Lola Daryanto, Pelajar Jerman Magang Jurnalistik di Radar Lombok

Liputan Sekaligus Semangati Siswa SMAN 3 Mataram Belajar Bahasa Jerman

MOTIVASI: Ni Luh Lola Daryanto, pelajar Jerman yang magang jurnalistik di Harian Umum Radar Lombok, ketika liputan lapangan, sekaligus memberikan motivasi kepada para siswa SMAN 3 Mataram yang sedang belajar Bahasa Jerman, Kamis (3/10). (abdi zaelani/radarlombok.co.id)

Keinginan Lola Daryanto (19 tahun), pelajar asal Jerman, untuk melanjutkan kuliah di jurusan jurnalistik sangat tinggi. Namun untuk kuliah jurusan jurnalistik di Jerman, salah satu syaratnya, dia harus mengetahui dan memahami seperti apa profesi jurnalistik itu sendiri. Dan syarat itu pula yang kemudian menghantarkan Lola, sapaan akrabnya, untuk datang ke Lombok, dan magang atau belajar kerja jurnalistik di harian Umum Radar Lombok selama seminggu. Seperti apa?

 

—————————————————————————————————

ABDI ZAELANI – MATARAM

—————————————————————————————————

HINGGA Kamis (3/10/2019), Lola terhitung telah empat hari magang di Harian Umum Radar Lombok, untuk belajar kerja jurnalistik. Selama empat hari tersebut, dia selalu ikut liputan lapangan bersama wartawan Radar Lombok secara bergantian, di pos yang berbeda-beda. Mulai dari pos liputan hukum dan kriminal (Hukrim), pemerintahan (Kota Mataram), pendidikan, dan ekonomi.

Selama beberapa hari ikut liputan lapangan, Lola mengaku sangat terkesan dengan kerja-kerja jurnalistik, dan semakin yakin untuk terjun di dunia jurnalistik secara professional di Negara tempat tinggalnya nanti, yakni di Jerman.

Seperti kemarin, ketika Lola meliput bersama Wartawan Radar Lombok yang bertugas di pos pendidikan, tepatnya di SMAN 3 (Smanti) Mataram. Maka kesempatan itu pun dimanfaatkan Lola semaksimal mungkin untuk mengetahui seluk beluk dunia pendidikan di NTB, mulai dari materi pelajaran yang diajarkan, hingga kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang ada. Termasuk kerjasama pendidikan atau program yang sedang di jalin oleh pihak sekolah dengan instansi atau negara luar, untuk pengembangan pendidikannya.

SMAN 3 (Smanti) Mataram, sejak tahun 2008, diketahui telah menjalin kerjasama pengembangan pendidikan dengan Pemerintah Jerman, yakni pada program PASCH Goethe-Institut. Karena itu, kesempatan itu pun digunakan Lola untuk menggali informasi (interview) sebanyak mungkin dari Guru Pembina Bahasa Jerman Smanti Mataram, Evi Rahmawati.

“Saya liputan ke SMAN 3 Mataram tadi, bertemu dengan Guru Pembina Bahasa Jerman, Ibu Evi Rahmawati. Ini pengalaman liputan bersama Radar Lombok yang paling mengesankan dan sangat berharga. Karena sekolah ini ternyata sudah lama menjalin kerjasama pendidikan dengan Negara saya, Jerman. Selain itu, saya juga diminta untuk menyemangati para siswa SMAN 3 Mataram, yang sedang belajar Bahasa Jerman,” tutur Lola.

Kesempatan tersebut, putri pasangan Surya Daryanto dan Renate Hauber ini, juga mengaku sangat senang bisa berkenalan dengan Guru Pembina Bahasa Jerman, dan para siswanya yang sedang belajar Bahasa Jerman. “Saya senang sekali bisa berkenalan langsung dengan para siswa Smanti Mataram,” ujar Lola.

Sementara Pembina Bahasa Jerman SMAN 3 Mataram, Evi Rahmawati, juga mengapresiasi dan berterima kasih kepada Lola, yang mau memberikan pencerahan tentang Bahasa Jerman kepada para siswanya. “Tadi saya ajak Lola langsung berkenalan dengan para siswa di ruangan kelas,” jelasnya.

