NADI Unggul Tipis dari JODA, Swing Voters Penentu Kemenangan

JUMPA PERS: Para peneliti Polram memaparkan hasil survei Pilkada KLU 2020. (AHMAD YANI/RADAR LOMBOK)

MATARAM-Persaingan Najmul Akhyar-Suardi (NADI) dan Djohan Sjamsu-Danny Carter Febrianto (JODA) di Pilkada Kabupaten Lombok Utara (KLU) berlangsung ketat.

Berdasarkan survei Political Research, and Marketing (Polram) pada 8-12 November 2020, elektabilitas NADI 32,8 persen dan Joda 28,0 persen. Kemudian swing voters atau yang belum menentukan pilihan mencapai 39,2 persen. Adapun margin error survei ini sekitar 4,5 persen dengan responden 500 orang. “Selisih elektabilitas di bawah margin error sekitar 4,5 persen,” kata Peneliti Polram DR Efendi Azhari dalam jumpa pers, Minggu (15/11) kemarin.

Dengan selisih elektabilitas itu, pihaknya belum bisa memastikan siapa kandidat berpeluang unggul dan memenangkan Pilkada KLU. NADI dan JODA sama-sama punya peluang menang dan itu tergantung kelihaian kedua paslon bertarung memperebutkan swing voters. “Swing voter ini harus digarap serius oleh kedua paslon jika mau menang di Pilkada KLU,” tandas Dosen Universitas Mataram ini.

Diungkapkan, NADI dan JODA sama-sama punya pemilih loyal. Mereka sudah menentukan pilihan masing-masing. Pemilih loyal akan sulit untuk berpindah pilihan. Sehingga jika mau memenangkan pilkada, baik paslon, parpol pengusung, dan relawan harus fokus untuk mengerahkan segala kekuatan dan sumber daya politik yang dimiliki untuk menyakinkan swing voters tersebut. “Swing voter jadi penentu kemenangan,” tandasnya.

Ada beberapa kriteria dari masyarakat dalam menentukan dukungan. Di antaranya, kepribadian calon (moral, akhlak dan integritas), ketertarikan terhadap program kerja yang ditawarkan, arahan atau pengaruh dari keluarga terdekat dan lain sebagainya. Sedangkan kriteria paling diharapkan masyarakat di antaranya bersikap adil dan merangkul semua golongan, sederhana dan merakyat, jujur dan bersih dari kasus korupsi, religius dan lain sebagainya.

Banyak pihak mengkhawatirkan politik uang berpotensi marak terjadi di masa pandemi. Tetapi dari hasil survei Polram, politik uang tidak akan menjadi penentu masyarakat menentukan pilihan. Jika ada paslon yang memberikan uang atau barang, sebanyak 71,6 persen pemilih menyatakan menolak menerima. Mereka tetap memilih sesuai hati nurani. Kemudian sebesar 24,4 persen menyatakan menerima tetapi memilih sesuai hati nurani. Sebesar 2,8 persen menyatakan menerima dan memilih paslon yang memberikan lebih banyak uang atau barang. “Sedangkan  sebesar 1,2 persen menyatakan menerima dan memilih pertama kali memberikan uang atau barang,” pungkasnya. (yan)