Nyawa Anak Terancam, Minta Darah, Ditolak UTD Loteng

Nyawa Anak Terancam, Minta Darah, Ditolak UTD
MENGADU: Keluarga pasien yang sempat diusur pihak RSUD Praya mengadu ke DPRD Lombok Tengah, kemarin. (SAPARUDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYA-Penuturan memilukan diceritakan seorang ibu bernama Baiq Nurlia Febriana saat mengadukan persoalan unit transfusi darah (UTD) RSUD Praya ke DPRD Lombok Tengah, Kamis kemarin (20/7).

Baiq Nurlia datang bersama dua orang tua lainnya. Ketiga orang ini memiliki anak dengan penyakit sama, yakni talasemia. Penyakit pembentuk sel merah yang harus rutin diobati dengan cara memberikan darah.

Di hadapan anggota komisi IV DPRD Lombok Tengah H Ahmad Supli, Baiq Nurlia menuturkan, kronologis pengusiran yang dilakaukan oleh pihak RSUD Praya, belum lama ini. Anaknya bernama Lalu Sabdana menderita penyakit talasemia selama 10 tahun.

Penyakit mematikan ini sudah diderita anaknya sejak umur 6 bulan. Jadi, setiap satu kali seminggu harus transfusi darah untuk menghidupkan sel darah anaknya.  Sehingga satu bulan pihaknya membutuhkan kantong darah 4 kantong. “Sudah 10 tahun saya melakukan trasfusi darah di RSUD Praya, namun kok anehnya sekarang kami ditolak mentah-mentah oleh pihak RSUD Praya,” tuturnya.

Penuturan sama juga disampaikan H Fadil, anaknya bernama Baiq Giarla Orminita Masya terserang penyakit ini sejak umur 3 bulan dan sudah melakukan trasfusi darah selama 4 tahun. Di mana untuk pencucian darah 1 bulan menghabiskan 2 kantong  dan itu sudah dilakukan selama 10 tahun. “Anak saya ini sudah menderita penyakit sejak berumur 6 bulan dan sudah 10 tahun jadi langganan trasfusi darah di RSUD,” tuturnya.

Demikian juga disampaikan Lalu Mukhsin, anaknya bernama Baiq Riadul Adha juga mengalami penyakit yang sama. Anaknya juga harus melakukan trasfusi darah ke RSUD Praya 3 kali dalam sepekan. Dan, itu sudah ia lakukan selama 6 tahun.

Dari sekian tahun ia melakukan trasfusi darah, pagi Rabu kemarin, ia mendapatkan perlakukan tidak sedap dari pisah RSUD Praya (UTD). Ketika menanyakan kenapa belum juga dilayani, malah petugas dengan tegas mengatakan, kalau stok darah sudah habis dan kalau ingin mencari darah silakan langsung ke PMI Selong. “Baik secara ucapan maupun tulisan, sudah ada terpasang di depan ruang UTD, bertuliskan, “kantong darah di UTD kosong, kalau ingin mencari darah silakan ke PMI Selong”,” sebutnya.

Terhadap apa yang dikatakan petugas tersebut, pihaknya sempat berpikir kalau PMI Loteng, apa yang dikerjakan, kok bisa diarahkan ke PMI Selong. “Saya sempat heran dan bertanya, apa sih yang dilakukan PMI Loteng, kok saya diarahkan ke PMI Selong,” tanyanya.

Tidak sampai di sana lanjutnya, pihaknya langsung mengadukan persoalan ini ke Direktur RSUD Praya. Namun, sayang dia tidak bertemu, sehingga langsung melaporkannya ke DPRD.

Sementara itu H Ahmad Supli mengaku UTD sudah tidak lagi melakukan kontak kerja sama dengan pihak RSUD Praya. Di mana UTD melakukan kerja sama dengan sejumlah rumah sakit swasta di Loteng. “Dulu UTD memang melakukan kerja sama dengan RSUD Praya, beberapa bulan lalu sudah terputus. Tapi pihak RSUD Praya yang kurang memberikan penjelasan,” terangnya.

Ada beberapa hal yang membuat terputusanya kerja sama, di antaranya anggaran senilai Rp 180 juta tidak pernah diserahkan pihak RSUD ke UTD. “Jadi sangat wajar saja jika kerja sama itu terputus, sebab pihak RSUD Praya malah tidak pernah bayar tunggakan, setelah pihaknya menghubungi petugas UTD,” bebernya. (cr-ap)