Mengenal Polwan Viral, Kasatlantas Polres Lombok Barat IPTU Rita Yuliana

Kasat Lantas Polres Lombok Barat IPTU Rita Yuliana (IST/RADAR LOMBOK)

Kehadiran Polisi Wanita (Polwan) di jajaran kepolisian kerap mencuri perhatian publik. Mereka bisa menjadi Polwan tentu saja bukan bermodal paras jelita saja. Berbagai tahapan seleksi pengetahuan, fisik, dan psikologis harus dilewati agar bisa menjadi Polwan. Salah satu sosok Polwan yang sedang mencuri perhatian adalah IPTU Rita Yuliana.

DERY HARJAN-MATARAM

Selain parasnya yang cantik, perempuan kelahiran Selong, 1 Juli 1992 ini juga tergolong berprestasi.

IPTU Rita bergabung di kepolisian pada tahun 2013. Saat itu niatan untuk menjadi polisi rupanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Orang tuanya sempat tidak mengizinkan bungsu empat bersaudara ini untuk tinggal berjauhan. Akhirnya, dia pun nekat mendaftarkan diri pada seleksi Akpol bersamaan dengan seleksi IPDN sesuai permintaan orang tuanya. Dan takdir pun seolah menggariskan impian Rita. “Saya diterima di Akpol,” ujarnya, Kamis (25/2/2021).

Awal-awal mengenyam pendidikan kepolisian tersebut, rasa tidak percaya diri sempat menghinggapinya karena tidak memiliki keluarga maupun kemampuan di bidang kepolisian. Namun berbekal niat yang kuat, Rita mampu menunjukkan kemampuannya dengan mendapatkan nilai tertinggi.

Usai menempuh pendidikan kepolisian dan S1 STIK PTIK, Rita ditugaskan di Polda DIY. Dia pun bertugas di Bagian Sentra Pelayanan Kepolisian di Gunungkidul.

Pada tahun 2018 kemudian mengikuti pendidikan ke Beijing. Rita menjadi satu-satunya perwakilan Polri yang mendapatkan Beasiswa International Law Enforcement Liaison Officer Program di Beijing Foreign Studies University (BFSU) Beijing, Tiongkok. Program itu merupakan spesialis bahasa mandarin yang diikuti oleh 33 negara dari tiga benua yakni Eropa, Asia serta Afrika.

IPTU Rita yuliana juga sempat menorehkan prestasi, di mana ia mendapatkan Hanyu Shuiping Kaoshi (HSK) yakni ujian standarisasi kemahiran berbahasa mandarin bagi penutur asing yang hanya ditargetkan mencapai HSK level 3, tetapi tanpa diduga Rita mendapatkan HSK level 4.

Pada 2019, Rita pulang ke tanah air dan langsung ditugaskan di Subdit IV Dit Reskrimum Polda NTB. Ia banyak menangani kasus perempuan, anak dan remaja. Selain banyak mengungkap kasus tindak perdagangan orang (TPPO) tujuan Timur Tengah. Salah satu kasus yang cukup menjadi perhatian publik adalah kasus tari striptis di salah satu kafe si Senggigi, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat.

Pada tahun 2020, Rita kemudian dipercaya menjadi  Kasat Lantas Polres Lombok Barat. Apa yang diraih selama ini Rita mengaku sangat bersyukur. “Apa yang selama ini saya capai berkat dari doa orang tua. Untuk itu tujuan hidup saya hanya satu yaitu membahagiakan orang tua,” ujarnya. (**)