Selly menyebut, bahwa harga beras medium di sejumlah pasar tradisional di Kota Mataram relatif masih stabil. Seperti di Pasar Kebon Roek, Ampenan, pedagang menjual beras medium Rp8.500/kg, di Pasar Mandalika, Beratis, Kecamatan Sandubaya, pedagang menjual beras medium Rp9.000/kg dan di Pasar Pagesangan, harga beras Rp9.000/kg.

“Harga jual beras di pasar tradisional masih di bawah HET Rp9.450/kg untuk beras medium. Kalau melihat stok beras yang banyak, maka pasokan akan aman dan harga juga terkendali,” pungkasnya. (luk)