NWSaling Berkompetisi Untungkan Pihak Ketiga

SALING SAINGI: Setelah NW Pancor menyatakan dukungan ke Syamsul Luthfi, kini NW Anjani menyetor lale yaqutunnafis sebagai calon bupati Lotim (Yan/Radar Lombok)

MATARAM—Tak mau kalah dengan partai politik, ormas Nadhlatul Wathan (NW) sudah mendeklarasikan kandidat yang didukung di suksesi Pilkada Lombok Timur (Lotim) 2018 sebagai calon bupati. NW Pancor mendukung Syamsul Lutfi dan NW Anjani mengusung Lale Yaquttunafis.

Pengamat Politik, Darmansyah menilai, saling berkompetisi kedua NW dengan mengusung kader sebagai bakal calon bupati akan merugikan kedua belah pihak di Pilkada Lotim 2018 mendatang. “Dengan kedua NW berkompetisi, maka pihak ketiga atau pihak di luar calon NW akan diuntungkan,” kata dosen Universitas Muhammadiyah Mataram itu, kepada Radar Lombok, Selasa kemarin (4/4).

[postingan number=3 tag=”pilkada”]

Bukan tanpa alasan ia mengatakan hal demikian, Pillkada Lotim 2013 lalu menunjukkan bagaimana terpecahnya dukungan jamaah NW. Hal ini memberikan keuntungan kepada pihak ketiga atau calon yang berasal dari luar NW.

Menurutnya, alangkah lebih baik kedua NW tersebut mendukung dan mengusung pasangan calon yang sama. Sehingga suara riil jamaah NW di Lotim akan lebih solid dan utuh.

Dengan hal itu, ia pun menilai, calon dari NW akan lebih memudahkan untuk memenangkan pertarungan di Pilkada Lotim 2018. “Kedua NW ini bakal rugi sendiri, andai saling berhadap-hadapan dengan mengusung calon berbeda,” tandas mantan KPU Ketua Provinsi NTB itu.

Katanya, politik adalah seni segala kemungkinan. Ia pun berpandangan, sangat mungkin kedua NW tersebut mendukung dan mengusung calon sama. Terlebih, ikut bertarung di Pilkada Lotim untuk meraih kemenangan.

Ia pun yakin, dengan kedua NW mendukung calon bupati atau calon wakil bupati yang sama, maka sangat sulit pasangan calon tersebut untuk dikalahkan. “Saya yakin calon yang didukung bersama dua NW ini akan menang mudah,” imbuh akademisi asal Bima tersebut.

Senada dengan itu, pengamat politik Dr. Kadri menjelaskan, meskipun ormas tidak punya legitimasi mengusung calon di Pilkada karena itu ranah parpol. Namun, ormas NW menjadi episentrum atau pusat titik pergulatan politik di Pilkada Lotim dan Pilkada NTB.

“Episentrum politik pilkada Lotim ada di NW,” kata dosen IAIN Mataram itu.

Menurutnya, dukungan parpol terhadap kandidat akan sangat ditentukan ke mana arah dukungan kedua NW tersebut. Dengan jamaah tersebar di Lotim, rill, solid dan fanatik. Maka jejaring dan kekuatan NW di Pilkada Lotim akan sangat menentukan kemenangan bagi calon didukung.

Namun, potensi dan dukungan dimiliki kedua NW tersebut tidak akan maksimal andai nanti kedua NW itu memutuskan saling berkompetisi dengan mengusung kader terbaik masing-masing sebagai calon bupati. Ia pun menilai, andai kedua NW tersebut tetap ngotot menjagokan kader sebagai calon bupati, maka kekalahan kader kedua NW di Pilkada Lotim 2013 lalu tidak menutup kemungkinan akan terulang kembali di Pilkada Lotim 2018.

“Siapa rugi, NW sendiri yang rugi,” pungkasnya. (yan)