New Normal Memunculkan Pro Kontra di DPRD NTB

H Najamudin Mustofa (dok/)
H Najamudin Mustofa (dok/)
Advertisement

MATARAM–Sejumlah daerah di NTB mulai melakukan  penerapan tatanan kenormalan baru atau new normal di tengah kasus positif Covid-19 masih tetap tinggi.

   Berdasarkan data  Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi NTB  sebanyak 705 orang, dengan rincian 299 orang sudah sembuh, 18 meninggal dunia, serta 388 orang masih dalam perawatan.  Wacana penerapan new normal  sejumlah daerah inipun mengundang pro kontra. Anggota DPRD Provinsi NTB  H Najamudin Moustofa, mempertanyakan dasar pemerintah membicarakan penerapan new normal ditengah angka kasus positif Covid-19 di NTB saat ini. “Pertanyaan kita, apa dasar pemerintah membicarakan masalah penerapan new normal?,”katanya.

 Menurutnya, kebijakan baru ini belum bisa diterapkan dengan melihat kondisi yang ada saat ini. Sebelum berbicara new normal seharusnya pemerintah bisa menjelasakan kepada masyarakat keadaan sebelumnya dan sekarang, sehingga tidak hanya bisa membuat istilah tapi masyarakat tidak mengerti. Jangan hanya mengeluarkan kebijakan tapi masyarakat tidak memahami apa yang akan dikeluarkan pemerintah. “New normal itu boleh dilakukan pemerintah kalau ada perubahan dari fakta sebelumnya. Tapi kalau pemerintah tidak bisa menjelaskan fakta sebelumnya, lalu dia mengatakan new normal maka itu sesuatu yang bertolak belakang dengan kebijakan,”jelasnya.

 Jadi keputusan penerapan new normal itu, sambungnya, harus memiliki dasar. Ketika perubahan kasus positif  yang semakin berkurang mungkin bisa jadi dilakukan. “Maka saya setuju dengan adanya new normal ini dilakukan oleh pemerintah tetapi berdasarkan kajian. Dalam kondisi ini kita minta pemerintah harus jujur, jangan hanya langsung mengatakan new normal, lalu tidak mengacu kepada keadaan kemarin. Kalau masih seperti keadaan kemarin ngapain kita kata new normal,”pungkasnya.

  Berbeda dengan Najamudin, anggota Komisi V DPRD NTB, Akhdiansyah juga mengomentari  kebijakan new normal sudah tepat  dilakukan pemprov dan sejumlah kabupaten/kota di NTB. “Covid-19 lambat laun akan menjadi biasa. Tapi konsep new normal cukup logis sebagai penyanggah soal sosial, ekonomi harus segera diterapkan,”katanya.

Ia menjelaskan,  Covid-19 setidaknya jangan sampai melumpuhkan sendi-sendi utama berbangsa dan bernegara. Maka untuk kontek NTB,  penerapan new normal sudah bisa dilakukan di beberapa tempat dengan melihat skala penyebaran Covid-19, misalkan Dompu dan Bima masuk kategori stabil dan kasus Covid-19  menurun. Indikatornya sejak tanggal  23 Mei lalu sampai sekarang kasus positif menurun dan angka kesembuhan naik. “Kontek NTB, saya setuju dengan Bu Wagub bagi daerah yang skala penyebaran Covid-19 yang rendah selama seminggu terakhir bisa  new normal seperti Dompu dan Bima. Kalau daerah lain saya kira belum siap, mengingat hasil press release kasus yang selalu meningkat jumlahnya,”jelasnya.

 Penerapan new normal di NTB memang tidak serta merta dilakukan serentak.  Penerapannya  harus dilakukan secara bertahap. Dimana pemerintah harus memastikan sarana dan prasana bisa mendukung, terutama dari segi infrastrukturnya yang matang. Serta harus tetap melakukan sosialisasi yang masif dan juga konsistensi terhadap standar operasional prosuder  (SOP) yang sudah ditetapkan dengan dikawal secara ketat. “Kita tidak mau kecolongan, bilapun new normal dipaksakan akan berdampak pada melonjaknya kasus positif, maka harus dipersiapkan dengan matang,”tegasnya.

 Apalagi saat ini, lanjutnya, penyebaran kasus tidak hanya menyasar kepada masyarakat dengan usia dewasa atau lanjut usia tapi cukup tinggi  menyasar kepada anak-anak dan tenaga medis. Hal ini menurutnya menjadi pekerjaan rumah  pemerintah agar bisa melakukan langkah-langkah persuasif dalam menanggulangi lonjakan kasus . “PR NTB saat ini, pertama tangani pandemi yang mewabah dikalangan anak, kemudian tangani ketertularan pada tenaga medis dan tangani daerah zona merah agar tidak semakin menjadi-jadi,”teranynya. (sal)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid