Miris, Pelatda Mayung Terpaksa Dibubarkan Sementara

Pemprov NTB Harus Bersikap

Pelatda Mayung
LATIHAN: Inilah atlet binaan Pelatda yang terpaksa dibubarkan sementara. (NASRI/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Olahraga NTB mulai mendunia karena prestasi atletnya. Namun justru datang kabar mengejutkan dari Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda), yang terpaksa bubar hingga batas waktu yang tidak ditentukan, lantaran anggaran sebesar Rp 3 miliar yang dijanjikan tidak kunjung cair.

“Kalaupun misalnya yang 3 miliar itu cair, pemanfaatannya hanya akan cukup sampai bulan Mei ini saja. Makanya lebih baik para atlet kita rumahkan dulu sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” kata Tim Satlak Pelatda Mayung, Hari Gunawan, belum lama ini.

Peristiwa pembubaran sementara buat atlet Pelatda ini terjadi pada Rabu (29/5) lalu. Kegiatannya dirangkaikan dengan diskusi dan buka bersama. Atas keputusan tersebut, tidak sedikit membuat para pihak prihatin. Bahkan atas keadaan ini, olahraga NTB menjadi miris.

BACA JUGA: Sapwa Berjibaku Rebut Limit PON dan Olimpiade 2020

Pasalnya, NTB saat ini sudah gembar gembor target 17 emas di PON Papua 2020 mendatang. Namun dengan kondisi Pelatda yang terlanjur dibubarkan ini, beberapa pihak mulai ragu dengan raihan tersebut.

Pembinaan Pelatda yang diinisiasi KONI NTB tersebut, sedianya sudah berlangsung sejak 2010 silam. Namun, tahun ini dinilai kondisinya paling parah, terutama mengenai keuangan. Sehingga sejumlah pihak yang terlibat dalam Pembinaan Pelatda, seperti Tim Satlak, Tim Satgas, hingga pelatih sepakat kalau Pelatda dibubarkan sementara.

“Mau tidak mau, atlet harus kita rumahkan sementara. Ini sudah jadi solusi terakhirnya,” beber Hari.

Sementara itu, Ketua KONI NTB H Andy Hadianto mengungkapkan, cara ini memang terkesan lemah dan tidak bertanggung jawab. Tapi inilah cara untuk sama-sama memperlihatkan sebuah tanggung jawab tersebut.

Andy pun menyampaikan kepada para atlet dan pelatih bahwa para atlet Pelatda Mayung untuk sementara dipulangkan dan dikembalikan dulu ke daerah masing-masing. Ini dikarenakan keterbatasan dana yang dimiliki oleh KONI NTB.

BACA JUGA: Berlaga ke China, Zohri Tidak Bisa Mudik

Meski demikian, bukan berarti prihal persiapan menuju Pra-PON dan PON diabaikan juga. Baginya, pelatih beserta atlet pasti memiliki tanggung jawab besar. Sehingga, yang ditunggu sementara ini adalah sikap pemerintah. Artinya, bagaimana kemudian para pihak mengatasi kondisi yang terjadi saat ini.

“Kita tidak lepas tanggung jawab, kita juga bukan berarti tidak mau tau dengan atlet Pelatda. Tapi kita ingin ada sikap dari pihak terkait,” ujarnya.

Tak hanya itu, beban 17 emas dinilai tidak sejalan dengan anggaran yang disediakan pemerintah. Bagaimana tidak, anggaran yang awalnya disetujui Rp 5 miliar, tiba-tiba berubah menjadi 3 miliar. Itu pun dananya sampai saat ini belum kunjung cair.

“Kita berharap diberi lebih, agar atlet dan pelatih semangat. Malah dikurangi, dan bahkan sampai saat belum kunjung cair,” katanya.

Namun bagaimanapun juga, karena pihaknya sadar bahwa keberhasilan atlet adalah kewajiban, Andy bertekad bakal mengupayakan supaya apa yang menjadi persoalan saat ini bisa segera teratasi.

“Tapi bagaimanapun juga kita harus tetap semangat, dan tentunya memperjuangkan apa yang menjadi kewajiban kita ini,” tutupnya. (rie)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid