Nyepi, “Perang Api” Masih Lestari

Perang Api
PERANG : Para pemuda dari dua banjar saling serang menggunakan bobok yang dibakar pada pelaksanaan Perang Api jelang Nyepi di Mataram, Jumat sore lalu (16/3). (Fahmy/Radar Lombok)

MATARAM – Di Mataram selain pawai ogoh-ogoh, ada juga tradisi yang masih lestari tiap momen Nyepi. Ia adalah tradisi Perang Api antara warga Banjar Negara Sakah melawan warga Banjar Sweta Barat. Ini berlangsung saat petang usai pawai ogoh-ogoh.

Perang ini sering disebut dengan Perang Bobok karena menggunakan bobok (daun kelapa kering) yang dibakar. Bobok menjadi senjata warga memukul “musuh” sampai api di bobok tersebut padam. Tradisi perang ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu yakni ketika Kerajaan Mataram berkuasa

Sebagaimana diceritakan Bagus Mayana selaku koordinator perang api. Ia mengatakan tradisi perang api sudah ada sejak ratusan tahu lalu. Dimana dari cerita yang didapatkan dari para orang tua, dulu dua banjar ini diserang wabah penyakit. Dimana penyakit tersebut sangat mematikan, untuk mengusir wabah, para orang tua yang ada di dua banjar ini membakar satu ikat kayu, dengan mengelilingi pekarangan rumah dengan maksud roh jahat pergi.

Setelah selesai mengitari rumah selanjutnya ikatan kayu yang sudah dibakar dilempar keluar rumah dengan maksud agar penyakit atau roh jahat tidak kembali lagi.” Bermula dari saling lempar, kini menjadi tradisi perang api antara kedua kampungini,”paparnya.

Sementara itu pelaksanaan Tapa Brata Hari Raya Nyepi tahun Saka 1940 di Kota Mataram berlangsung damai dan kondusif. Umat Hindu  dengan damai melaksanakan penyepian di kediaman mereka masing-masing.  Pantauan koran ini di lapangan, selama pelaksanaan Nyepi  di beberapa lokasi tertentu  yang dihuni  mayoritas umat Hindu seperti kota mati. Bahkan beberapa pusat berbelanja seperti pasar tradisional Karang Jasi tutup tidak ada operasional. Begitu juga pusat perbelanjaan banyak yang  tutup.

Tidak hanya  itu, jalan-jalan  lingkungan ditutup. Pecalang secara bergantian berjaga di setiap pintu masuk jalan lingkungan. Kondisi seperti ini dimulai dari sejak pukul 06.00 Wita Sabtu  lalu (17/3)  sampai dengan pukul 06.00 Wita Minggu pagi (18/3).” Selama 24 jam, jalan masuk dan semua  warga umat Hindu melaksanakan penyepian didalam rumah,” kata  Suardana  salah satu pecalang di Kecamatan Cakranegara.

Sebelumnya, pada hari Jumat (16/3), digelar pawai Ogoh-ogoh.

Ada 37 titik jalan jalan di Kota Mataram ditutup. Sebanyak 128 Ogoh-ogoh yang meramaikan pawai ini.(ami/cr-isn)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut