Mengunjungi Kerajaan Bisnis Keluarga Faber di Indonesia

Anugerah Besar Bernama Lothar von Faber

Faber-Castell
KUNJUNGAN: Wartawan Radar Lombok, Fathur Roziqin, kala mengunjungi pabrik PT Faber-Castell International Indonesia di Bekasi. (Fathur Roziqin/Radar Lombok)

Faber-Castell. Nama produk alat tulis itu sudah sangat karib bagi sebagian besar telinga warga Indonesia. Di balik nama itu, sangat sedikit mengetahui sejarah perusahaan yang berinduk di Jerman tersebut.


FATHUR ROZIQIN – JAKARTA


PENGHORMATAN  besar harus diletakan di pundak mendiang Kaspar Faber. Dari otak cemerlang pria berkebangsaan Jerman itulah masyarakat dunia, termasuk Indonesia, mewarisi salah satu alat tulis bernama pensil.  

Pada 1761 silam, dunia masih dihadapkan dengan keterbatasan alat tulis bersifat praktis. Kala itu, sebagian besar umat manusia, utamanya para penulis harus mencelupkan alat tulisnya ke dalam tinta untuk menulis sesuatu. Seolah menjadi berkah, Kaspar Faber menciptakan alat tulis bernama pensil. Sejak itu, alat tulis praktis itu mulai baanya digunakan. Hanya saja, layaknya temuan pertama masih banyak dibutuhkan penyempurnaan terutama dari segi kualitas.

Awalnya Kaspar Faber menggerakan dinasti bisnisnya dimulai dari perusahaan kayu. Namun lambat laun, perusahaan yang didirikannya ini bergerak untuk alat tulis. Tak hanya berorientasi profit, Kaspar Faber rupanya sangat peka dengan perubahan iklim dan cuaca yang kemungkinan terjadi di kemudian hari.

Dari itu, perusahaan yang dibangunnya ini tercata sebagai salah satu perusahaan yang melakukan rekam jejak karbon dan oksigen. Setiap emisi yang dibuang ditera (diukur) agar tak merusak lingkungan. Sekelumit paparan singkat itulah yang disampaikan Fransiska Remila yang bertugas sebagai Brand Manager PT Faber Castell Indonesia, Senin lalu (26/3).

Dari paparan perempuan bersahaja ini pula banyak diketahui betapa perusahaan ini sangat merawat betul sejarah pendirian perusahaan tersebut. Layaknya bisnis, pasang surut selalu dialami. Tak hanya karena persoalan margin untung dan rugi, tapi kondisi porce majeure di luar itu juga bisa menjadi penyebab. Salah satunya adalah Peran Dunia.

Bayangkan saja, kastil keluarga Kaspar Faber berkali-kali runtuh kena bumi hangus bom pasukan perang. Itu terjadi saat Perang Dunia I dan II. Kendati begitu, kastil itu kembali dibangun untuk mengoperasikan usaha bisnis tersbut.

Fransiska mengisahkan, rangkaian titik balik bisnis keluarga itu dimulai di masa generasi keempat. Tampuk pemegang operasi bisnis dikendalikan di tangan Lothar von Faber. Nama yang satu ini belakangan diketahui menjadi berkah dan anugerah sangat besar. Dari ide dan gagasannya, kerajaan bisnis yang sudah menembus berbagai berbagai belahan dunia ini mencaatatkan sejarah baru. Lothar von Faber sukses mencipta sejumlah pensil modern seperti B2, B3 dan jenis-jenis lainnya. Oleh masyarakat dunia kemudian mengenal sosok ini sebagai Bapak Pensil Modern.

Karya Lothar von Faber langsung mendapat respon bagus di pasaran. Respon tidak saja datang dari masyarakat biasa. Bahkan, kalangan seniman dan pelukis juga turut member respon sangat positif. “Kami masih menyimpan surat Vincent van Gogh kepada van Rapparth yang memuji kualitas pensil ciptaan Faber,” ucapnya sembari menayangkan slide visual surat pelukis ternama itu.

Dalam suratnya, Van Gogh mengaku sangat puas dengan hasil lukisannya lantaran pensil Faber. Kualitas pensil Faber dianggap sangat bagus untuk mendukung setiap hasil karyanya. Sejak penemuan generasi keempat ini, kemudian produkan pensil B2, B3 dan yang lainnya dibuat massal. Belakangan, tidak sedikit perusahaan yang bergerak di bidang usaha sama mengembangkan jenis pensil serupa.

