Minim Pembinaan, Bertarung untuk Mencukupi Kebutuhan Hidup

SIAP : Pepadu siap bertanding saat berlangsung event peresean di Kecamatan Labuapi Lombok Barat belum lama ini Rasinah Abdul (Igit/Radar Lombok)

Pertarungan bukanlah untuk mengasah dendam, tetapi mengikat erat tali kekerabatan yang putus. Sikap jantan para pepadu mengajarkan tentang makna ksatria sesungguhnya. Lebih dari itu, sebagian besar pepadu memenuhi undangan bertanding hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

 


Rasinah Abdul Igit_LOBAR


 

Di Dusun Penarukan Daye Desa Kebon Ayu Kecamatan Gerung, selama sebulan (dimulai sejak seminggu yang lalu) dilangsungkan event olahraga rakyat, peresean.  Setiap hari peresean dimulai sekitar pukul 16.00 Wita hingga pukul 18.00 Wita. Panitia mematok harga karcis Rp 10 ribu per orang. Dana yang terkumpul dipakai untuk pembangunan masjid setempat.

Setiap hari ada saja pepadu terkenal yang tampil. Besok misalnya, panitia menjanjikan kehadiran Anto, pepadu asal Lombok Tengah yang populer dengan julukan selaq marong. Ya, Anto menjadi magnet penonton bersama bintang-bintang lainnya seperti Haji Rizal dan lain-lain. “ Peresean sejak kelas empat sekolah dasar. Sebisa mungkin memenuhi undangan peresean dimana saja. Lumayan hadiahnya untuk mencukupi kebutuhan hidup,” ungkap Anto, usai bertanding di wilayah Lombok Barat belum lama ini.

Kondisi hidup selaq marong adalah paradoks dalam tradisi peresean. Di Lombok Barat sendiri ada banyak pepadu hebat. Desa Kebun Ayu, tempat Anto akan tampil besok, dikenal punya banyak pepadu sejak dulu. Pepadu-pepadu setempat kini bernaung di bawah kelompok resmi yang dibentuk sejak tahun lalu.“ Tidak ada peresean kalau tidak ada pepadu. Pemerintah harus memperhatikan mereka, ekonomi mereka seperti apa. Jangan hanya menjual peresean sebagai produk jualan pariwisata, tapi tidak menopang hidup pepadunya,” ungkap Saini, seorang penonton peresean kepada koran ini kemarin.

Hampir semua pepadu di Kebon Ayu bekerja sebagai buruh kasar. Sekali bertarung, kalah atau menang, pepadu biasanya mendapatkan hadiah berupa uang tunai antara Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu, tergantung besar kecilnya event dan sponsor yang membekingnya. Jumlah ini terlalu kecil untuk menghargai semangat pelestarian kebudayaan mereka, juga terlalu kecil untuk keringat dan resiko yang dihadapi.“ Pepadu ini sama dengan atlet olahraga lain. Kalau mereka sejahtera, ya kita juga harus sejahtera,” ungkap Sah, seorang pepadu dengan luka rotan yang melingkar di pinggang sebelah kirinya.

Masyarakat Lombok masih melestarikan olahraga tradisional yang tergolong ekstrim bernama peresean. Dua laki-laki tangguh menguji kejantanan mereka dengan bertarung menggunakan senjata rotan dan perisai dari kulit sapi. Arena pertarungan sudah ditentukan. Kedua pepadu saling pukul, menangkis, berkelit ke kanan-kiri untuk menghindari pukulan.

Di beberapa kampung, peresean digelar saat musim kemarau melanda. Harapannya, Tuhan menurunkan hujan untuk kesuburan tanaman mereka. Peresean dimulai saat matahari bersiap tenggelam di ufuk barat. Dua orang pekembar (baca: juri) menunjuk dua pemuda yang akan diadu. Sambil menari-nari, pekembar menjemput pepadu dan menggiring mereka ke tengah arena.

Bagian kepala dan pinggang adalah dua lokasi yang paling banyak ‘diincar’. Pepadu dinyatakan KO jika bagian kepala mengeluarkan darah. Pertarungan akan dihentikan seketika. Dalam peresean, haram hukumnya memukul badan bagian pinggang ke bawah. Sasarannya hanya kepala, pundak dan bagian punggung. Jika salah satu pepadu bisa memukul bagian kepala, maka skor yang didapatkan paling tinggi. Apalagi bila kepala lawan sampai mengeluarkan darah.(*)