Menko Airlangga: Pemerintah Mempercepat Realisasi Program Peremajaan Sawit Rakyat

Industri Sawit Berperan Entaskan Kemiskinan dan Ciptakan Lapangan Kerja Bagi 16 Juta Pekerja

Airlangga Hartarto

SIAK–Industri kelapa sawit nasional tercatat turut berkontribusi terhadap PDB nasional sebesar 3,5%, serta berperan dalam mengentaskan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja bagi lebih dari 16 juta pekerja.

Mengingat pentingnya kelapa sawit bagi perekonomian nasional, maka Pemerintah terus berupaya untuk mempercepat realisasi program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) atau replanting dengan berbagai kebijakan salah satunya dengan mendorong bentuk kerjasama strategis multipihak.

Program PSR merupakan salah satu Program Strategis Nasional sebagai upaya Pemerintah dalam meningkatkan produktivitas tanaman perkebunan kelapa sawit nasional yang saat ini rata-rata sebesar 3-4 ton/hektare dan umur tanaman diatas 25 tahun.

Pelaksanaan program PSR dengan penggunaan bibit unggul dan penerapan Good Agriculture Practice (GAP) akan meningkatkan produksi kelapa sawit tanpa harus melakukan pembukaan lahan baru, sehingga dapat meningkatkan pendapatan pekebun rakyat secara optimal.

Program PSR ditargetkan dari tahun 2020-2022 untuk lahan seluas 540 ribu hektare dan didukung pembiayaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) sebesar Rp30 juta/hektare untuk maksimal lahan seluas 4 hektare/pekebun.

“Program PSR yang hari ini kita laksanakan adalah upaya kita untuk mewujudkan target dan keberlanjutan program tersebut. Diharapkan penanaman di kebun-kebun rakyat  lainnya akan dilanjutkan,” ucap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam sambutannya di acara Penanaman Perdana program Peremajaan Sawit Kemitraan Strategis dengan tema Semangat Kemitraan Strategis untuk Percepatan Program Sawit Rakyat yang berlangsung di Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak, Kamis (24/02).

BACA JUGA :  Airlangga dan Cak Imin Jalan Pagi Bersama, Ada Apa?

Ketentuan kemitraan yang telah dirancang selain untuk mempercepat pelaksanaan PSR, sekaligus bertujuan untuk memastikan kualitas kebun sawit rakyat akan tumbuh dengan kualitas yang sama dengan kualitas kebun perusahaan mitranya.

“Perusahaan mitra diharapkan bertanggung jawab untuk membantu pekebun membangun kebun sawitnya dengan kualitas minimal sama dengan kebun mitranya atau bahkan lebih baik dengan memanfaatkan teknologi yang terkini serta memastikan aspek keberlanjutan baik dari segi ekonomi, sosial, dan lingkungan,” jelas Menko Airlangga.

Sementara itu dari sisi pembiayaan, Pemerintah juga menyediakan dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga yang disubsidi dan grace period selama 5 tahun.

Dengan dukungan tersebut, pekebun membayar cicilan setelah tanaman sawitnya menghasilkan. Menko Airlangga juga secara simbolis menyerahkan KUR dari berbagai bank penyalur seperti BNI, BRI, BPD Riau, Bank Syariah Indonesia, dan Bank Sinarmas Syariah.

Pada kegiatan tersebut, replanting dilaksanakan untuk kebun kelapa sawit milik 1.233 petani swadaya dengan total lahan seluas 2.844 hektare yang tersebar di 16 desa. Skema kemitraan ini melibatkan Sinar Mas Agribusiness and Food sebagai perusahaan inti dengan 16.361 petani plasma.

BACA JUGA :  Menko Airlangga: Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Kedepankan HAM

Jenis bibit yang digunakan adalah DXP Dami Mas dengan produktivitas mencapai 25-30 ton TBS/hektare. Khusus pada tahun 2022 ini, Sinar Mas Agribusiness and Food menargetkan 1.300 hektare lahan petani swadaya.

Kegiatan penanaman perdana PSR melalui kemitraan strategis ini juga diikuti dengan  penandatanganan kerjasama atau MoU Percepatan PSR antara PT Sinarmas dengan 3 pihak Gapoktan Pandan Jaya, pengukuhan Dewan Pimpinan Pusat Sawitku Masa Depanku (DPP SAMADE), dan penandatanganan MoU antara SAMADE dengan BPDP-KS.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan secara simbolis mesin lidi sawit melalui CSR PT Karunia Prima Nastari kepada Koperasi Unit Desa (KUD) dan Asosiasi SAMADE.

Sebagai informasi, lidi sawit merupakan produk hilir tambahan dan berpotensi untuk diolah menjadi produk kerajinan yang dapat di ekspor. Selain menjaga lingkungan dengan mengurangi limbah, juga dapat menambah pendapatan para petani sawit.

Turut hadir dalam acara tersebut diantaranya Wakil Menteri Perdagangan, Anggota DPR RI, Gubernur Provinsi Riau, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian, Bupati Kabupaten Siak, Perwakilan BPDP-KS, Direktur Sinarmas Agro Resources and Technology, Direktur Bank Rakyat Indonesia, dan Ketua Umum Asosiasi SAMADE. (*/gt)