Pergantian tampuk kepemimpinan beralih seiring datangnya generasi Faber yang baru. Dinasti bisnis kerajaan ini seolah kehilangan mata rantai penerusnya pada generasi kenam. Keluarga Faber kala itu tak satu pun memiliki keturunan laki-laki yang akan meneruskan bisnis keluarga tersebut.

Adalah Baronesse Otilie von Faber sebagai generasi keenam. Cucu Lothar von Faber ini tak bisa dipecaya memegang mandat menakhodai kerjaan bisnis moyangnya. Lazimnya di berbagai beahan dunia, ketidakpercayaan terhadap Baronesse lantaran Eropa kala itu masih didominasi budaya patriarki-pengarusutamaan kaum laki-laki. Menjadi tabu bagi seorang perempuan tampil sebagai tampuk pimpinan.

Sang kakek yang tidak ingin kerajaan bisnisnya runtuh tidak diam begitu saja. Ia pun kembali turun tangan setelah sebelumnya pensiun mengendalikan bisnis tersebut. Dari sang kakek pula keluar ide agar Baronesse dinikahkan dengan keluarga salah seorang bangsawan di Jerman bernama Castell. Sejak pernikahan “politis” itu, perusahaan tersebut menyandang nama Faber-Castell. Dua nama yang digabungkan menjadi satu sebagai tanda ada “unsur lain” yang melebur menjadi keluarga besar Faber.

Di masa kepemimpinan generasi keenam hingga ketujuh, beber Fransiska, perusahaan ini menemui masa-masa suram nan sulit. Tidak ada perembangan cukup berarti dalam dua masa generasi kepemimpinan tersebut. Baru pada generasi kedelapan, napas bisnis keluarga ini kembali menemui vitalitasnya di bawah nakhoda Count Anton. Di generasi inilah yang sukses menciptakan produk premium. Jenis produk ini dirawat hingga keluarga Faber memasuki generasi kesembilan saat ini.

Di Indonesia, bisnis keluarga ini tersentral di dua tempat. Pertama, terletak di kawasan pabrik di Cibitung, Banten. Perusahaan ini berdiri di antara sekian banyak perusahaan yang terletak di Jalan Irian. Di perusahaan ini khusus memproduksi alat tulis bukan pensil. Produk-produk yang dihasilkan di bawah naungan PT Faber-Castell Indonesia. Kedua, perusahaan ini terletak di wilayah Bantar Gebang dengan benderanPT A.W Faber-Castell Indonesia. Di perusahaan inilah semua jenis pensil diproduksi, termasuk tekstil.

Berbeda dengan Fransiska Remila, Manager Factory PT Faber-Castell Indonesia, Richard Panelewen justru lebih banya berbicara aspek produksi dan bahan baku perusahaan tersebut. Dari penuturannya diketahui bahwa perusahaan tersebut telah menciptakan berbagai produk teranyar. “Produk kami sudah mulai memadankan antaara yang manual ke digital,” bebernya.

Ia pun lantas membeberkan beberapa produk baru milik mereka. Di antaranya, Connector Pen, Mazing Art dan Colour to Life. Connector Pen ini dibuat sedemikian bersahabat dengan mempertimbangkan aspek keamanan pengguna. Sementara konetornya bisa dibuat dan disusun sebagai mainan.

Beda lagi dengan Mazing Art, produk yang satu ini digunakan untuk bermain kolektif. Ini karena dari produk tersebut bisa membuat penggunanya layaknya seorang pesulap. Namun yang tercanggih dari produk ini adalah Colour to Life. Produk ini merupakan padanan kreasi manual dan digital. Untuk memainkan produk yang satu ini, penggunaharus terlebih dahulu memberikan pewarnaaan pada media gambar yang tersedia. Setelah itu mengundug aplikasi Colout to Life lewat aplikasi Play Store. Pada aplikasi inilah gambar yang telah warnai bisa Nampak hidup dan bisa dimainkan secara digital.

Richard tak sekadar biacara soal produk. Ia juga bicara soal sumber bahan baku kayu yang digunakan. Perusahaan ini disebutnya telah memiliki 10 ribu hektar lahan hutan tanaman industri di Brasil. Dari hutan inilah bahan baku kayu disuplai. “Kami juga memiliki sebagian kecilnya di Kolombia,” tegasnya.

Kini perusahaan yang didirikan Kaspar Faber ini secara signifikan terus menerus membuk saluran distribusi ke berbagai belahan dunia. Tak hanya di Eropa, benua Amerika tak lupa dijajal. Bahkan, daratan Cina dan Timur Tengah pun tak luput menjadi ladang bisnis yang sudah mulai digarap. (**)