One Gate System Didorong Segera Diterapkan

DESTINASI: Wisatawan dari Gili turun di Pelabuhan Bangsal untuk menuju destinasi wisata lainnya di Lombok, Rabu (4/1) (DERY HARJAN/RADAR LOMBOK)

TANJUNG – Sejumlah pihak mendukung upaya Pemda KLU memberlakukan one gate system untuk kapal cepat pengangkut wisatawan yang datang dari Bali.

Di mana, kapal cepat tidak lagi bisa langsung menurunkan penumpang di Gili, melainkan di Pelabuhan Bangsal. Lalu dari Bangsal menuju Gili, wisatawan naik armada lokal milik Koperasi Karya Bahari (KKB). Adapun untuk penjemputan wisatawan, kapal cepat bisa langsung ke Gili. “Ini adalah yang kami tunggu-tunggu sebagai masyarakat dalam rangka pemerataan ekonomi,” ungkap tokoh masyarakat Pemenang Lalu  Zulkarnaen, Rabu (4/1).

Pria yang aktif pada LSM Bina Lingkungan Wisata Terpadu (Balant) ini  mengungkapkan, jika kapal cepat dari Bali melalui Pelabuhan Bangsal, maka dampaknya akan luar biasa. “Pedagang di sekitar Pelabuhan Bangsal akan kecipratan, begitu juga pengusaha tranportasi darat maupun laut.  Hal ini yang perlu disadari,” ucapnya.

Baca Juga :  Global Hub Kayangan Sedang Dicarikan Investor

Dan jika kebijakan ini diberlakukan pada Januari ini, maka masyarakat Pemenang juga akan terlibat langsung dalam menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan.

Selain banyak yang mendukung one gate system, banyak juga yang menolak. Alasannya, akan mempersulit dan membuat tidak nyaman wisatawan. Dengan melalui Pelabuhan Bangsal, bukan hanya biaya lebih yang harus dikeluarkan wisatawan, melainkan juga waktu yang relatif lebih lama dibandingkan langsung dari Bali ke Gili menggunakan kapal cepat. Karena itu, banyak pihak beranggapan bahwa penerapan one gate system ini akan mengurangi minat wisatawan ke Gili.

Baca Juga :  Anggota DPRD Mulai Kembalikan Kerugian Negara

Terkait hal itu, Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran pada Dinas Pariwisata KLU Fahman Toriki mengatakan bahwa pihaknya belum bisa memastikan dampak ke depan. Tetapi memang cenderung akan berdampak pada penurunan wisatawan karena pada dasarnya wisatawan lebih suka sesuatu yang mudah.

Hanya saja Pemda KLU sudah memutuskan kebijakan ini atas pertimbangan yang matang. Salah satunya demi pemerataan ekonomi masyarakat. Lagi pula pemda juga sedang mengembangkan pariwisata berkelanjutan. Jika terlalu banyak kunjungan, juga tidak bagus untuk Gili. “Gili ini sudah menunjukkan tanda-tanda over tourism. Terlalu banyak dan tidak sebanding dengan kapasitas yang ada. Padahal Gili juga masuk kawasan konservasi,” jelasnya. (der)

Komentar Anda