Menjelajah Keindahan Air Terjun Bale Dalem Sambelia

Lelah Perjalanan, Sebanding dengan Keindahannya

AIR TERJUN BALE DALEM
AIR TERJUN BALE DALEM (DIAN FOR RADAR LOMBOK)

Kabupaten Lombok Timur (Lotim), memang sangat kaya dengan potensi pariwisata. Hanya saja, banyak diantaranya yang belum terekspose, atau dikelola dengan maksimal. Salah satunya adalah Air Terjun Bale Dalem di Kecamatan Sambelia.


SIGIT SETYO – LOMBOK TIMUR


UNTUK mencapai destinasi wisata yang masih baru dan tentunya masih sangat alami ini, bukan hal yang gampang, dan sudah pasti penuh perjuangan. Bagaimana tidak, lokasi yang hendak didatangi ini, akses jalan menuju lokasi masih belum ada, dan pengunjung juga harus melewati hutan, dan aliran sungai yang cukup panjang. Bahkan harus menginap di perjalanan.

BACA JUGA :  Pantai Pink Masuk 7 Kategori Pantai Terunik di Asia

Namun itu tidak menghalangi Dian Andayani, seorang pencinta alam asal Kota Mataram, yang bersama tiga rekannya, bertekat kuat untuk berkunjung ke air terjun Bale Dalem, yang konon sangat indah, karena memang belum terjamah.

“Awalnya saya browsing di media sosial, dan mendapatkan informasi kalau ada air terjun di Sambelia yang sangat indah, Bale Dalem. Kemudian saya mencari-cari informasi lagi, dan akhirnya bertemu, serta berkenalan dengan Aulia Zakaria di Facebook, salah satu anggota Pokdarwis (kelompok sadar wisata) setempat yang sedang berjuang untuk mengeksplorasi air terjun Bale Dalem, agar bisa menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi para wisatawan,” kata Dian, kepada Radar Lombok, Rabu kemarin (1/11).

Dari komunikasi intens yang dilakukan dengan Aulia, akhirnya Dian bersama tiga rekan petualang lainnya berangkat ke Sambelia, Lotim, untuk mengunjungi air terjun Bale Dalem. Lokasi pertama yang dituju, yakni sebuah warung kopi milik Inaq Sifa, tempat biasa pemuda-pemuda Sambelia berkumpul.

“Usai bertatap muka langsung dengan Aulia, dan rekan-rekannya anggota Pokdarwis Sambelia. Perjalanan kami menuju air terjun Bale Dalem akhirnya ditemani oleh dua pemandu wisata setempat, Bapak Pandi dan Tuaq Mizi,” jelas Dian.

Setelah menitipkan kendaraan di rumah Aulia sambung Dian, maka petualangan dengan berjalan kaki pun dimulai. Perjalanan diawali dengan melewati ladang-ladang milik masyarakat yang digarap secara berkelompok. Digarap berkelompok, karena pada musim kemarau, daerah ini selalu terkendala dengan air untuk pertaniannya.

Tim petualangan yang solid, dengan guide yang profesional, ditambah selama perjalanan selalu diwarnai canda dan tawa, membuat perjalanan panjang yang dilalui, serasa tidak melelahkan.

“Berkali-kali kita harus melewati aliran sungai, tepatnya 19 kali kita menyeberangi sungai basah berair jernih, dan 2 kali sungai kering yang dipenuhi bebatuan. Sementara pemandangan sekitar terlihat hutan lebat yang sangat eksotis, yang merupakan ciri khas hutan Sambelia, dengan pohon-pohonnya yang tinggi menjulang,” papar Dian.

Sepanjang rute perjalanan menuju lokasi air terjun Bale Dalem, agar para pengunjung tidak tersesat, masyarakat sengaja memberikan tanda atau kode berupa tumpukan batu-batu dua atau tiga tingkat di setiap sudut atau kelokan, baik ketika hendak menyeberang sungai, masuk hutan, atau keluar hutan.

“Karena jalurnya yang masih alami, melintasi hutan, bahkan menyeberang sungai berkali-kali. Para pengunjung air terjun Bale Dalem kami sarankan untuk tetap menyertakan para guide lokal, yang tentunya sudah sangat berpengalaman di jalur tersebut,” saran Dian.

Para guide lokal ini sehari-hari selain bertani, mereka juga mencari madu di hutan. “Jadi, kalau ada pengunjung air terjun Bale Dalem yang kebetulan ditawari madu oleh masyarakat setempat, dengan harga yang telah ditentukan. Sebaiknya jangan ditawar kalau memang berniat membeli. Karena usaha yang dilakukan untuk mencari madu itu memang sepadan dengan harga jualnya,” ucap Dian.

Kembali ke perjalanan menuju lokasi air terjun Bale Dalem yang seharusnya dapat ditempuh selama 4 jam perjalanan kaki. Namun karena sebagian pesertanya adalah perempuan, maka perjalanan ke lokasi akhirnya harus ditempuh selama 6 jam.

“Tapi tenang saja, selama perjalanan banyak kok spot-spot yang indah untuk selfie (swafoto), mengabadikan perjalanan yang walaupun sangat melelahkan, namun penuh dengan keindahan,” tutur Dian.

“Di perjalanan, ada satu tempat yang sangat indah untuk diabadikan. Namanya “Sangkat Belampor”, tempat ini berupa sungai yang di sebelah kanannya menjulang tebing yang sangat tinggi, dengan tekstur bebatuan yang khas. Bahkan di salah satu ujung tebing, juga ada sarang lebah, sehingga menambah daya tarik alaminya,” sambung Dian.

Sekitar pukul 16.30 Wita, Dian dan ketiga rekannya tiba di air terjun Bale Dalem. “Sungguh saya tidak bisa berkata-kata lagi. Semua terlihat sangat indah sekali. Suara dahsyat aliran air terjun yang jatuh di ketinggian, ditambah dengan kicau burung dan ayam hutan di sekitarnya. Alhamdulillah, puji syukur kupanjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan ijin kepada saya untuk melihat dengan mata yang dianugrahkan oleh-Nya,” ucap Dian bersyukur.

BACA JUGA :  Promosi Pariwisata Daerah Masih Nihil

Tak terasa, hari semakin gelap. Kedua guide lokal yang menyertai Dian dan ketiga rekannya itu pun segera menyiapkan lokasi untuk berkemah. “Perjalanan ke air terjun Bale Dalem memang harus menginap, karena kalau dipaksakan untuk kembali hari itu juga, maka perjalanan malam melalui hutan yang masih lebat, ditambah menyeberang sungai, tentu akan sangat berbahaya,” jelas Dian.

Baru keesokan harinya, Dian dan rekan-rekannya berangkat pulang, dengan membawa sejuta kenangan indah. “Lelah perjalanan, serasa tidak berarti ketika kita melihat keindahan alam ciptaan Tuhan. Bagaimana rekan petualang, anda berani mencoba bertualang ke air terjun Bale Dalem? Saya bisa, dan kalian pasti juga bisa,” pungkas Dian. (*)