Mengenal Lebih Dekat Petinju NTB Putra Samada

BERPOSE: Putra Samda berpose bersama tiga rekannya yang lulus sebagai prajurit TNI AD (ABDI/ZAELANI)

Siapa sangka ia dulu pernah menjadi buruh, tukang cuci piring dan dorong rombong. Bahkan ia juga sempat berjualan nasi goreng menuju terminal Sumber Payung di Sumbawa. Kini dengan prestasinya di dunia  tinju, membuat nasib Saputra Samada telah berubah.

 

 


ABDI ZAELANI- MATARAM


 

Petinju NTB, Saputra Samada memiliki perjalanan hidup yang berliku. Jauh sebelum memilih jalan sebagai atlet tinju, ia pernah menggeluti dunia yang cukup berat. Sehari-hari ia bekerja serabutan demi menafkahi diri dan keluarganya.

Jumat (11/11),  petinju yang kini lulus menjadi prajurit TNI AD ini banyak bercerita kepada Radar Lombok. Jauh sebelum memilih terjun membela skuad tinju NTB, ia pernah menjadi buruh, tukang cuci piring dan mendorong rombong.

Tak cuma itu, nyaris sehari-sehari ia juga selalu menyambangi terminal Sumber Payung Sumbawa sekedar untuk berjualan nasi goreng.

Nasib petinju yang turun di kelas 69 kilogram itu akhirnya berubah setelah ia bertemu dengan pemilik Sasana Notarius Indah Dugi Cahyono. Dari perkenalannya dengan sosok inilah jalan hidupnya mulai berubah.

Pertemuan dengan sosok Indah Dugi Cahyono disebutnya sebagai sebuah berkah yang sangat berarti dalam hidupnya. Betapa tidak, sejak dipungut oleh pelatih tinju itu, ia mulai aktif dan sehari-hari ikut berlatih di sasana milik Dugi.

Singkat cerita, dari perkenalannya itu, kemampuan Saputra Samda kian terlihat dan mencolok dari rekan-rekannya. Lantaran itu, Dugi mempercayakannya untuk mencoba menjajal ring tinju sebagai atlet professional.

“Awal karir saya dan mulai dilirik ketika turun di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2014. Di ajang ini saya berhasil meraih medali emas,” ungkapnya.

Sejak itu, ungkapnya, ia dipanggil masuk sebagai skuad NTB yang akan turun di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016. Karena dipercaya, Saputra samada pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia berlatih dengan tekun dan mengikuti arahan pelatihnya.

Rupanya, hasil kerja keras dan latihan yang dilakukan Saputra samada tak begitu sia-sia. Pada PON Jawa barat 2016 kemarin, ia berhasil menggondol medali perak. Meski tidak mendapat medali emas, ia dipercaya pula untuk memperkuat Timnas Indonesia dalam SEA Games 2017. Adan Asean Games 2018.

Pria kelahiran Dusun Bau Lanteh, Kecamatan Sumbawa, 9 Februari 1997  ini kini memiliki nasib yang relatif mujur. Dari prestasinya ia bisa merasakan lebih bernafas lega membantu kehidupan ekonomi keluarganya. Ia pun kini menjadi tulang punggung keluarganya.

“Oh ya, saya bergabung di TNI AD karena lulus lewat seleks jalur prestasi bersama 3 rekan saya yang lain,” ceritanya.

Di SEA Games dan Asean Games nanti, ungkapnya, dirinya akan berusaha untuk tampil semaksimal mungkin. Dirinya bertekad untuk bisa meningkatkan prestasi dengan menyumbangkan medali emas bagi Indonesia. “Saya sekarang bergabung di Pelatnas dan akan menjalani latihan untuk menyongsong kedua event itu,” pungkasnya.

Sementara itu, pelatih tinju NTB, Indah Dugi Cahyono mengatakan, ia mengaku sangat bangga dengan prestasi yang diraih anak asuhnya ini. Berkat didikannya, Samada Saputra menemukan jalan nasib yang jauh lebih beruntung.

“Kemarin orang tuanya Samada ke rumah mencurahkan tentang perasaannya. Mereka menyampaikan terima kasihnya,” ujarnya.

Meski berhasil mendidik Samada, Dugi tak lantas besar kepala. Ia bertekad akan terus melahirkan atlet-atlet tinju berprestasi lainnya untuk mengharumkan nama daerah. (*)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid