Oknum Jaksa Pemeras Hanya Diberikan Teguran

MATARAM—Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) NTB, Tedjolekmono menyatakan telah memproses oknum jaksa yang diduga melakukan pemerasan kepada salah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Mataram. Oknum Jaksa tersebut dinilai tidak terbukti melakukan pemerasan, karenanya diberikan teguran oleh kejaksaan. “Dia tidak terbukti melakukan pemerasan. Dia juga sudah ditegur,’’ ujarnya saat dikonfirmasi di Gedung Kejati NTB di Mataram, Kamis (13/10).

Kasus ini mencuat setelah Komisi Kejaksaan (Komjak) mendatangi Kejati NTB Rabu lalu (12/10). Kedatangannya itu untuk mengklarifikasi oknum jaksa yang diduga melakukan pemerasan. Kemudian Kajati NTB mengaku sudah melakukan pengecekan terhadap laporan itu. Ia mengaku, kasus tersebut terjadi sebelum dia menjabat sebagai Kajati NTB.

Setelah menjabat, dirinya mendapat laporan mengenai kasus dugaan pemerasan itu, kemudian melakukan pengecekan di bidang intelijen dan Pidana Khsusus (Pidsus). Ini untuk mengetahui apakah Kejati NTB menangani sebuah kasus. Hasilnya, bagian intelijen dan Pidsus tidak ada menangani kasus yang masih dirahasiakan ini. “Rupanya oknum kejaksaan ini hanya mengetahui informasi tentang kasus itu, dan menghubungi korban,’’ katanya.

Ia juga mengakui oknum tersebut sempat meminta sejumlah uang dari calon korbannya ini. Namun setelah dilakukan klarifikasi oleh bidang Aswas. Calon korbannya atau pelapor ini sempat melakukan penyerahan uang. Sehingga oknum tersebut dinyatakan tidak bersalah dan hanya diberikan teguran. “Yang kita klarifikasi itu pelapornya. Dia mengatakan memang tidak memberikan kepada oknum jaksa itu,’’ ungkapnya.

Pelapor ini kata dia, juga melaporkan oknum jaksa itu secara resmi ke Aswas Kejati NTB dan diproses. Pelapor disebutnya adalah salah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di salah satu institusi di Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram. Namun sekarang PNS tersebut sudah pindah ke Tual, Maluku. “PNS-nya ini sekarang sudah pindah ke Maluku,’’ terangnya.

Kajati seakan menutup rapat informasi terkait dengan asal oknum jaksa yang diduga melakukan pemerasan ini. Ia tidak bersedia menyebutkan secara pasti saat disinggung mengenai apakah oknum jaksa itu saat ini bertugas di Kejati NTB atau di Kejari lainnya di NTB. “Dia masih bertugas, pokoknya di kejaksaan sinilah,’’ katanya.

Oknum jaksa itu juga akhirnya diputuskan tidak terbukti melakukan pemerasan. Kecuali terbukti, dirinya mengaku akan membuka identitas oknum jaksa tersebut. Pelapor juga ditegaskan tidak melakukan penyerahan uang. Namun, dirinya mengaku berterima kasih kepada pelapor yang sudah melaporkan kejadian itu.

Terkait apakah ada permintaan dari oknum jaksa itu yang meminta sesuatu selain uang kepada pelapor? Mantan Wakajati Gorontalo ini mengatakan tidak mengetahui secara detail. Karena dia dalam hal ini hanya mendapatkan laporan saja. “Detailnya saya tidak tahu, karena yang memeriksa itu Aswas Kejati,’’ jelasnya.

Namun yang jelas, pelapor dalam hal ini tidak menyerahkan sesuatu kepada oknum jaksa. Sehingga tindak pidana pemerasan ataupun suap oleh oknum tersebut tidak dilakukan. “Kepentingan saya disini hanya apakah peristiwa itu merupakan peristiwa pidana atau bukan. Itu hanya masuk kepada domain etika saja,’’ sebutnya.

Ketika disinggung walaupun oknum jaksa ini sebatas melakukan permintaan dan uang belum diserahkan. Namun sudah ada keinginan untuk melakukan pemerasan kepada pelapor. Apakah sanksi di internal kejaksaan tidak diberikan? Aswas Kejati mengatakan, kalau jenis pelanggaran yang dilakukan termasuk kategori ringan. Sehingga oleh Aswas kejaksaan kemudian diberikan teguran. “Kategorinya pelanggaran ringan, oknum itu sudah kita berikan teguran,’’ sebutnya.

Sementara Asisten Pengawasan (Aswas) Kejati NTB, Darmowijoyo mengakui pihaknya memang mendapat laporan yang masuk terkait dugaan pemerasan yang dilakukan oknum jaksa yang identitas maupun tempat bertugasnya tidak ingin disebutkannya ini.

Oknum tersebut kata dia sudah dilakukan klarifikasi sesuai dengan laporan yang diterima. Hasilnya memang tidak terbukti melakukan pemerasan, dan pelapor juga sudah mengakui belum menyerahkan uang. “Sudahlah, tidak perlu disebutkan. Kan juga tidak terbukti melakukan pemerasan,’’ ujarnya.

Dikatakan, perkara diduga pemerasan itu belum ditingkat penyelidikan ataupun penyidikan dalam kasus korupsi. Baik itu yang ditangani oleh Kejati maupun Kejari se NTB. Pihaknya juga sudah melakukan klarifikisai terhadap oknum jaksa dan pelapor pada bulan Juni tahun 2016. “Penyerahan uang itu memang tidak ada setelah dilakukan klarifikasi,’’ tandasnya.

Dia juga memastikan, selama menjabat sebagai Aswas Kejati NTB, belum sekalipun menerima laporan ada dugaan pemerasan yang dilakukan kejaksaan terkait dengan kasus korupsi yang ditangani. “Saya belum pernah menangani laporan pemerasan dan sebagainya. Baik itu terkait kasus yang ditangani oleh Kejati maupun Kejari,’’ ungkapnya.

Laporan tersebut awalnya dilakukan kepada Komjak di Jakarta. Oknum tersebut juga sekali lagi dipastikan sudah dilakukan klarifikasi. Namun, ia mengakui oknum jaksa tersebut susah melakukan percobaan pemerasan terhadap pelapor. “Karena tidak ada uang yang diserahkan, maka kasus tersebut kami tutup,’’ urainya.

Sama dengan Kajati NTB, dirinya juga tdak bersedia membeberkan terkait identitas maupun dimana oknum jaksa itu bekerja saat ini. Pun terkait jabatan oknum jaksa tersebut, juga tidak disebutkan.  Kasus ini tidak diekspose, alasannya karena memang tidak terbukti. “Iya di Kejari Lombok lah, yang jelas dia seorang jaksa,’’ imbuhnya.

Kemudian dalam hal apa Komjak mendatangi Kejati NTB, jika kasus tersebut sudah ditutup? Menurutnya tugas dari Komjak itu banyak. Diantaranya untuk melakukan pengawasan dan pantauan terhadap kinerja kejaksaan. “Itu kan sudah tugasnya, disamping melakukan klarifikasi juga melakukan pantauan,’’ tandasnya. (gal)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid