Mengunjungi Taman Wisata Alam Kerandangan Lombok Barat

Pengunjung Bisa Menyatu dengan Asrinya Alam

Taman Wisata Alam Kerandangan
ASRI : Suasana Taman Wisata Alam Kerandangan begitu asri dan akan membuat pengunjung betah berlama-lama di sana. (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

Jumlah taman wisata alam di pulau Lombok tergolong masih sangat minim. Padahal, masyarakat NTB membutuhkan sensasi berbeda agar tidak jenuh dengan destinasi pada umumnya. Salah satunya yang sudah cukup memiliki nama yaitu Taman Wisata Alam Kerandangan di Kabupaten Lombok Barat.


AZWAR ZAMHURI – LOMBOK BARAT


SORE itu langit agak mendung, namun tidak nampak akan turun hujan. Perjalanan kali ini, Radar Lombok ingin merasakan langsung sensasi hutan yang dikelola sebagai salah satu tujuan berwisata. Katanya, orang yang berada di sana akan merasa menyatu dengan keasrian alam.

Itulah Taman Wisata Kerandangan, salah satu destinasi yang konon menyimpan banyak kenangan. Lokasinya tidak jauh dari pantai Senggigi yang masih menjadi salah satu tujuan utama wisatawan mancanegara.Bagi pengunjung yang datang dari Kota Mataram, maka di sepanjang jalan akan melihat birunya pantai kawasan Lombok Lombok. Lalu di pinggir jalan sebelah kanan, sudah terpampang sebuah gang yang tertuliskan Kerandangan.

Untuk mencapai wisata alam Kerandangan, haruslah masuk ke tempat tersebut. Setelah beberapa menit perjalanan menggunakan sepeda motor ataupun kendaraan roda empat, tibalah pada area gapura bertuliskan Taman Wisata Alam Kerandangan. Setiba di tempat tersebut, suasana hati akan langsung berubah. Pepohonan yang rimbun terlihat jelas. Sementara di depan mata sudah diatur sedemikian rupa agar menyegarkan pandangan. Sunyi dan asri langsung akan dirasakan oleh pengunjung.

Di tempat tersebut sudah ada papan-papan informasi yang menceritakan tentang taman wisata alam Kerandangan. Rumah berdiri cukup luas yang dihuni oleh petugas di sana. Untuk bisa masuk, memang harus membeli tiket terlebih dahulu. Harganya cukup murah, hanya Rp 7.500 untuk 1 orang.

Setelah tiket di kantong, maka semua yang ada di taman wisata Kerandangan bisa dijamah dan dinikmati. Di antaranya air terjun Goa Walet, air terjun Putri Kembar, sungai berbatu, burung-burung, berbagai jenis kupu-kupu, kera hitam, pemandangan indah dari puncak bukit dan lain sebagainya.

Untuk bisa mendapatkan semua itu, pengunjung harus masuk ke dalam hutan. Tidak perlu khawatir, jalan setapak yang telah dibuat kondisinya cukup baik. Apabila musim hujan tiba, yang dibutuhkan hanyalah lebih berhati-hati karena cukup licin. Pengunjung yang ingin menikmati suasana hutan, harus membawa bekal. Tidak ada pedagang di dalam hutan. “Saya mau lihat air terjun yang ada di sini, katanya jernih dan suasananya masih alami dana sri,” ujar Maesarah, salah satu pengunjung asal Labuapi.

Tidak perlu khawatir akan tersesat. Sepanjang jalan kecil menuju hutan, sudah ada beberapa papan petunjuk. Untuk sampai pada air terjun Goa Walet, membutuhkan perjalanan kaki sekitar 1,5 kilometer.

Bagi yang tidak kuat berjalan lama, bisa memanfaatkan gazebo dan tempat duduk yang sengaja disiapkan untuk beristirahat di perjalanan. “Sejuk sekali ya suasananya, gak merasa lelah juga saya jalan kayak begini suasananya,” ucap Maesarah yang datang bersama temannya.

Jalan setapak tersebut memang terasa nyaman. Meski treknya terkadang harus menguras tenaga, namun berada di bawah tanaman tropis membuat pengunjung tidak lelah. Justru sebaliknya, siapapun disana akan merasa bersatu dengan alam. Jalan setapak, ada yang sudah dibeton sebagian. Ada pula tangga di dalam hutan untuk memudahkan pengunjung. Lorong-lorong juga terbentuk alami dari rimbun pohon dan semak belukar. “Semoga gak ada hewan buas di sini ya, kalau monyet-moyet itu sih gak saya takut. Malah lucu, tapi asalkan gak galak sih,” celetuk Maesarah yang sesekali meneguk botol minumannya.

Bagi pengunjung yang mencintai alam, memang tidak akan merasakan lelah. Kiri, kanan dan depan hanyalah ada keindahan, keasrian dan terasa menyejukkan. Setelah cukup lama berjalan, pengunjung harus menyebrangi sungai yang tidak terlalu dalam. Setelah itu, Air Terjun Goa Walet sudah mulai bisa terlihat. Banyak bebatuan di sana, airnya lumayan bersih. Bentuk air terjun tersebut diapit oleh batu besar dan terlihat seperti goa. “Wah, indah ya. Lumayan bagus, tapi air terjunnya gak tinggi,” celetuk Maesarah kembali.

Aliran air terjun memang tidak tinggi sekitar 2 meter lebih. Namun, tentu saja yang dijual adalah suasananya. Begitu hening, sunyi, sepi, asri dan semua keteduhan bercampur disana. Pengunjung hanya akan mendengarkan suara angin, gemercik air, arus sungai dan kicauan burung-burung. Bagi yang suka mengabadikan momen, tidak salah jika datang ke tempat ini. Di sekitar air terjun, sudah ada tersedia tempat duduk yang asyik. “Gak menyesal saya datang ke sini, enak di sini. Bisa kita berkemah kalau mau,” kata pengunjung lainnya, Serly.

Saat ini, jumlah pengunjung memang sekitar 4 orang. Waktu yang telah sore, sepertinya membuat pengunjung sebelumnya beranjak pulang. Di sinilah yang membuat semakin menenangkan suasana, pengunjung juga bisa mandi jika memang ingin. Ada juga air terjun Putri Kembar yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi air terjun pertama. Jalannya cukup ekstrem, jadi harus memiliki tenaga yang cukup. “Sudah terlanjur ke sini, jadi harus lihat juga semua air terjun,” ujar Serly.

Jalan menanjak dan menurun harus dilalui oleh pengunjung. Setelah tiba di air terjun tersebut, pemandangan dan keindahan air terjun Putri Kembar langsung tergambar. Airnya cukup bersih, dua air terjun berhadapan dan bentuknya mirip. Itulah alasan sehingga dinamakan air terjun Putri Kembar. Pengunjung taman wisata alam Kerandangan, tidak akan merasa sempurna jika belum mengunjungi air terjun tersebut. (**)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut