Noerlan Basak, Si Penyandang Disabilitas yang Jago Lukis Asal Lombok Tengah

Termotivasi Kesmiskinan, Kini Hasilnya Belasan Juta Sebulan

Si Penyandang Disabilitas yang Jago Lukis Asal Lombok Tengah
TUNJUKKAN: Noerlan Basak saat menunjukkan hasil lukisannya yang ikut pameran Mandalika Expo. (M Haeruddin/Radar Lombok)

Kekurangan fisik tidak membuat Noerlan Basak menjalani hidup dengan belas kasihan orang lain. Pria asal Desa Marong Kecamatan Praya Timur ini, membuktikan kemampuan imajinasinya lewat goresan kanvas.


M Haeruddin-Praya


DUDUK dengan ditemani peralatan lukis yang sangat sederhana menjadi aktivitas keseharian yang dilakoni Noerlan Basak. Di tengah keterbatasan fisik yang dimilikinya, kini dia menjadi inspirasi banyak orang. Karena selain pintar melukis, namun dia mampu membuktikan bahwa kekurangan yang dimilikinya bisa dijadikan sebagai semangat untuk lebih baik lagi dalam menjalani kehidupan.

Noerlan Basak menceritakan awal mula dirinya menjadi seorang pelukis. Berawal dari keadaan ekonomi keluarga yang memaksa dirinya hanya bisa mengenyam pendidikan hingga bangku SMP. Saat beranjak dewasa usai tamat di SMP terbuka di kampungnya. Dia kemudian mulai berpikir bagaimana menjalani hidup tanpa membebankan kedua orangtuanya. “Di sana saya berpikir bahwa saya harus bekerja, namun di satu sisi saya hanya tamatan SMP dan hanya bisa menjadi buruh kasar. Di sisi lain saya memiliki badan yang kurang normal. Sehingga menjadi buruh rasanya sangat mustahil. Dari sana awalnya saya menjadi seorang pelukis,” tutur Noerlan saat ditemui di Mandalika Expo, Rabu kemarin (25/10).

BACA JUGA :  Kisah Awaluddin, Tukang Ojek yang Umroh Dengan Menyisihkan Hasil Ojeknya

Ia pada saat itu memang memiliki bakat melukis. Bakat itulah yang terus diasah sehingga sampai dengan saat ini. Dia bisa menghidupi istri dan anaknya dari hasil melukis. ‘’Jadi melukis awalnya karena memang tidak ada pekerjaan. Karena menjadi kuli bangunan rasanya tidak mungkin dengan keterbatasan yang saya miliki saat ini,” ujarnya.

Noerlan kemudian menceritakan pahit manisnya menjalani kehidupan menjadi seorang pelukis. Memiliki keterbatasan fisik ternyata membuat dirinya juga banyak dikucilkan. Bahkan, pernah suatu ketika dirinya ditipu oleh seorang temanya sendiri. Sebanyak 20 lukisanya dibawa oleh pengusaha untuk dibeli, namun hingga kini bayaran lukisan itu tidak kunjung dia terima. “Ditipu pernah dan banyak kisah lainya di tengah keterbatasan yang ada. Namun saya meyakini bahwa keterbatasan yang kita miliki harus dijadikan sebagai penguat untuk menjalani hidup. Jangan sampai merasa rendah diri dan tidak bisa melihat kedepan karena setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihanya masing-masing,” tegasnya.

Dalam melukis, dirinya lebih menonjolkan kehidupan lama yang masih serba primitif. Hal itu dilakukan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terutama generasi muda. Bahwa jangan sampai melupakan sejarah. ‘’Saya melukis biasanya kehidupan di sawah saat petani membawa kerbau. Karena masa itu saya rasakan saat kecil dulu dan saat ini sudah mulai pudar,” ungkapnya.

Dijelaskanya bahwa dengan kondisi saat ini, ia mengaku bisa menghasilkan uang hingga mencapai Rp 15 juta dalam sebulanya. Terlebih, order yang ada semakin hari kian meningkat. ‘’Tapi perlu diingat, bahwa saya mejual karya saya. Jangan sampai orang membeli lukisan saya karena melihat kekurangan saya, tapi betul-betul karena lukisan saya. Saya menolak kalau biasanya ada yang seperti itu,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Cerita Putrasyah, Buruh Mebel yang Putranya Lolos Bintara Polri Tanpa Uang

Kini, banyak hasil karyanya yang tersebar di berbagai daerah. Selain itu, banyak juga di sejumlah hotel yang memajang hasil karyannya. Sehingga dengan apa yang didapatkan saat ini, dirinya semakin optimis jika kekurangan fisik tidak menjadi alasan untuk menjadi orang yang pasrah akan keadaan. ‘’Saya selalu berperinsip bahwa saya bisa mengalahkan orang yang memiliki tubuh normal,” tandasnya. (**)