Mengukur Kesiagaan Masyarakat Lombok Barat Menghadapi Bencana

Lombok Barat masuk daerah rawan bencana terutama longsor dan banjir. Bencana yang terjadi di beberapa titik beberapa hari lalu menjadi alarm bahwa semua pihak harus dalam posisi siaga. Warga tidak bisa sepenuhnya mengandalkan bantuan petugas resmi jika sewaktu-waktu bencana datang. Ada banyak kendala, terutama menyangkut banyaknya pemukiman yang sulit terjangkau.

 


Rasinah Abdul Igit_GIRI MENANG


 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Barat belum lama ini menghimbau seluruh masyarakat mewaspadai bencana alam selama musim hujan. Himbauan disampaikan lewat masing-masing kantor camat. Semua kecamatan memiliki wilayah-wilayah rawan yang mesti diwaspadai terutama saat musim hujan.

Kecamatan Sekotong dan Lembar masuk kecamatan yang punya potensi lumayan besar. Sebagai kecamatan yang paling luas, Sekotong punya karakter goegrafis berupa pegunungan dan pesisir. Hampir semua desa setempat memiliki daerah pemukiman yang yang tersebar diantara lereng gunung dan pinggir pantai. Tidak hanya itu, masih ada beberapa desa yang sulit dicapai karena keterbatasan infrastruktur.

“ Di Kecamatan Batulayar, meski adem ayem, terdapat banyak titik rawan longsor dan banjir. Di Sebagian Desa Senggigi, Desa Batulayar, Desa Batulayar Barat, Senteluk maupun Meninting ada saja. Sebagian warga tinggal di atas gunung yang lumayan sulit dijangkau,” ungkap Rusnan (41), salah seorang anggota Tagana Lombok Barat belum lama ini.

Kecamatan Gunungsari, Lingsar dan Narmada juga demikian. Tahun lalu, musibah longsor terdeteksi di pemukiman pinggir hutan Lembah Sempage dan Kumbi Kecamatan Narmada. Namun musibah ini tidak sampai memakan korban. Umumnya longsor di wilayah ini dipicu oleh maraknya aktivitas pembalakan liar.

Banyaknya potensi bencana harus dibarengi dengan tingginya kewaspadaan warga. Salah satu bentuknya, warga harus punya skill penyelamatan dini begitu bencana terjadi.  Hanya mengandalkan instansi-intansi resmi saja jelas tidak bisa. Di beberapa kasus, petugas terganggu dengan sulitnya medan yang menyebabkan pertolongan tidak maksimal. Kemampuan warga tidak bisa ada begitu saja. Pemerintahlah yang harus melatih mereka secara berkala. Warga harus dilatih cara-cara mengevakuasi diri, juga bagaimana menangani kesehatan korban sebelum dibawa ke petugas resmi.

Seperti tahun lalu, Pemkab harus maksimal  melatih masyarakat untuk bisa mengambil langkah penyelamatan diri jika ada bencana. Ini penting untuk mengurangi dampak bencana dengan cara menitikberatkan partisipasi masyarakat. Selama ini masyarakat hanya menunggu dibantu. Lewat kegiatan ini setidaknya masyarakat mampu membantu dirinya dahulu sebelum bantuan dari pemerintah datang.

Dari hasil evaluasi program ini, kewaspadaan warga sudah lebih baik. Lewat pelatihan yang dilakukan secara berkala, mereka sudah bisa mempraktikkan langkah-langkah penyelamatan awal saat bencana datang. (*)