Murid SDN 2 Batu Nampar Belajar di Berugak

Belum Pernah Terima Bantuan dari Pemerintah

Murid SDN 2 Batu Nampar Belajar di Berugak
Siswa SDN 2 Batu Nampar, Jerowaru yang berlajar di berugak, karena bangunan gedung sekolah mereka ambruk rata dengan tanah akibat guncangan gempa bumi beberapa waktu lalu. (JANWARI IRWAN/RADAR LOMBOK)

SELONG Pascagempa bumi yang meluluhlantakan sebagian besar wilayah Pulau Lombok akhir Juli 2018 lalu, sampai kini masih dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Sejumlah sekolah sampai saat ini masih melaksanakan aktifitas kegiatan belajar mengajar di tenda darurat. Seperti kondisi murid SDN 2 Batu Nampar hingga saat ini melaksanakan aktivitas belajar mengajar di tenda darurat dan juga di berugak.  

SDN 2 Batu Nampar, salah satu dari ratusan sekolah yang ada di Pulau Lombok yang mengalami rusak akibat guncangan gempa bumi akhir Juli berkekuatan 6,8 skala richter dan gempa susulan yang lebih besar 7,0 SR yang membuat hancur bangunan SDN 2 Batu Nampar dan rata dengan tanah.  SDN 2 Batu nampar mengalami kerusakan cukup para, sebanyak tiga ruang kelas ambruk yang membuat siswa tidak bisa berlajar di dalam ruang kelas. Sementara 3 ruangan mengalami rusak ringan.

“Sejak gempa itu, ada tiga ruang kelas kita yang rata dengan tanah, sementara tiga kelas lainya hanya mengalami rusak ringan,” kata Kepala SDN 2 Batu Nampar kecamatan Jerowaru Satria kepada Radar Lombok, Rabu kemarin (26/12).

Karena tidak ada ruangan yang digunakan untuk kegiatan belajar murih, maka sekolah terpaksa menggunakan tempat seadanya seperti berugak dan menggunakan kelas darurat yang dibuat dari terpal. Meski hal seperti ini sangat menggangu siswa, namun kondisi ini harus jalani, meski saat ini sudah masuk musim hujan.

Dengan kondisi cuaca yang sudah memasuki musim hujan, Satria berharap kepada pemerintah daerah untuk memberikan bantuan berupa bangunan sekolah darurat yang bisa dimanfaatkan oleh murid pada musim hujan.

“Kalau mengandalkan sekolah yang hanya dibuat dari terpal ini, tentunya tidak akan bertahan lama. Apalagi dimusim hujan, murid tidak akan bisa berlajar,” terangnya.

Jumlah murid SDN 2 Batu Nampar sebanyak 120. Mereka berlajar di tenda – tenda darurat yang kondinya sudah mulai terkelupas akibat panasnya terik matahari. Bahkan pascagempa bumi beberapa bulan lalu, SDN 2 Batu Nampar tidak pernah tersentuh dan mendapatkan bantuan apapun kecuali terpal.

“Saya berharap ada kelas darurat, karena kita tidak tau kapan ruang kelas kami akan di bangun kembali,” bebernya.

BACA JUGA: Kisah Para Guru Guru Honor di Pulau Terpencil Lombok Timur

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur Lalu Suandi mengakui masih adanya siswa-siswa yang belajar di bawah tenda dan juga tempat-tempat darurat lainnya. Kondisi ini tentu saja cukup memprihatinkan. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah membantu pihak sekolah untuk segera membuat sekolah-sekolah darurat.

Dikbud Lotim sebenarnya sudah mengindentifikasi sekolah-sekolah yang dibangunkan kelas darurat dan sudah dimulai pelaksanaannya. Termasuk SDN2 Batu Nampar. Sekolah  yang berada jauh dari perkotaan ini memang salah satu yang terdampak cukup parah akibat gempa.

“Kita sudah memasukkannya dalam daftar sekolah prioritas yang akan mendapatkan bantuan perbaikan dan pembangunan ruang kelas baru,” tutupnya. (wan)