Museum NTB Kembali Gelar Sekolah Filologika

SEKOLAH FILOLOGIKA: Budayawan NTB, H Lalu Agus Fathurrahman, ketika sedang memberikan materi Filologika kepada para peserta Sekolah Filologika Museum Negeri NTB, Jumat (27/5). (sigitsetyo/radarlombok)

MATARAM—Upaya pembinaan, sekaligus meningkatkan mutu serta kapasitas sumber daya manusia (SDM) permuseuman di Provinsi NTB, Museum Negeri NTB kembali menyelenggarakan “Sekolah Filologika” Angkatan ke-II, yang untuk pertemuan pertama telah dibuka secara resmi, Jumat (27/5/2022).

“Sekolah Filologika kali ini diikuti oleh 23 peserta yang berasal dari beragam profesi di NTB. Mulai dari guru, dosen, media, komunitas pemerhati budaya, LSM, dan lainnya. Para peserta nantinya akan mengikuti Sekolah Filologika yang terbagi dalam 18 kali pertemuan,” kata Kepala Museum Negeri NTB, Bunyamin, S.S. M.Hum, kepada Radar Lombok, kemarin.

Dibukanya kembali Sekolah Filologika tahun ini sambung Bunyamin, karena pihaknya menyadari bahwa keberadaan naskah-naskah kuno yang masih dipegang oleh masyarakat, jauh lebih banyak dibandingkan naskah kuno yang menjadi koleksi Museum NTB.

“Harapannya, tentu setelah lulus mengikuti Sekolah Filologika nanti, peserta memiliki kemampuan untuk membaca, menulis, menerjemahkan, serta merawat koleksi naskah kuno yang ada di masyarakat. Sehingga naskah-naskah kuno yang ada di masyarakat itu tetap terjaga dan terawat. Sekaligus kemampuan filologika itu nanti bisa getok tular di masyarakat,” harap Bunyamin.

Disampaikan Bunyamin, dari sebanyak 7.600 lebih koleksi benda-benda bersejarah yang dimiliki Museum Negeri NTB, tercatat ada sekitar 1.360 koleksi naskah kuno, baik dalam bentuk tulisan di atas daun lontar maupun kertas. “Jumlah ini jauh lebih sedikit dibandingkan naskah-naskah kuno yang ada tersebar di masyarakat, yang mungkin mereka dapatkan dari warisan turun temurun,” ujarnya.

BACA JUGA :  Dekranasda Dorong Museum NTB Menjadi Etalase Identitas Daerah

Karena itu, Museum NTB sebagai instansi yang memiliki Tupoksi pelestarian benda-benda bersejarah, tak terkecuali naskah-naskah kuno. Merasa terpanggil dan peduli untuk menyebarkan ilmu pengetahuan atau kemampuan membaca, menulis dan menerjemahkan naskah-naskah kuno ini melalui pelatihan. Salah satunya dengan membuka Sekolah Filologika, yang pesertanya berasal dari masyarakat.

Senada, salah satu pengajar Sekolah Filologika, H Lalu Agus Fathurrahman, menyampaikan bahwa pelatihan atau pengetahuan tentang Filologika ini sangat penting dimiliki masyarakat. Apalagi Provinsi NTB, khususnya Pulau Lombok ini dapat dikatakan sebagai gudangnya naskah-naskah kuno di Indonesia.

“Sayangnya, meski banyak memiliki peninggalan naskah-naskah kuno. Namun dari sisi sumber daya manusia (SDM), ternyata masih sangat sedikit sekali orang Lombok yang mampu membaca, menulis, atau menerjemahkan naskah-naskah kuno tersebut. Padahal, banyak hal atau sejarah, termasuk pengetahuan luhur warisan nenek moyang masyarakat NTB, yang bisa menjadi pelajaran untuk masa kini dan masa mendatang,” sebut Mamiq Agus, sapaan akrabnya.

Untuk itu, pihaknya sangat mengapresiasi Museum Negeri NTB, yang telah peduli, dan secara berkala menggelar Sekolah Filologika ini. “Memang, dari sisi anggaran pemerintah sekarang ini sangat sulit, karena banyak pemotongan (recofusing) akibat pandemi Covid-19.

Tidak terkecuali anggaran Museum NTB. Sehingga kalau tahun sebelumnya (2021) untuk Sekolah Filologika berlangsung selama 36 kali pertemuan, maka untuk Sekolah Filologika tahun 2022 ini hanya dilakukan selama 18 kali pertemuan,” ujar Mamiq Agus.

BACA JUGA :  Museum NTB Wisuda 15 Peserta Sekolah Filologika

Namun pihaknya tetap mensyukuri, ditengah keterbatasan anggaran, Museum NTB masih tetap memprogramkan Sekolah Filologika ini.

“Untuk itu, kepada peserta agar secara serius mengikuti pelatihan filologika ini sampai tuntas. Sehingga kemampuan yang dimiliki nanti bisa bermanfaat di masyarakat. Karena jujur saja, pengetahuan filologika ini masih sangat jarang, dan hanya orang tertentu saja yang menguasai,” jelas Mamiq Agus.

Harapannya ke depan, akan tumbuh kecintaan masyarakat terhadap budaya membaca naskah-naskah kuno, yang otomatis kelanjutannya akan dapat melestarikan keberadaan berbagai naskah-naskah kuno yang ada di masyarakat, agar tidak punah ditelan masa.

Disampaikan Mamiq Agus, banyak ilmu pengetahuan yang terkandung dalam naskah kuno atau manuskrip di lontar-lontar maupun kertas peninggalan nenek moyang masyarakat NTB. Baik itu yang berisikan tentang sejarah, kehidupan sosial budaya di masa lalu, pengetahuan obat-obatan tradisional (Usada), tradisi pernikahan, makanan tradisional, sampai tata pemerintahan di masa lampau.

“Yang menjadi masalah, kalau masyarakat kita sendiri tidak memiliki kemampuan membaca, menulis atau menerjemahkan naskah-naskah kuno ini. Bagaimana generasi sekarang atau mendatang bisa mengenali leluhurnya sendiri,” ucap Mamiq Agus.

“Jadi sekali lagi kepada para peserta, pesan saya agar betul-betul memerhatikan materi yang diajarkan. Sehingga nanti ilmu yang dimiliki dapat berguna bagi masyarakat, dan demi pelestarian benda naskah-naskah kuno yang merupakan warisan luhur nenek moyang kita,” pinta Mamiq Agus. (gt)