Mengunjungi ” Sanggar Rakyat Cepak ” Aikmel Lotim

Sanggar Rakyat Cepak
MENGAJAR : Seorang wisatawan asing mengajar di Sanggar Rakyat Cepak, Aikmel Lotim. (Ali Ma'shum/Radar Lombok)

Menuntut ilmu pengetahuan bisa dilakukan dimana saja. Tidak hanya bisa didapatkan di jalur formal seperti sekolah tetapi juga di jalur informal. Seperti yang dilakukan di Sanggar Rakyat Cepak Aikmel Lotim.


ALI MA’SHUM—SELONG


Puluhan anak-anak berbagai usia  berkumpul di sebuah Saung. Luasnya sekitar 4×5 meter. Anak-anak ini dibagi menjadi dua kelompok. Mereka duduk dengan rapi. Kelompok pertama diisi oleh anak-anak kelas VI SD sampai SMA dan didampingi oleh guru pendamping. Mereka serius mengikuti pelajaran yang diberikan.

Mereka juga dengan seksama memperhatikan materi yang diberikan. Menariknya, dua orang bule atau turis langsung memberikan materi pelajaran. Mereka diberikan materi pelajaran Bahasa Inggris dasar.

Salah satu penggagas atau pendiri Sanggar Rakyat Cepak ini, Brigadir Bagus Hariangga mengatakan, sanggar tersebut didirikan bersama rekan-rekannya yang lain atas beberapa pertimbangan. Antara lain atas  keprihatinan dengan zaman semakin modern saat ini.  Tetapi dirasakan tidak ada yang bersedia mengajar bahasa Inggris. ” Bahasa Inggris ini akan sangat berguna kedepannya. Ini bentuk keprihatinan kami,” ujarnya, kemarin.

Direncakannya, di sanggar ini nantinya tidak tidak hanya mengajarkan bahasa Inggris saja. Namun juga mengajarkan berbagai kreativitas. Seperti membuat kerajinan dan juga musik tradisional. ” Bahasa Inggris ini rencananya akan kita berikan di 4 bulan pertama dan dilaksanakan di 3 kali pertmuan dalam seminggu,” katanya.

Sanggar Rakyat Cepak ini resmi berdiri  29 Maret 2017. Didirikan atas swadaya dari pengajar yang saat ini jumlahnya 4 orang. Sanggar ini juga terdapat 40 orang siswa dari berbagai usia. ” Kami juga nanti akan memanfaatkan dokter atau bidan yang berasal dari daerah sini untuk memberikan penyuluhan sesuai dengan bidang mereka,” katanya.

Sanggar ini juga melibatkan bule atau orang asing dan pengajar. Selain itu, ada juga empat orang pengajar tetap lainnya. Bagus mengatakan, orang asing yang mengajar ini awalnya dikenalkan oleh teman di media sosial. Ia kemudian menjelaskan tujuan dan kegiatan yang diberikan. ”  Awalnya yang datang itu dua orang  bule dari Jerman dan Inggris. Mereka disini memberikan pelajaran bahasa Inggris dasar. Nantinya rekan-rekan mereka lainnya juga yang akan datang mengajar bergantian,” ungkap lelaki yang sehari-hari bertugas di Polres Lotim ini.

Lisa Schaefer, salah satu relawan dari Jerman mengatakan, awalnya dirinya datang ke Lombok untuk liburan. Kemudian ditawari untuk mengajarkan bahasa Inggris di Sanggar Rakyat Cepak. ” Menarik sekali mengajarkan anak-anak disini bahasa Inggris. Saya juga bisa belajar banyak hal disini. Seperti kebudayaan dan sebagainya. Saya akan balik lagi tahun depan untuk mengajar disini,” ujar wanita 27 tahun asal Frankfurt Jerman ini.

Begitu juga dengan relawan lainnya asal Rumania Rad Teofil. Ia mengaku gembira bisa berbagi ilmu pengetahun dengan anak-anak yang diajarnya. ” Sangat menarik sekali. Tentu saya akan balik lagi kesini tahun depan,” katanya.(*)