Mengenal Moreno Muhammad Afan, Pembalap Balita NTB

Didukung Penuh Orang Tua, Usai Latihan Langsung Mengedot

Pembalap Balita NTB
LATIHAN : Moreno Muhammad Afan usai mengikuti latihan di Selagalas, kemarin.

Anak yang masih bawah lima tahun (balita) biasanya masih asyik bermain. Permainan yang dimainkan pun tergolong ringan. Namun tidak begitu dengan Moreno Muhammad Afan. Ia justru tertarik dengan motor balap.


ALI MA’SHUM – MATARAM



RAUNGAN
motor balap 50 cc terdengar bising di lintasan Selagalas Kota Mataram. Ada tujuh pembalap cilik yang sedang mengelilingi lintasan. Saling menyusul diperlihatkan di antara mereka. Salah satunya adalah Moreno Muhammad Afan. Bocah lima tahun ini terlihat semangat mengendarai tunggangannya. Motor yang ditunggangi memang sejenis motor mainan. Tapi jangan salah. Dari sinilah nantinya akan lahir calon pembalap potensial.

Sekitar 15 putaran dilahapnya. Setelah itu, ia langsung menghampiri kedua orang tuanya yang selalu menunggunya. Kedua orang tuanya terus tersenyum. Maklum saja, buah hati mereka sukses melintasi 15 putaran dengan baik. ” Memang dibatasi maksimal 15 putaran supaya bannya tidak cepat habis,” ujar ayah Moreno, Imam Wahyu Trisno saat mendampingi sang anak, kemarin.

Tersirat, tidak ada ketegangan dari wajah bocah kelahiran 26 November 2016 itu. Minat bocah yang masih duduk dibangku Taman Kanak-Kanak (TK) ini bermula ketika sering menonton balapan Moto GP di televisi. Lama kelamaan timbul keinginan untuk mengendarai motor. Minta sang anak ini kemudian di dukung oleh orang tuanya. Ia pun dibawa ke lintasan dan belajar mengendarai motor. ‘’Awalnya dia suka nonton balapan moto GP. Kemudian saya bawa ke sini. Ini baru beberapa bulan dimulainya,’’ kata pria 38 tahun tersebut.

Sebelum memulai latihan, para calon joki cilik ini mengikuti pemanasan. Seperti senam dan lari. Mereka dibimbing langsung oleh instruktur profesional. “Latihannya dua kali seminggu. Hari Sabtu dan Minggu,’’ ungkapnya.

Balap termasuk olahraga ekstrem. Sebagai orang tua, tentu ia merasa khawatir dengan keselamatan sang buah hati. Tapi karena didukung oleh peralatan keamanan lengkap, risiko itu bisa diminimalisir.  ‘’Jelas ada khawatirnya. Tapi kan peralatan keamanannya sudah lengkap. Ada baju balap dan juga sepatunya,’’ katanya.

Minat dari Moreno juga didukung penuh sang ibu. Kedua orang tuanya selalu mendapingi ketika Moreno latihan. Imam mengakui, kalau istrinya lebih cemas dari dirinya saat mendampingi Moreno. ‘’Karena naluri keibuan memang begitu. Tapi sedikit demi sedikit kekhawatiran itu sekarang berkurang,’’ katanya.

Biaya yang dikeluarkan untuk olahraga menurutnya tidak begitu mahal. Nilainya disebutnya masih bisa dijangkau oleh masyarakat. Onderdil dan peralatan lainnya juga kini sudah mulai banyak dijual. ‘’Motor ini bisa bisa dibeli di toko mainan kok. Jadi terjangkau,” imbuhnya. 

Menurutnya, ia hanya menyalurkan minat sang anak untuk kegiatan positif. Hal ini menurutnya bisa juga membentuk karakter anak. ‘’Dari pada nanti dia balapan di jalanan. Jadi kita salurkan ke kegiatan positif seperti ini,’’ terangnya.

Ia pun tidak memiliki target tinggi yang bisa membenani sang anak. Paling tidak kata dia, Moreno nantinya bisa ikut kejuaran balap tingkat nasional. Namun yang terlebih penting bisa melatih mental sang anak.” Karena sekarang Ikatan Motor Indonesia (IMI) lagi bagus-bagusnya menurut saya. Kalau dia berprestasi nanti bisa dilirik oleh sponsor,” katanya.

Ada sisi menarik ketika Moreno selesai latihan. Sehabis latihan, Moreno masih meminta untuk dibuatkan susu (ngedot). Jika susunya tidak ada, Moreno akan menangis dan tidak bersedia latihan. ‘’Iya dia ini habis latihan ngedot susu dulu. Wajar saya rasa. Karena dia kan masih TK. Kalau dotnya tidak ada, dia bisa ngambek,’’ pungkasnya sambil terus tersenyum mendampingi Moreno. (*)