Mulai Jarang Dipakai di Kegiatan-kegiatan Adat

HAMPIR PUNAH : Kesenian rakyat Jaran Kamput yang terancam punah (Dok/Radar Lombok)

Kini kegiatan-kegiatan adat seperti nyongkolan, besunat (khitanan) dan lain-lain, jarang menampilkan parade dan arak-arakan jaran kamput, kuda kayu yang menyimbolkan tunggangan hebat tokoh protagonis dalam cerita wayang Sasak. Seni rakyat ini akan punah kalau tidak ada kepedulian semua pihak, utamanya pemerinah.

 

 


Rasinah Abdul Igit- Giri Menang


 

Seorang bocah berumur 5 tahun begitu gagah menunggang kuda kayu berukuran kecil saat berlangsungnya kegiatan promosi pariwisata di kawasan Senggigi, Kecamatan Batulayar beberapa waktu lalu. Mengenakan pakaian adat plus kaca mata hitam, kuda-kudaan yang ia tunggangi diarak keliling kampung. Si bocah tidak sendirian. Di belakangnya ada 3 kuda yang sama lengkap dengan penunggangnya.  Anak ini dan teman-temannya sedang dimanjakan, sebab besok pagi ia akan dikhitan (sunat). Rasa sakit sehabis disunat nanti dibalas lebih dulu dengan arak-arakan ini.

Dalam tradisi lokal, arak-arakan ini di sebut ngaluq praje. Kuda tunggangan dihias sedemikaian rupa sehingga tampak meriah dan ramai. Ini juga bermaksud memberi nuansa kemeriahan demi membantu anak siap menghadapi waktu sunat secara psikis. Arak-arakan melewati satu atau dua kampung sebagai bentuk pengumuman bagi msyarakat.

Mereka sedang menikmati seni rakyat  Jaran Kamput, satu dari sekian kesenian yang hampir punah.  Kuda-kudaan ini dipikul oleh 4 sampi 6 orang  lengkap dengan musik tradisional sebagai pengiring. Irama musik membimbing mereka menari dengan lincah. Jaran Kamput tergolong kesenian rakyat  yang berumur lama. Dahulu, ini semacam permainan kecil yang dilakukan abdi kerajaan untuk menghibur putra-putri raja sebelum melaksanakan kegiatan-kegiatan ritual. Karena ini tunggangan istimewa, kuda kayu  tidak dimainkan sembarangan.

Beberapa versi legenda menyebutkan, Jaran Kamput adalah perwujudan Sekardiu, hewan tunggangan Jayangrana, sosok protagonis dalam cerita pewayangan Sasak. Dalam ceritanya, Jayangrana memiliki kendaraan sakti bernama Sekardiu yang digambarkan dalam bentuk makhluk aneh dan tampak seperti Kuda, Singa dan Naga.

“ Dulu kegiatan perkawinan, nyongkolan, besunat, tidak lengkap kalau tidak ada tampilan seni ini. Sekarang sudah tidak lagi, kelompok seninya saja jarang,” ungkap Ratimah, perwakilan kelompok Jaran Kamput asal Karang Bayan, Lingsar.

Sepi peminat tidak lantas membuat kesenian ini langsung mati. Kelompok-kelompok seni yang masih aktif banyak dapat undangan kegiatan-kegiatan resmi pemerintah terutama kegiatan-kegiatan promosi pariwisata. Sekardiu tidak saja ditunggang anak kecil, melainkan juga laki-laki dewasa.

Di kelompoknya, Ratimah memiliki tiga pasang Jaran Kamput yang biasa dimainkan jika ada kegiatan-kegiatan tertentu. Order tidak lagi seramai dahulu.Kesenian ini digantikan oleh sejumlah kesenian modern yang dianggap lebih sesuai dengan perkembangan zaman.(*)