Mengenal Nurhalis Majid, Tidak Diterima Unram, Kini Jadi Peneliti Muda LIPI

Nurhalis Majid
PENELITI MUDA: Nurhalis Majid (nomor dua dari kiri), bersama guru besar Technische Universitat Braunschweigh, Jerman dan teman kuliah S3-nya. (Nurhalis Majid For Radar Lombok)

Nurhalis Majid  salah seorang peneliti muda yang berhasil lolos mendapatkan beasiswa program doktoral (S3) di Technische Universitat Braunschweigh, Jerman. Jalan berliku dilaluinya untuk meraih beasiswa.


LUKMANUL HAKIM – MATARAM


Provinsi NTB belum banyak memiliki peneliti-peniliti muda. Lebih-lebih dibidang fisika atau ilmu terapan lainnya. Dari sedikit itu, ada  Nurhalis Majid pemuda asal, Aikmel, Kabupaten Lombok Timur. Halis, menjadi salah satu dari peneliti muda Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Halis  diterima menjadi PNS di LIPI  pada Januari tahun 2015. Tidak lama menjadi tim penelitia di LIPI, Halis kemudian mencoba peruntungan mengikuti tes seleksi untuk program beasiswa program doktoral fisika. Ia pun mencoba mengikuti tes seleksi di dua perguruan tinggi diantaranya pertama di Hokkaido University Jepang dan Technische Universitat Braunschweigh, Jerman.  Halis  dinyatakan diterima dan lulus di kedua perguruan tinggi tersebut. Namun, Halis akhirnya lebih memilih Technische Universitat Braunschweigh, Jerman untuk memperdalam keahliannya bidang Fisika program Doktoral (S3).

BACA JUGA :  Mengenal Sumardi, Pedagang Cilok yang Naik Haji Tahun Ini

Selama di LIPI sejak diterima menjadi PNS, Halis sudah mulai aktif melakukan penelitian untuk proyek pengembangan mobil listrik. Terlebih lagi, pemerintah Indonesia sudah mewacanakan memproduksi mobil listrik yang lebih ramah lingkungan. Hanya saja, selama ini yang menjadi kendala adalah, daya tahan dari baterai mobil listrik itu sndiri.  Bersama grup riset baterai lithium untuk mobil listrik, Halis pun kini di Jerman sudah memulai melakukan riset bidang  battery management system untuk  menghasilkan daya tahan lama untuk penggunaan baterai mobil listrik. Seperti charging technique atau fast charging yang membentuk algortma SoC atau SoD untuk mengetahui sudah berapa persen baterai digunakan ketika di-charger atau ketika digunakan di mobil listrik.“Begitu masuk kuliah di tahun 2016 itu, kita langsung melakukan riset bersama tim profesor di Technische Universitat Braunschweigh, karena tidak ada kuliah wajib. Hanya disarankan oleh supervisor untuk ikut kuliah dasar kelas bahasa Jerman. Karena waktu di Indonesia saya tidak pernah ambil bahasa Jerman,” terangnya.

Sebelum diterima menjadi PNS LIPI di tahun 2015, Halis mencoba peruntungan dengan melamar sebagai laboran di Universitas Mataram pada tahun 2010. Namun saat itu, dia  tidak ikut hadir mengikuti tes tulis. Kemudian begitu selesai program S2 di Universitas Gajah Mada, Halis kembali lagi memasukan lamaran sebagai dosen honor di Unram. Tapi, ketika itu tidak ada sama sekali panggilan.

BACA JUGA :  Pengalaman Paskibraka Asal Ntb Saat Bertugas Di Istana Negara (Bagian 2)

Ia pun kemudian mengisi hari-harinya dengan mengajar di lembaga bimbingan belajar di Jogjakarta. Kemudian di akhir tahun 2014, Halis mencoba mengikuti tes seleksi CPNS di LIPI. Alhasil Halis lulus diterima sebagai PNS LIPI dan mulai bekerja masuk kantor Januari 2015.

Menjadi peneliti memang cita-cita sejak kecil Halis. Karena itu, usia menamatkan sekolah menenangah atas, Halis melanjutkan  S1  di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengambil jurusan fisika murni. Kelak, Halis ingin bisa menghasilkan karya dari penelitiannya sehingga berguna bagi masyarakat luas. (*)