Dijelaskan Evi, Smanti Mataram menjadi salah satu sekolah di NTB yang bekerjasama dengan Pemerintah Jerman, dalam program PASCH Goethe-Institut sejak tahun 2008 lalu. Dimana salah satu program dari Goethe Institute adalah menyelenggarakan seleksi sertifikat A-2 bagi para siswa untuk menguji kemampuan berbahasa Jerman, termasuk memperoleh kesempatan untuk bertukar pelajar ke Jerman. “Sejak 2008 kita bekerjasama, dan setiap tahun kami selalu mengirim siswa untuk belajar di Jerman melalui seleksi yang ketat,” ucapnya.

Menurutnya, tidak semua sekolah mendapatkan kesempatan kerja sama dengan PASCH-Goethe Institute Jerman ini. Dan di NTB, hanya Smanti Mataram saja yang mendapat kerjasama dari Pemerintah Jerman. “Kami bersyukur atas program ini. Sebab, sudah banyak siswa kami berangkat ke Jerman. Bahkan setiap tahun ada saja siswa kami yang lolos pertukaran pelajar ke Jerman,” kata perempuan berjilbab ini.

Terkait kesiapan para siswa dalam menghadapi seleksi ini, pihak sekolah juga secara intensif mengajarkan bahasa Jerman kepada para siswa, dengan dibimbing oleh guru-guru bahasa Jerman. “Kami menyelenggarakan program secara intensif untuk memperdalam kemampuan berbahasa Jerman para siswa setiap minggunya,” sebut Evi.

Selain menyediakan materi terkini pembelajaran bahasa Jerman untuk para siswa di sekolah mitra, program ini juga menyelenggarakan pelatihan kepada para guru bahasa Jerman. Tujuannya, agar para guru memiliki metode pengajaran dan informasi teraktual, serta kompetensi kebahasaan yang lebih tinggi. Terlebih guru dituntut untuk memiliki peranan yang sangat penting dalam menumbuhkan minat dan motivasi belajar siswa.

Sejak tahun 2008, PASCH telah memberikan beasiswa ke lebih dari 10.000 siswa Sekolah Mitra PASCH dari seluruh dunia, untuk mengikuti kursus remaja internasional di Jerman selama tiga minggu. “Pengalaman dan kesan positif yang didapatkan para penerima beasiswa pada kegiatan tersebut, meraka mampu meningkatkan motivasi pribadi berkompetisi secara global, sebagai hasil dari bertukar pikiran dengan para peserta dari negara-negara lain,” tutur Evi.

“Banyak sekolah menengah di Indonesia yang menjadikan bahasa Jerman sebagai mata pelajaran bahasa asing kedua di sekolah. Program PASCH pun telah memotivasi banyak sekolah untuk ikut menyelenggarakan mata pelajaran bahasa Jerman di sekolahnya,” tambahnya.

Dari sisi siswa, menurut Evi, penguasaan bahasa Jerman memberikan banyak keuntungan. Banyak referensi pada bidang teknik, ilmu murni, ilmu kedokteran maupun ekonomi yang ditulis dalam bahasa Jerman. “Selain itu, negara Jerman merupakan salah satu negara yang banyak diminati sebagai tujuan studi lanjutan. Jerman merupakan salah satu negara tujuan utama studi lanjutan di Eropa, dengan pertimbangan kualitas dan biaya pendidikan,” sebutnya.

Sejak Smanti Mataram bergabung bersama PASCH tahun 2008, hingga saat ini kompetensi guru bahasa Jerman, lebih unggul. “Bahkan banyak calon siswa yang akhirnya memilih sekolah kami (Smanti), karena memiliki pengajaran bahasa Jerman bersertifikat internasional,” terangnya.

Selain itu, PASCH sendiri juga memiliki program bagi para alumninya. “Jaringan PASCH ini memberikan kesempatan kepada para alumni untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang ditawarkan PASCH. Mulai dari konferensi internasional, pemberian beasiswa pra studi sebagai syarat melanjutkan kuliah di Jerman, serta pemberian informasi tentang program PASCH bagi para junior di sekolah,” pungkas Evi. (*)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid