Mengunjungi Ibnu Hiban, Penderita Penyakit “Kurang Gizi”

Ibnu Hiban
DIPANGKU : Ibnu Hiban, 14 tahun, penderita kurang gizi saat dipangku ibunya, Aebah, belum lama ini (Sudir/Radar Lombok)

Nasib Ibnu Hiban sungguh malang. Meski usianya sudah 14 tahun, namun fisiknya seperti anak-anak. Ia mengalami kekurangan gizi sejak umur 2 tahun.


SUDIRMAN-MATARAM


Ia adalah anak ketiga dari pasangan Ahyar dan Aebah, warga Lingkungan Pande Besi Kelurahan Karang Pule Kecamatan Sekarbela. Ia hanya bisa terkapar di rumahnya yang berukuran sederhana 4 x 6 meter. Di tengah himpitan ekonomi, asupan gizi yang didapatnya tidak memadai sejak kecil.

Sang ayah, Ahyar, adalah seorang buruh serabutan. Sedangkan ibunya, Aebah, seorang pembantu rumah tangga.

Ahyar menuturkan, anaknya sejak usia dua tahun sudah mengalami sakit seperti ini. Awalnya demam, lalu berujung ke seperti sekarang. Bahkan dokter memvonisnya kelainan saraf yang mengakibatkan kelumpuhan. “ Sudah bolak balik rumah sakit, namun tidak ada perubahan,” katanya belum lama ini.

[postingan number=5 tag=”features”]

Anaknya mendapat tanggungan dari BPJS Kesehatan. Sang ayah hanya bisa berdoa untuk kesembuhan anaknya. Anaknya masih layaknya seorang balita kalau makanan, sebab harus pakai bubur. Ia tidak bisa mengunyah makanan keras.

Sempat ada tawaran dari donatur untuk pengobatannya ke Jerman pada tahun 2015. Ada seorang sahabat yang memberikan informasi penyakit anaknya kepada seorang wisatawan asal Jerman. Namun ia waktu itu menolak. “ Saya sempat ditawari tapi saya tolak, karena meninggalkan keluarga juga,” ungkapnya.

Anaknya kini sudah genap berusia 14 tahun. Sang anak sudah mulai banyak berbicara dan kerap meminta kursi roda. Namun karena keterbatasan keluarga belum bisa membelikannya. “ Sudah mulai minta kursi roda, biar bisa keluar saat pagi hari. Tapi untuk beli berasa saja susah apalagi kursi roda,” akunya.

Sementara itu sang istri, Aebah, hanya bisa menggendong anaknya. Ia menuturkan setiap bulan melakukan kontrol ke Puskesmas Karang Pule, namun tidak ada perubahan. Anaknya hanya diberikan tambahan gizi serta susu tambahan. “ Sejak umur dua tahun, gejala-gejala timbul. Dari demam tinggi sampai tidak bisa jalan seperti saat ini,” ucapnya.

Ia tetap berharap bisa mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kota Mataram untuk biaya dan pembelian tambahan gizi. Dari keterangan medis, anaknya mengalami gangguan saraf. Pihak keluarga  terus berusaha untuk pemulihan anak ini. Berbagai cara telah dilakukan selama ini.(*)