Muktamar, Momen Menyatukan Gerakan NWDI Berkelas Internasional

Samianto
Samianto

JAKARTA  – Gaung Muktamar NWDI membahana menyapa ruang Nusantara. Ini semua tidak lepas dari banyaknya abituren (alumni) dan pencinta Maulana TGH KH M Zainuddin Abdul Madjid yang terus menyambungkan informasi muktamar.

“Gaung ini menghiasi laman media sosial semisal IG, facebook, twitter,” ujar Ketua PD NWDI Jakarta Barat Samainto M , Rabu (12/1).

Kalau melihat sejarah, Muktamar NWDI kali ini menjadi sangat menarik, mengingat NWDI sebagai madrasah yang lahir jauh sebelum kemerdekaan tepatnya di tahun 1936 dan diresmikan pada tahun 1937.

“Perlu pembahasan mendalam sehingga muktamar yang diadakan sekarang ada kaitannya lansung walaupun sebagai organisasi baru berumur satu tahun,” tegasnya.

Sebagai wadah organisasi perkumpulan NWDI bertekad menata diri untuk tumbuh berkembang menjadi organisasi moderen, terbuka, profesional.

Semua ide dan gagasan untuk kemajuan organisasi disuarakan bersama menyatukan pikiran, langkah dan gerakan membangun NWDI yang profesional bermartabat, unggul berkelas internasional. Sejalan dengan pidato awal TGB, kata Samainto, organisasi NWDI didirikan sebagai wadah berkumpul yang bersifat organisasi terbuka, moderat, profesional dan moderen, adanya pendelegasian.

“Ini adalah antitesa dari roh perjuangan Maulana baik dari organ NBDI maupun NW karena NWDI adalah induknya. Untuk selalu mengenang para pendahulunya,” tuturnya.

Ia menegaskan, memaknai sejarah harus terus berkesinambungan. Hal itu penting agar sanadnya tidak terputus. Sebagai sebuah cerita sejarah yang akan dikenal generasi penerus. Karena itu, perlu perumusan bentuk agar muktamar ini adalah melanjutkan dan melengkapi NWDI yang berdiri di tahun 1936 sehingga ada keterkaitannya baik sebagai wadah pendidikan maupun wadah perkumpulan.

BACA JUGA :  Kesepakatan NW-NWDI Dipersoalkan

“Muktamar kali ini menyempurnakan atau sebagai rentetan acara dari tahun 1936 yang baru dilaksanakan tahun ini, boleh jadi karena kekurangan kelengkapan organisasi dan kondisi kebangsaan saat itu yang masih belum stabil akibat kolonialisme,” kenangnya.

Muktamar NWDI pertama ini melanjutkan NWDI 1936 harus di maknai sebagai ajang silaturrahiem nasional, menata organisasi, serta mengokohkan semangat kebersamaan antara semua pengurus, abituren dan pencinta Maulana. Merumuskan agenda-agenda keummatan dan kelembagaan yang revolusioner. Menguatkan lembaga ekonomi, pendidikan dan pemberdayaan pengurus serta anggota sehingga memiliki skil keterampilan sebagai bekal mencari penghidupan.

Menurutnya, model rancang bangun organisasi ke depan dibutuhkan produktivitas organisasi. Pengurus harus terus berinovasi melahirkan kebaruan, gagasan dan ide serta lompatan kerja. Mengingat hari ini dan ke depan, sudah masuk dalam era teknologi. Organisasi dituntut untuk kerja cepat dan terampil dalam mengelola informasi, terutama dalam ikut serta berkonstribusi melahirkan gerakan ekonomi sosial.

“NWDI sebagai organisasi modern harus dapat meletakkan kader untuk menduduki kepengurusan yang memiliki kecakapan dan keahlian di bidangnya dari semua unsur, wilayah, dan dari latar belakang yang berbeda,” harapnya.

BACA JUGA :  TGB Kembali Nakhodai NWDI

Dengan demikian NWDI akan dapat melakukan lompatan kerja dalam memajukan organisasi terlebih saat ini dunia sudah sangat terbuka dan kompetitif. Ia menilai, arah baru gerakan organisasi NWDI sudah meninggalkan politik kekuasaan menuju politik kesejahteraan. Karenanya orientasi NWDI harus bisa menangkap sinyal perubahan tersebut.

“Jika tidak organisasi hanyalah lambang tanpa mampu berbuat banyak untuk ummat dan bangsa yang pada gilirannya akan musnah ditelan zaman,” paparnya.

Namun semua akan terwujud dengan kemauan dan visi besar organisasi dan akan selalu hidup serta mampu melakukan konsolidasi sehingga dirasakan kemanfaatannya oleh anggota serta menebar kemaslahatan dan kesejahteraan. Organisasi yang demikian akan senantiasa hidup terlebih mampu merangkul semua anak bangsa untuk dapat duduk berbaur bersama dalam wadah NWDI yang utama berada dalam satu mazhab ahlussunah wal jamaah.

“Dengan demikian cita cita membangun NWDI yang moderen, moderat, profesional dan terbuka menjadi nyata bukan hanya selogan kosong. Selamat bermuktamar para delegasi hebat harapan nusa bangsa untuk kemajuan dan peradaban baru Indonesia mercusuar dunia,” harapnya. (luk)