Nilai Tukar Petani Hortikultura Anjlok

Ilustrasi
Ilustrasi

MATARAM–Nilai Tukar Petani (NTP) Hortikultura di Provinsi NTB pada bulan Juli 2017 kian terpuruk. Harga jual yang semakin anjlok, tak sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan para petani tanaman hortikultura, sehingga dikhawatirkan petani semakin terpuruk dan jatuh miskin.

Hal tersebut berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB yang mencatat NTP Hortikultura di bulan Juli sebesar 89,26. Angka tersebut terus turun merosot setiap bulannya. Berbanding terbalik dengan NTP tanaman pangan, peternakan dan perikanan yang justru berada di atas 100.

“Tanaman hortikultura ini belum bisa angkat kesejahteraan petani, karena harga yang fluktuatif,” kata Kepala BPS Provinsi NTB, Endang Tri Wahyuningsih, Selasa kemarin (1/8).

Endang mengatakan, dari lima sub sektor Nilai Tukar Pertanian (NTP) yang dihitung, hanya sub sektor NTP Hortikultura yang kurang membanggakan. Dimana NTP Hortikultura pada bulan Juli sebesar 89,26 persen atau turun 0,39 persen. Kondisi tanaman hortikultura yang belum bisa mengangkat NTP, karena ketika terjadi panen raya atau produksi melimpah, maka harga akan anjlok.

Berbeda dengan empat sub sektor NTP lainnya, seperti NTP Pangan cukup bagus yakni berada di angka 119,10, NTP Peternakan 119,10, NTP Perikanan sebesar 106,04. Sementara itu untuk NTP Tanaman Perkebunan Rakyat juga masih dibawah 100, yakni sebesar 93,27 atau lebih baik dari kondisi NTP Hortikultura.

Penghitungan NTP menggunakan tahun dasar 2012=100 dimana pada bulan Juli 2017 tercatat Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) sebesar 104,44. Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) sebesar 89,26, Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 93,27; Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 119,10 dan Nilai Tukar Petani Perikanan (NTNP) 106,04. Nilai Tukar Petani Perikanan (NTNP) dirinci menjadi NTP Perikanan Tangkap (NTN) tercatat  115,27 dan NTP Perikanan Budidaya (NTPi) tercatat 91,17.

Secara gabungan, Nilai Tukar Petani Provinsi NTB sebesar 104,44 yang  berarti NTP bulan Juli 2017 mengalami penurunan  0,61 persen bila dibandingkan dengan bulan Juni 2017 dengan Nilai Tukar Petani sebesar 105,06.

Selanjutnya, nilai tukar usaha Pertanian Provinsi NTB yang diperoleh dari hasil bagi antara indeks yang diterima petani dengan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM), pada bulan Juli 2017 tercatat 112,81 yang berarti mengalami penurunan  0,14 persen dibandingkan bulan Juni  2017 dengan nilai tukar usaha Pertanian 112,97.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Husnul Fauzi mengatakan, berbagai upaya terus dilakukan untuk meningkatkan NTP khususnya hortikultura. Salah satunya adalah memberikan pelatihan dan pendampingan untuk mengolah produksi hortikultura menjadi bahan pangan olahan. Selain itu, ada juga pemberian bantuan bagi petani melalui kelompok tani wanita (Kopwan) untuk mesin pengolahan pasca panen.

Sebut saja, mesin olahan pasca panen untuk cabe. Ketika produksi cabe melimpah, sehingga harga anjlok, maka petani bisa melakukan olahan pasca panen dengan berbagai olahan. Seperti sambal kemasan, sambal kering dan lainnya yang memiliki nilai jual lebih bagus dan tahan lama.

“Jangan hanya berpikir hanya cabe segar yang enak untuk dikonsumsi melainkan cabe yang sudah diolah malah lebih awet atau tahan lama untuk disimpan dan harganyapun terjangkau di semua lini,” katas Husnul Fauzi.

Dikatakannya, pengolahan cabai paska panen menjadi sangat penting dilakukan. Terlebih lagi,ketika harga cabai anjlok murah disebabkan produksi yang melimpah. Selain teknologi budidaya, yang tidak kalah pentingnya adalah teknologi pasca panen, agar produk pertanian dapat ditangani dengan baik dan menghasilkan seperti yang diharapkan. Bagaimana memperlakukan produk saat panen dan setelah panen menentukan kualitas dan hasil produk yang dihasilkan.

Untuk itu ada solusi bagi petani dan kelompok tani , dimana pemerintah pusat telah memberikan alat bagi kelompok wanita tani  berupa alat mengolah cabe menjadi tepung cabe atau abon cabe. Hal ini dimaksudkan agar saat harga rendah dapat dipanen dan diolah menjadi tepung cabe dan masyarakat bisa mengkonsumsi tepung cabe tersebut dengan harga yang standar, sehingga harga cabe tidak akan pluktuatif seperti akhir-akhir ini.

“Jika keterampilan petani/kelompok tani terasah dalam memanen, menjemur, mengolah, mengemas, dan mengangkut, maka angka kehilangan hasil atau kerugian biaya produksi, dan produksi akan aman, guna mendukung pengurangan kerugian saat panen,” ucapnya. (luk)