NTB Masuk Empat Besar Kasus Kematian Pasien Covid-19

dr Nurhandini Eka Dewi (FAISAL HARIS/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Serangan pandemi Covid-19 makin mengkhawatirkan di Provinsi NTB. Bagaimana tidak, daerah pimpinan Gubernur Zulkieflimansyah ini masuk urutan keempat kasus pasien meninggal akibat Covid-19. Padahal, bulan lalu NTB masih bertengger di urutan kelima di Indonesia.

Hal itu disadari Sekda Provinsi NTB, H Lalu Gita Ariadi selaku Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Covid-19 Provinsi NTB. Menurut Gita, kondisi ini dipengaruhi kurangnya tingkat kedisiplin masyarakat. “Kita harus lebih disiplin lagi. Disiplin menggunakan masker, disiplin jaga jarak, jangan hanya nulis-nulis doang, jangan nanya-nanya doang. Jadi sosialisasikan menerapkan protokol Covid-19 harus ditegaskan,” kata Gita.

Data yang dirilis Kemenkes RI terkait 10 provinsi di Indonesia dengan tingkat kematian tertinggi. NTB masuk urutan keempat secara nasional setelah dilakukan pemutakhiran pada pukul tanggal 19 September lalu. Tercatat urutan pertama diduduki Provinsi Jawa Timur dengan tingkat kematian 7,3 persen, Jawa Tengah 6,5 persen, Sumatera Selatan 6,0 persen, kemudian urutan keempat Provinsi NTB dengan tingkat kematian 5,9 persen. Urutan keenam Bengkulu 5,8 persen, Sumantera Utara 4,2 persen, Kalimantan Selatan 4,1 persen, Sulawesi Tengah, 4,0 persen, Kalimatan Timur 3,9 persen, dan urutan sepuluh Kalimantan Tengah dengan tingkat kematian mencapai 3,9 persen.

Gita menyindir, ketika semua pihak sudah tidak lagi menerapkan prokes Covid-19. Maka tentu peningkatan kasus tidak bisa dihindarkan akan selalu meningkat. “Tidak cukup menggunakan mesker saja, tapi physical distancing tidak ada. Terus lama kita kumpul-kumpul itu tidak boleh. Jadi kalau semua itu tidak bisa dihindarkan, ya lama-lama kita innalillahi wainnailaihi rojiun (meninggal) jika tidak mau nurut,” imbuhnya.

Maka upaya yang dilakukan permprov saat ini untuk menekan angka kasus kematian. Dengan penegakan Perda Pemprov NTB Nomor 7 Tahun 2020 tentang penanggulangan penyakit menular yang sudah digecarkan sejak tanggal 14 September 2020 lalu. Tapi angka kasus kematian masih naik, bahkan angka kasus masih cukup tinggi. “Itu perda sudah kita terapkan, ya kita harus semakin disiplin. Ya kan bantu sama wartawan, nanti Pol PP melakukan razia disalahkan sama wartawan,” ungkanya seraya menyalahkan wartawan.

“Yang membangun opini itu siapa? Wartawan. Yang membangun opini building itu wartawan. Wartawan salah melihat, kini menyengsarakan rakyat bukan. Kami sedang bekerja melindungi dan cinta rakyat,” cetus Gita membelokkan pertanyaan wartawan terkait masih tingginya kasus kematian di NTB.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr Nurhandini Eka Dewi juga menyadari angka kasus kematian di NTB berada di posisi keempat secara nasional. Angka kematian ini masih didominasi oleh rentan usia 45 tahun ke atas. Bahkan jumlahkan sampai 70 persen kasus kematian di NTB terjadi pada usia 45 tahun tersebut. “Ya, dari dulu saya sudah bilang orang tua tidak usah jalan-jalan, tidak usah keluar rumah, batasi ketemu orang. Ketemu sama mereka (orang tua), karena orang tua paling rentan. 70 persen kasus kematian di NTB terjadi pada usia 45 tahun ke atas,” bebernya Eka.
Dengan begitu, Eka mengajak semua pihak agar bisa menjaga orang tua untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah. Apalagi tidak mematuhi protokol Covid-19 sangat rentan tertular virus ini. “Jadi mari kita jaga orang tua kita, karena sekarang kita di angka 5,9 persen kasus kematian,” sambungnya.

Meksi angka kasus kematian di NTB berada di urutan keempat secara nasional. Tetapi jumlah kasus positif di NTB masih berada di luar sepuluh besar secara nasional dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Hingga tanggal 23 September, jumlah kasus positif di NTB sebanyak 3.197 orang, dengan perincian 2.499 orang sudah sembuh, 190 meninggal dunia, serta 508 orang masih positif. “Kalau kasus positif kita berada di luar sepuluh besar. Tapi kasus kematian kita itu tinggi dibandingkan dengan jumlah kasus positif kasus kematiannya tinggi,” pungkasnya.
Eka menambahkan, pihaknya terus berupaya menekan kasus kematian yang masih terus terjadi. Salah satunya dengan program percepatan penurunan kasus kematian. Yang sudah dilakukan terutama kepada kasus bayi dan ibu hamil. Hal ini diangkap efektif menekan angka kematian dengan melakukan program screening risiko tinggi lebih awal. “Kan kemarin untuk bayi kita sudah lebih awal melakukan. Untuk ibu hamil dilakukan screening pemeriksaan rapid untuk semua ibu hamil. Sekarang mulai kepada lansia-lansia yang punya risiko kita screnning juga supaya ketemu lebih awal sehingga masih bisa disembuhkan. Jadi kita punya program percepatan penurunan angka kematian,” tandasnya. (sal)