Menikmati Keindahan Bukit Taman Langit Bengkaung

INDAH: Wisata Bukit Taman Langit Bengkaung menawarkan keindahan memukau, baik saat siang hari maupun malam hari. (DERY HARJAN/RADAR LOMBOK)

Jalan Terjal Terhapus Pemandangan Indah Memukau Kabupaten Lombok Barat memiliki potensi wisata yang tersebar di sejumlah wilayah.
Satu per satu potensi wisata itu pun mulai dikembangkan. Salah satunya adalah Bukit Taman Langit Bengkaung Kecamatan Batu Layar.

ANGIN sepoi-sepoi menyapa pengunjung yang berdatangan. Kala itu jam sudah menunjukkan pukul 20.30 Wita. Seperti biasanya pukul 21.00 Wita sudah mulai tutup. Waktu yang tersisa sudah tidak lama lagi.
Meski begitu tidak menyurutkan niat para pengunjung untuk terus berdatangan. “Gak apa-apa sebentar. Yang penting dapat foto-foto,” ungkap salah satu pengunjung kepada petugas jaga di pintu masuk.
Di tempat ini memang sangat cocok untuk berswafoto. Setiap sudut menawarkan keindahan. Di sana juga tersedia spot foto seperti spot Pintu Langit dan spot Sayap Burung.
Di spot tersebut seolah olah pengunjung sedang terbang di ketinggian dan ditemani bintang bintang yang bertebaran. Tak heran pengunjungnya pun kini bukan hanya orang Lombok saja. Tetapi dari pulau sebelah pun sudah mulai menjajaki keindahan bukit ini. Salah satunya datang dari Bima.
Seperti salah satu pengunjung yang ditemui Radar Lombok di lokasi yaitu Tania Sakira Rabania. Ia sampai datang ke lokasi ini karena rasa penasarannya. Awalnya ia hanya melihat lokasi ini di media sosial saja. Begitu ada kesempatan ia pun langsung ke lokasi. “Ini pertama kalinya saya ke sini. Tempatnya memang beneran indah. Perjalanan yang menantang untuk sampai ke lokasi ini akhirnya terbayarkan,” ungkapnya.
Untuk sampai ke lokasi ini memang cukup menantang. Sebab jalannya berliku-liku dan banyak tanjakan. Meski begitu jalannya cukup bagus. Dari Kota Mataram hanya membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit saja.
Sesampainya di lokasi pengunjung tak jarang harus mengantre untuk masuk dan mengabdikan momen di sana. Sebab lokasinya memang cukup terbatas. Sementara pengunjungnya rata-rata ratusan orang per harinya. “Kalau malam Minggu kadang sampai 500-an orang,” ungkap pengelola destinasi, Syarif Hidayatullah.
Jumlah tersebut, kata dia, sebetulnya bisa saja bertambah jika lokasi itu ditutup hingga tengah malam. Tetapi karena kondisi pandemi Covid-19, pihaknya hanya membukanya sampai pukul 21.00 Wita.
Syarif sebetulnya tak pernah mengira lokasi wisata yang dikelola dengan dana pribadi tersebut bisa sebegitu banyak pengunjungnya. Padahal tempatnya baru dibuka sekita bulan Juli kemarin. “Dibukanya pada saat Covid-19,” ucapnya.
Terkait konsep yang ada di tempatnya tersebut Syarif mengaku meniru salah satu objek wisata yang ada di Malang, Jawa Timur. “Kebetulan saya kuliah di sana. Ini konsep paralayang,” bebernya.
Adapun biaya yang dihabiskan untuk membangun destinasi wisata tersebut kata Syarif sekitar Rp 200 juta. Itu termasuk untuk membeli lahan.