NTB Hanya Dapat Kuota Tambahan Pupuk Subsidi 2 Ribu Ton

ILUSTRASI GUDANG PUPUK UREA

MATARAM—Kondisi stok untuk kuota pupuk bersubsidi jenis urea di Provinsi NTB yang sempat ‘kritis’, akhirnya dipastikan sudah mendapatkan kepastian aman dari Kementerian Pertanian (Kementan) RI. Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Hortikultura (Distan TPH) Provinsi NTB memastikan surat keputusan (SK) untuk penambahan kuota pupuk bersubsidi di NTB sudah disetujui Mentan RI, Selasa (6/12) kemarin.

“Alhamdulillah surat pengajuan realokasi untuk penambahan kuota pupuk bersubsidi sudah ditandatangani SK-nya oleh Mentan hari Selasa ini,” kata Kepala Distan dan TPH Provinsi NTB, Husnul Fauzi, Selasa kemarin (6/12).

Husnul menyebut, dalam SK Mentan terkait realokasi atau penambahan kuota untuk pupuk bersubsidi dalam waktu mendesak baru sebanyak 2 ribu  ton untuk urea. Sementara realokasi atau penambahan kuota untuk pupuk NPK sesuai dengan SK Mentan hanya sebanyak 4 ribu  ton. “Penambahan hanya sedikit dalam waktu mendesak ini. Kita berharap akan ada penambahan lagi dalam waktu dekat ini untuk alokasi definitip,” harap Husnul.

Menurut Husnul, penambahan kuota sebanyak 2 ribu  ton untuk urea dan 4 ribu  ton pupuk NPK akan menambah jatah pupuk subsidi yang sebelumnya masih belum terserap. Kendati realokasi pupuk bersubsidi lebih sedikit dari yang diajukan penambahan, Husnul berharap pupuk bersubsidi yang sudah ada sekarang ini bisa didistribusikan sembari menunggu realokasi penambahan definitif dalam pertengahan Desember 2016 ini.

Selain bisa mendistrbusikan kuota tambahan sebanyak 2 ribu  ton dan sisa kuota yang belum habis terserap di produsen sebanyak 8 ribu  ton, bila ada kuota dari kabupaten yang belum bisa terserap 100 persen, maka diharapkan agar bisa direalokasikan oleh produsen dalam hal ini PT Pupuk Kaltim Cabang Mataram untuk mengalihkan ke kabupaten yang lagi membutuhkan pupuk bersubsidi lebih banyak.

“Saya sudah surati PT Pupuk Kaltim agar kuota kabupaten lain yang belum terserap 100 persen untuk sementara dialihkan kepada kabupaten yang sedang membutuhkan dan sudah akan mulai didistribusikan,” jelas Husnul.

Sementara itu untuk luas areal tanam padi untuk masa tanam November –Desember sudah mencapai 150 ribu hektar atau melampaui target. Untuk target tanam di bulan Oktober sebanyak 6 ribu  hektar terealisasi 9 ribu  hektar. Di bulan November tanaman padi ditarget sebanyak 29 ribu  hektar dan terealisasi 33 ribu  hektar. Sedangkan untuk realisasi tanam Oktober – Maret mencapai 328 ribu hektar dan musim tanam April –September terealisasi 146 ribu  hekar. Dengan demikian realisasi tanam hingga saat ini sudah mencapai 475 ribu hektar.

Sebelumnya Kepala Pemasaran PT Pupuk Kaltim Cabang Mataram, Rochmansyah mengatakan, tingginya permintaan pupuk selama November dan Desember 2016 ini dari petani, menyebabkan kuota untuk pupuk subsidi untuk urea sudah mulai hampir habis. Bahkan kuota yang harus disalurkan selama Januari- Desember 2016 tersisa tingal 8 ribu ton.

BACA JUGA :  Pupuk Langka, Petani Merana

Artinya mengalami kekurangan, jika melihat permintaan dari petani. “Kalau melihat kuota ntuk satu tahun, maka tersisa tinggal 8 ribu ton pupuk bersubisi untuk urea,” Rochmansyah didampingi  Staf Pemasaran PT Pupuk Kaltim Cabang Mataram, Rudi.

Untuk mengantisipasi permintaan petani selama bulan Desember 2016, Rochmansyah meminta pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pertanian Provinsi NTB bersama Dinas Pertanian kabupaten/kota untuk segera bersurat kepada Kementerian Pertanian agar ada penambahan kuota (realokasi) pupuk bersubsidi untuk Provinsi NTB baik itu jenis urea dan NPK.

Pasalnya, kuota selama satu tahun Januari-Desember sebanyak 138 ribu ton yang sudah tersalurkan hingga akhir November mencapai 129 ribu ton. Jumlah pupuk bersubsidi jenis urea yang sudah tersalurkan itu sudah melampaui kuota yang seharusnya didistribusikan hingga November. Dimana sesuai surat keputusan (SK) yang harus disalurkan dari Januari – November itu sebanyak 113 ton, namun sudah melampaui dari kuota, karena bertambahnya luas areal tanaman padi petani secara serentak di musim hujan selama November –Desember.

“Kalau stok pupuk urea bersubsidi itu masih banyak. Tapi kami sebagai produsen hanya menyalurkan sesuai jumlah kuota. Kalau melebihi kuota kami tidak berani. Maka itu, kita minta agar pemerintah daerah mengajukan realokasi ke pemerintah pusat,” jelasnya.

Rudi menambahkan, permintaan cukup tinggi untuk pupuk bersubsidi terjadi selama November yang mencapai 31 ribu ton. Sementara di bulan lainnya berkisar rata-rata 10 ribu ton hingga 11 ribu ton.  Penggunaan pupuk bersubsidi selama November cukup tinggi, karena penanaman padi serentak dilakukan selama musim hujan turun. Terlebih lagi, perengahan tahun hingga Oktober masih terjadi musim kemarau, sehingga tanaman padi masih kurang. “Pupuk subsidi kami salurkan itu harus sesuai dengan RDKK yang tercantum,”  ucapnya.

Ia menyebut, stok pupuk urea hingga saat ini di PT Pupuk Kaltim Mataram masih sekitar 19 ribu ton. Hanya saja dari jumlah itu yang bisa disalurkan untuk kebutuhan pupuk bersubsidi sesuai kuota yang ada hanya tinggal 8 ribu ton. Jumlah tersebut jauh data minimal yang seharusnya tersedia selama Desember ini untuk pupuk subsidi 20 ribu ton. “Kalau di PT Pupuk Kaltim stok tidak ada masalah. Tapi kami tidak bisa menyalurkan kalau kuota untuk subsidi sudah habis,” katanya. (luk)