Mengenal Theo Setiadi Suteja, Kreator Furniture Rumah Tangga dari Kertas

Tidak Melulu Orientasi Profit, Ada Misi Edukasi Selamatkan Bumi

Kreator Furniture Rumah Tangga dari Kertas
KREATIF : Theo Setiadi Suteja berdiri di atas kursi yang terbuat dari limbah kertas untuk menguji kekuatan kursi tersebut. (Ahmad Yani/Radar Lombok)

Kreativitas Theo Setiadi Suteja mengolah limbah kertas menghasilkan berbagai aneka pernak-pernik  perabotan  rumah tangga sangat menarik. Selain itu juga bernilai ekonomi tinggi.


AHMAD YANI – MATARAM


Di lihat sepintas, tidak ada yang  menduga berbagai furniture rumah tangga terpajang di kediaman Theo Setiadi Suteja terbuat limbah kertas. Ada kursi, meja makan, meja tamu, rak, tempat hiasan lampu, ukiran – ukiran rumah tangga dan aneka perabpt rumah tangga lainnya.  Semua itu kreasi dari Theo berbahan baku limbah kertas.

Yang menarik juga, rumah lantai tiga Theo Sutiadi Suteja beralamat di Jalan HM Ruslan (eks Jalan Layur) nomor 777 Karang Panas, Ampenan Selatan berbahan dasar limbah kertas. Pondasi rumah dari bubur kertas dicampur lem. Untuk lantai satu dinding-dindingnya sebagian masih ada yang terbuat dari adonan limbah kertas bercampur lem. Sebagian masih ada yang dari batu bata. Namun, plesterannya seluruhnya dari limbah kertas.

BACA JUGA :  Serunya Mengikuti Rakor Pemkot Mataram di Atas KRI Bima Suci

Lalu di lantai dua, seluruh dindingnya terbuat dari kertas. Tapi lantai tetap dari beton. Demikian pula dengan di lantai tiga dindingnya terbuat dari kertas. Cuma lantai dari kayu. Selain rumah, Theo juga menggunakan bahan baku kertas bekas untuk membuat berugak, papan nama, dan berbagai perabotan rumah tangga lainnya.

Selain dijadikan tempat tinggal, rumah Theo ini juga dijadikan galeri. Berbagai kreasi bernilai ekonomi  tinggi terpajang di lantai satu rumahnya.”  Semua ada di galeri ini bahan dasar limbah kertas,” tuturnya kepada Radar Lombok Minggu lalu (31/12).

Limbah kertas itu dibeli Theo secara kiloan dari para pemulung, mitra dan berbagai lokasi pengelolaan sampah. Misalnya, kertas HVS, kertas jajan kotak, kertas rokok, kertas nasi dan lainnya. Harganya pun murah meriah.

Kertas bekas ini lalu diolah. Untuk dibentuk menjadi kursi, meja, dan perabot lainnya, kertas-kertas bekas itu oleh Theo terlebih dahulu dihancurkan dengan air hingga menjadi bubur kertas. Bubur kertas itu kemudian dicampur dengan lem. Perbandingannya 1 kg lem dicampur dengan 4 kg bubur kertas. Bisa juga  1 kg lem dicampur 2 kg bubur kertas.

Adonan lem dan bubur kertas itu kemudian dibentuk sendiri oleh Theo dengan tangan.  Misalnya, jika mau jadi meja, maka adonan itu dibentuk seperti meja umumnya. Sesuai ukuran yang diinginkan pula. Mau tinggi atau pendek. Pun begitu kalau hendak dibentuk menjadi kursi atau hiasan lampu tidur. Setelah terbentuk lalu dibiarkan kering.  “Biasanya butuh waktu tiga hari,” tuturnya.

BACA JUGA :  Ima Suyanti, Relawan Orang Miskin yang Sakit Parah

Soal kekuatannya, tidak perlu diragukan. Dipastikan perabotan – perabotan tersebut anti pecah. Semakin lama proses pengeringan, maka makin fosil dan mengeras.

Meski terbuat dari limbah kertas, perabotan – perabotan itu  juga tahan  api. Penasaran. Koran ini pun langsung menguji kekuatan dari perabotan tersebut. Pot bunga terbuat dari limbah kertas, beberapa kali di lempar ke lantai tapi tidak pecah. Demikian juga ketika disulut korek api tidak terbakar. Kursi pun diuji dengan berdiri dan loncat – loncat di atasnya. ” Soal kekuatan dan daya tahan bisa diuji,” ucapnya.

Ide kreatif Theo yang membuat hasil karya seni dan berbagai produk rumah tangga dari limbah kertas dimulai sejak tahun 2011. Sebagai mantan aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) ada keprihatinan mendalam akan banyaknya limbah kertas yang terbuang percuma. Padahal, membuang kertas-kertas itu  sama saja dengan membuang pepohonan.  Sebab, bahan baku kertas adalah kayu yang dilebur menjadi bubur lalu dicetak menjadi kertas. ” Penggunaan limbah kertas, menjadi alternatif untuk mengurangi  penebangan pohon bagi pembuatan furnitur atau perabotan rumah tangga,” jelasnya.

Bagaimanapun, kata Theo, pepohonan adalah paru – paru dunia. Dengan makin banyak pepohonan ditebang, maka bakal mengancam keseimbangan lingkungan. Lalu bisa berimbas luas bagi kehidupan manusia.” Jadi kita tidak berpikir profit semata, tapi ada misi sosial. Misi dan edukasi lingkungan untuk menyelamatkan bumi,” jelasnya.

BACA JUGA :  Mengenal Komunitas Fhotography Hijabers Lombok

Kini, produk  yang  dihasilkan Theo sudah dikenal dan memiliki pangsa pasar di negara-negara Asean, Australia, Eropa dan Amerika.Selain itu, sering kali produk karya dipesan untuk menjadi cinderamata untuk  kegiatan skala internasional.

Misalnya, pada awal tahun 2018 salah satu produknya  akan dijadikan cinderamata dalam pertemuan negara – negara Asean di Indonesia terkait program penyelamatan lingkungan. ” Saya memiliki target suatu saat nanti menghasilkan 2000 karya berasal dari limbah kertas. Dari target tersebut baru sekitar 10 persen terealisasi,” akunya.

Theo pun memiliki obsesi atau mimpi suatu nanti akan memiliki museum paper art. Museum ini secara khusus memajang berbagai karya, produk, nilai seni yang  terbuat dari limbah kertas.(*)