NTB Urutan Kedua Kasus Kematian Covid-19

dr Nurhandini Eka Dewi (dok)

MATARAM–Tren pasien sembuh dari Covid-19 di NTB semakin banyak, tetapi kasus kematian masih cukup tinggi. Bahkan secara nasioanal berada di urutan kedua.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi NTB, dr Nurhandini Eka Dewi membenarkan meski pasien sembuh terus bertambah namun angka kasus kematian cukup tinggi. “Kalau kita lihat pasien sembuh kita di atas rata-rata Indonesia. Apalagi terjadi peningkatan terus kalau pasien sembuh. Kematian kita yang tinggi, sekarang kita nomor dua seluruh Indonesia, itu masalahnya,”ungkapnya.

dr Eka sapaan akrabnya juga menyampaikan, upaya untuk menekan angka kasus kematian yang cukup tinggi di NTB. Jalan satu-satunya yang akan dilakukan dengan mendeteksi lebih awal. Bagi pasien yang kelihatan segar pada saat pertama kali masuk ke rumah sakit tentu peluang sembuhnya lebih besar. Tetapi kalau pasien pada saat awal masuk dalam keadaan parah tentu sulit untuk kesembuhannya. “Makanya kita pesan kepada masyarakat, kalau Anda (masyarakat) punya gejala batuk kering, tenggorokan sakit, demam, riwayat kontak dengan banyak orang, baik sama pasien positif atau prodeble segera periksa. Karena orang sudah suspek saja kita harus hati-hati harus diperiksa,”katanya.

Menurut dr Eka, penyebab angka kasus kematian tinggi, salah satunya disebabkan karena keterlabatan datang ke rumah sakit. Disamping memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Dari jumlah kasus meninggal di NTB, 75 persen pasien lansia. Dari angka pasien lansia yang meninggal itu tercatat 70 persen memiliki penyakit komorbid. “Sehingga sekarang program kita, lansia dengan penyakit komorbid mulai kita screnning dari awal. Saya sudah bersurat ke rumah sakit-rumah sakit ketika ada pasien lansia dengan komorbid langsung rapid. Kita pakai sistem ibu hamil pas datang langsung rapid supaya kita lebih tahu terlebih dahulu sebelum ada tindakan,”tambahnya.

Bahkan kata dr Eka, dengan dilakukan screnning lebih awal, maka jumlah kasus baru bertambah. Namun hal itu dianggap tidak masalah daripada semakin banyak angka kematian. “Lebih baik mana, kasus bertambah tetapi kasus kematian lebih banyak. Kalau saya tidak apa-apa kasus bertambah tapi angka kematian sedikit. Karena dulu kita nomor lima, kemudian nomor empat sekarang kita nomor dua kasus kematian di Indonesia,”tegasnya kembali.

Maka hal tersebut harus menjadi perhatian, sambung dr Eka. Jadi jangan takut kasus bartambah akibat angka pemeriksaan yang banyak. Maka, pihaknya tidak bosan-bosan merubah pola berpikir masyarakat di daerah agar mau diperiksa untuk mendeteksi lebih dini. “Jangan takut kasus bertambah yang penting sembuh. Daripada seperti sekarang, nanti kita tiba-tiba nomor satu kasus kematian,semua bingung. Jadi jangan takut untuk diperiksa,”cetusnya.

Data gugus tugas Provinsi NTB mencatat pada tanggal 13 Oktober 2020, jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB terdapat 51 pasien sembuh, 26 kasus positif baru serta dua tambahan kasus kematian. Maka di NTB saat ini terdapat kasus terkonfirmasi positif sebanyak 3583 orang. Rinciannya 2937 orang sudah sembuh, 208 meninggal dunia dan 438 orang masih positif. (sal)