Menikmati Keindahan Embung Aik Bual Lombok Tengah

Desa Aik Bual adalah desa paling utara di Kecamatan Kopang Lombok Tengah. Di sini ada embung yang tidak hanya punya fungsi irigasi, tetapi juga pariwisata. Banyak pengunjung yang datang menikmati keindahan embung, termasuk menikmati suasana desa setempat secara keseluruhan. Agar lebih bagus, destinasi ini butuh sentuhan konsep agrowisata.

 


Rasinah Abdul Igit—LOTENG


 

Ada sejumlah destinasi utama di Lombok Tengah bagian utara. Sebut saja air terjun Benang Stokel dan desa adat Mas-Mas Kecamatan Batukliang. Sejak beberapa tahun terakhir, Pemkab Lombok Tengah secara resmi membuka jalur pendakian Gunung Rinjani lewat kawasan hutan sekitar destinasi ini.

Embung Aik Bual sendiri jarang mendapat perhatian. Embung ini berada di Desa Aik Bual, desa paling ujung utara Kecamatan Kopang. Sebelum tahun 2010, desa Aik Bual masuk Desa Waja Geseng yang merupakan desa perbatasan dengan wilayah Lombok Timur. Hawa di Aik Bual sangat sejuk, maklum dekat dengan kawasan hutan. Begitu sampai desa ini, ada plang penunjuk ke arah embung.

Areal embung sekitar 2 hektar.  Air embung berasal dari mata air areal hutan di sebelahnya. Ini adalah hutan lindung. “ Jadi kalau hutan ini gundul, ya air embung tidak akan ada lagi. Hutannya dihuni banyak monyet. Kadang kawanan monyet mendatangi pemukiman kita,” ungkap Mastur, salah seorang pemuda Desa Aik Bual kepada Radar Lombok belum lama ini.

Mastur berkeinginan kuat terus memperkenalkan objek wisata desanya ini agar semakin terkenal. Saat ini pengunjung yang datang memang sebatas wisatawan lokal. Embung dilengkapi dengan tiga unit berugaq permanen, areal parkir sederhana dan musala. Pengunjung ramai pada hari Minggu dan hari libur lainnya. Sebagian warga setempat memanfaatkan kedatangan pengunjung dengan berjualan makanan dan minuman.

Jika hanya mengandalkan pemandangan embung, pariwisata Aik Bual tentu lambat laun ditinggalkan pengunjung. Mastur menjelaskan, setiap tahun di tempat ini ada event bekerase yang diisi dengan sejumlah kegiatan diantaranya lomba mancing. Lomba mancing diikuti ribuan orang. Embung juga menjadi tempat rekreasi air. Pengelola menyiapkan kano yang bisa disewa pengunjung. Wisata Embung dikelola oleh warga desa. Sebagian fasilitas juga dibangun memanfaatkan dana desa (DD).

Kawasan hutan dekat embung juga terkesan belum ada sentuhan. Misalnya belum ada jalan bagus menembus tengah hutan agar pengunjung bisa mengeksplor keindahan hutan. Saban tahun hutan ini menjadi lokasi kemah mahasiswa pecinta alam beberapa perguruan tinggi di Mataram.

Agrowisata adalah pariwisata berbasis pertanian perkebunan dan kehutanan. Dalam bayangan Mastur selaku salah seorang pengelola pariwisata, pengunjung bisa datang ke Aik Bual dan bisa menikmati banyak menu berupa pemandangan embung, pemandangan hutan. Mereka juga bisa memetik buah langsung di hutan, juga bisa menikmati suasana persawahan yang asri. “ Cuma ini kan ranah pemerintah daerah untuk memikirkannya,” tambahnya.

Terakhir, warga ingin menjadikan Aik Bual sebagai satu dari paket wisata desa selain Mas-mas dan Joben (Lombok Timur). Kebetulan, tiga kampung ini berada di satu baris di wilayah utara. (*)