Mengenal M Pahrurozi, Duta Bahasa NTB 2017

H Muhammad Pahrurozi terpilih menjadi Duta Bahasa NTB 2017

Tanggal 20 Juli 2017 lalu, Muhammad Pahrurozi berhasil terpilih sebagai Duta Bahasa Provinsi NTB tahun 2017. Pemuda asal Kota Mataram ini, berhasil keluar menjadi yang terbaik setelah mengalahkan ratusan peserta lainnya.


AZWAR ZAMHURI – MATARAM


Menjadi Duta Basaha Provinsi NTB sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikiran Haji Muhammad Pahrurozi. Pemuda kelahiran 16 November 1992 ini, memang telah bergelar haji sejak tahun 2016 lalu.  Lahir dan besar dari keluarga terdidik, membuat  anak kedua dari pasangan H Tanwir dan Hj Nurul Yakin ini memprioritaskan pendidikannya baik itu ilmu agama, maupun ilmu umum.

Perkenalannya dengan kegiatan seperti duta bahasa, tidak lepas dari lingkungan Pondok pesantren (Ponpes). Pahrurozi memang sejak lama menjadi pengajar di Ittihadul Ummah Karang Anyar dan Ponpes Nurul Islam Sekarbela. “Saya mengajar ilmu umum dan ilmu agama juga,” tuturnya kepada Radar Lombok, Senin kemarin (24/7).

Pahrurozi mengamati mental para santri di ponpes kerap kali merasa minder dengan dunia luar.  Mereka yang berpendidikan umum dianggap lebih hebat dalam hal apapun kecuali agama. “Kemudian  ada momentum pendaftaran jadi duta bahasa, saya  langsung berpikir untuk ikut dan membuktikan bahwa orang yang hidup di lingkungan ponpes bisa mengalahkan mereka yang hidup di luar,” ucapnya.

Pria yang juga sedang melanjutkan S2 di Universitas Mataram (Unram) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram ini, memang tidak pernah sebelumnya mengikuti lomba seperti itu. Acara pencarian duta tahun 2017, menjadi pengalaman kali pertamanya.

Dengan niat pembuktian diri, Pahrurozi kemudian ikut mendaftar Duta Bahasa NTB 2017. Setelah lulus seleksi administrasi, sebanyak 100 orang pendaftar dites kembali untuk bisa masuk grand final. “Waktu itu kita ada 20 orang, 10 laki-laki dan 10 perempuan. Semua potensi yang ada pada diri kita dites kemarin itu, dan keluarlah saya sebagai yang terbaik,” katanya.

Ada cerita menarik yang terjadi ketika proses penilaian tersebut. Peserta lainnya mengeluarkan kemampuan terbaik, bakat terhebat yang dimiliki. Misalnya saja bernyanyi, sulap, berpuisi dan lain sebagainya.  Sementara Pahrurozi sendiri, besar dan berkembang di lingkungan ponpes. Tentu saja dia tidak bisa mengikuti peserta lainnya seperti itu. “Saya berpikir ikut ajang ini untuk ibadah, untuk memberi semangat kepada adik-adik di ponpes, untuk berkontribusi pada daerah dan semoga dihitung ibadah. Terus masa saya nyanyi-nyanyi dan berpuisi,” kenangnya.

Sebagai pengajar di ponpes, Pahrurozi berkeyakinan dirinya tidak perlu melakukan seperti peserta lainnya. Masih banyak bakat dan minat yang baik untuk ditunjukkan. “Saya tunjukkan saja kemampuan saya mengaji, bershalawat, pidato 3 bahasa. Dan saya bawa juga buku hasil karya saya sendiri. Alhamdulilah, dengan tidak perlu mengikuti gaya orang lain, saya bisa jadi juara,” ucapnya.

Pahrurozi yang tinggal di Ponpes Ittihadul Ummah Karang Anyar ini, memang dididik ilmu agama oleh orangtuanya langsung. Sementara ilmu umum didapatkan dari SDN 28 Mataram, kemudian SMPN 2 Mataram, SMAN 1 Mataram.

Ketika menjadi mahasiswa, ia pun mengambil jurusan Biologi di FKIP Unram. Kemudian barulah S2 di UIN mengambil ilmu agama Islam dan S2 di Unram tetap jurusan umum. “Kalau soal ilmu agama seperti tafsir, saya diajar oleh orangtua,” katanya.

Prestasi Pahrurozi menjadi Duta Bahasa NTB 2017 merupakan serangkaian dari prestasinya sejak pelajar dulu. Saat SMP, ia pernah juara pidato bahasa Inggris, mengikuti olimpiade  Matematika dan lain sebagainya.

Beranjak ke SMA, prestasinya tidak pernah kendur. Pahrurozi kerap kali mewakili NTB di tingkat nasional pada bidang akademik.

Ketika menjadi mahasiswa, prestasi akademik Pahrurozi semakin cemerlang. Selama 2 tahun berturut-turut mengikuti olimpiade Astronomi, mengikuti olimpiade Sains dan lain-lain. “Tahun 2016 lalu, alhamdulillah saya juga bisa punya karya buku, judulnya Untaian Hikmah dari Mimbar Al-Istiqamah,” terangnya.

Kini, di pundaknya kembali akan mewakili NTB pada Agustus 2017 mendatang. Pahrurozi bertekad untuk bisa menjadi Duta Bahasa nasional tahun 2017. “Saya ingin harumkan nama NTB, bisa menjadi yang terbaik di tingkat nasional,” ujarnya yakin.

Untuk mewujudkan semua itu, berbagai persiapan telah dilakukan. Menambah wawasan kebahasaan, mengamati kondisi bahasa daerah, bahasa nasioal dan bahasa internasional. “Berbagai program juga sedang kami persiapkan, mohon do’a dan dukungan dari masyarakat,” harapnya.

Tekad Pahrurozi bukan semata-mata meraih gelar. Namun, yang lebih penting dari itu memberikan kontribusi bagi daerah, negara dan agama. Apalagi, dalam dunia kebahasaan saat ini cukup memprihatinkan.

Pengamatan Pahrurozi, banyak bahasa daerah yang tergerus zaman dan punah. Bahasa Indonesia juga sudah tidak lagi menjadi kebanggaan. Sementara bahasa asing, tidak semua masyarakat menguasainya meskipun sangat penting. “Disinilah peran saya, bagaimana melestarikan bahasa daerah, mengkampanyekan bahasa Indonesia yang baik, dan menguasai bahasa asing,” ucapnya khidmat.(*)

BACA JUGA :  Ipda Lale Dewi Lungit Tanauran, Anggota Ditlantas yang Jago Menembak