Mengenal Raden Ajeng Arie Sulistyawati, Guru Tari Berprestasi

BERPRESTASI : Raden Ajeng Arie Sulistyawati adalah seorang pengajar tari yang berprestasi. (Sudir/Radar Lombok)

Di Mataram ada sosok Raden Ajeng Arie Sulistyawati. Ia adalah seorang guru menari dengan banyak prestasi. Kini ia punya sanggar tari ‘’Dende Anjani”. Untuk fokus mengajar, ia melepas pekerjaannya sebagai pegawai bank.

 


Sudirman-Mataram


Setiap hari sanggar “Dende Anjani” di Gang 4 Jalan Taruna Jaya Ampenan selalu ramai oleh anak-anak yang belajar menari. Mereka ada yang masih SD, ada pula yang duduk di bangku SMA. Dimbing oleh seorang pengajar, mereka dengan sabar memainkan tubuh sesuai dengan materi latihan.

Perjalanan karir Ajeng hingga posisinya saat ini memang tidak mudah. Banyak tantangan yang dihadapi. Perempuan kelahiran 13 Desember 1981 di Dasan Agung Mataram ini telah lama belajar seni tari.

Selama ini Ajeng sibuk menjadi salah satu tenaga pengajar di kelas olah seni di Taman Budaya Mataram. Sebagai catatan, ia kerap tampil di luar negeri. Diantaranya lima kali tampil di Australia. “ Saya nari di Darwin Australia saat 17 Agustus. Diundang langsung  oleh kedutaan setempat,” ungkapnya saat ditemui Radar Lombok kemarin.

[postingan number=3 tag=”boks”]

Ia merintis karir di dunia menari sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia juga tercatat sebagai salah satu murid tokoh budaya Mataram H. Abdul Hamid. Saat duduk di bangku SMAN 4 Mataram, ia mencatat prestasi di tingkat kota hingga tingkat nasional. “ Dulu sempat beberapa kali juara,” ungkapnya.

Agar bisa fokus ngajar tari, perempuan ini rela meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai bank. Ia menjadi pegawai Bank Danamon selama tiga tahun. Pada bulan Desember 2016 ia memilih berhenti. “ Saya berhenti jadi pegawai bank. Saya akan fokus salurkan ilmu menari melalui sanggar saya,” ungkapnya.

Di usia yang masih muda, ia komit terus-menerus membangkitkan semangat kalangan anak-anak untuk mempertahankan budaya leluhur NTB seperti tarian tradisional. Beberapa anak didiknya telah membuahkan hasil bahkan sudah ada yang menjadi juara di ajang Festival Lomba Seni Nasional.

Salah satu orang tua dari muridnya, Desi Arini menuturkan, anaknya telah belajar menari selama enam bulan. Banyak pengalaman yang didapat. Sang guru katanya, selalu aktif memberikan masukan kepada anak didiknya. “ Kalau salah tidak dimarahi, tapi melalui orang tua kita diberikan saran, kekurangan dan motivasi,” katanya.(*)