Mengulas Sejarah Berdirinya Bale Beleq di Desa Wakan

Pejabat NTB Sering Berkunjung ke Bale Belek

Bale Beleq di Desa Wakan
BALE BELEQ: Mangku Bale Beleq, Amaq Rohan, dengan latar belakang bangunan bersejarah Bale Beleq, di Desa Wakan, yang ternyata sering dikunjungi para pejabat NTB. (IRWAN/RADAR LOMBOK)

Desa Wakan, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), terdapat bangunan bersejarah yang merupakan salah satu peninggalan leluhur. Bangunan bersejarah itu disebut Bale Beleq (rumah besar), dan ternyata sering dikunjungi oleh para pejabat di NTB.


JANWARI IRWAN – LOTIM


BANGUNAN Bale Beleq merupakan peningggalan nenek moyang yang konon telah dibangun sejak ratusan tahun lalu oleh pendirinya yang di kenal dengan nama Baloq Imut. Menurut warga setempat, Baloq Imut sendiri memiliki banyak nama. Di wilayah Lombok Tengah, Baloq Imut juga dikenal dengan sebutan Balok Muttaqin, yang makamnya terdapat di Makam Nyatok.

“Jadi Balok Imut ini konon ceritanya dia melakukan semedi di Bale Beleq ini. Sehingga dia pun kemudian membuat rumah ini sebagai tempat persemedian,” kata Amaq Rohan, selaku Mangku Bale Beleq, Minggu kemarin (27/8).

Dengan dipercayainya Bale Beleq ini sebagai tempat bersemedinya Baloq Imut yang juga dikenal memiliki ilmu dan kharismastik. Masyarakat, terutama warga Desa Wakan kemudian terus menjalankan ritual adat untuk mengenang leluhur, yang dilaksasnakan setiap tahun.

Bahkan dalam melaksanakan gawe adat ini, masyarakat setempat merayakan besar-besaran dengan memotong kerbau. “Kalau ada masyarakat yang sudah mengunjungi Bale Beleq ini, dan berdoa kepada Allah, kemudian tercapai keinginannya. Maka pada saat acara adat itu biasanya mereka juga akan membayar haul dengan memontong kerbau atau hewan-hewan lainya sebagai bentuk rasa syukur,” jelas Amaq Rohan.

Namun tidak sembarang waktu boleh dilaksanakan upacara adat membayar haul bagi masyarakat yang telah tercapai cita-citanya tersebut. Ada cara dan bulan-bulan tertentu yang bisa digunakan untuk menggelar ritual oleh masyarakat.

“Bulan yang kita gunakan untuk melaksanakn gawe beleq ini pada bulan ketujuh kalender Sasaq. Dimana harinya harus tanggal 7, bulan 7, atau tanggal 17 dan 27, harus ada angka 7-nya. Waktunya juga harus dipilih antara hari Senin atau hari Jum’at, tergantung mana yang lebih bagus,” jelasnya.

Bagi Masyarakat yang ingin mengunjungi Bale Beleq juga tidak sembarang bisa. Yang boleh berkunjung hanya laki-laki, tidak boleh perempuan. Apalagi perempuan yang sedang dalam keadaan datang bulan atau haid. ”Sejak zaman dahulu hingga sekarang tidak pernah ada perempuan yang kesana. Saya tidak tau kenapa. Tetapi itu menurut cerita para pendahulu kita,” jelasnya.

Melihat sejarah Bale Beleq yang juga dikenal dengan nama Bale Keramat, masyarakat yang berkunjung ternyata juga bukan dari kalangan orang biasa saja. Namun dari kalangan para pejabat. Salah satunya adalah Wali Kota Mataram, H. Ahyar Abduh, yang menurut cerita sudah tiga kali datang ke Bale Beleq.

”Pak Wali Kota berkunjung ke sini pada malam hari. Pak Wali Kota solat di dalam Bale Beleq, dan sempat bermalam di Bale Beleq. Keesokan harinya dia langsung memberikan bantuan berupa berugaq, tanpa diminta,” ujar Amaq Rohan.

Lebih jauh disampaikan Amaq Rohan, Wali Kota Mataram pertama kali datang pada tahun 2016 lalu. Dimana pada waktu itu dia sedang mencalonkan diri menjadi Wali Kota Mataram.

“Tahun 2016 itu Pak Ahyar dua kali datang ke sini (Bale Beleq). Dan kemarin (belum lama ini) dia juga ke sini. Selain itu juga masih banyak pejabat NTB lainnya yang datang kemari, dan saat ini sedang menjabat sebagai kepala daerah,” beber Amaq Rohan. (*)