Mengenal Ihsan Gazali, Siswa SMK Pembuat Alarm Anti Gempa

Terinspirasi dari Rasa Takut

Alarm Anti Gempa
ALARM : Ihsan Gazali, siswa SMKN 1 Janapria, pembuat alarm anti gempa.

Gempa tidak hanya menyebabkan kerusakan, tetapi juga melahirkan inspirasi terutama berkaitan dengan upaya kewaspadaan terhadap gempa. Nah, siswa SMKN 1 Janapria Lombok Tengah ini membuat aplikasi yang cukup berguna.


JANWARI IRWAN- LOMBOK TENGAH


Ihsan Gazali merupakan siswa SMK 1 Janapria Lombok Tengah pembuat alarm anti gempa. Anak ketiga dari pasangan Saimah dan Jumitri asal Desa Janapria Kecamatan Janapria ini pun menjadi pembicaraan banyak orang. Karyanya diikutkan dalam kegiatan Teknologi Tepat Guna XVII yang berlangsung di Lapangan Tugu Selong Lombok Timur, Kamis (18/07).

Ihsan saat ini duduk di bangku kelas tiga. Ia bercerita soal karyanya ini. Tentu saja idenya terinspirasi dari rasa takutnya akan gempa yang sering terjadi. Ia mencoba mencari solusi agar bisa tidur nyaman.” Musim gempa. Masuk rumah takut. Saya terus berpikir mencari solusinya,” ujarnya.

Setelah beberapa hari, ia mencari bahan yang bisa dimanfaatkan untuk membuat alarm anti gempa. Dan menemukan bahan seperti kabel, saklar ON-OFF, balon dan beberapa bahan yang banyak ditemukan di toko elektronik.  Setelah menemukan barang-barang itu kemudian ia merakitnya menjadi sebuah alarm. Untuk pembelian bahan-bahan ini ia menghabiskan dana sebesar 350 ribu dengan waktu pembuatan dua minggu lebih.

Cara kerja alat ini sederhana. Pengguna bisa menaruh alarm di tempat aman, datar, dan yang pasti suaranya dipastikan bisa didengar dan bisa membangunkan anggota keluarga dari tidur pulas begitu terjadi gempa. “Kalau gempa dengan berkekuatan 2.0 SR hingga 3.0 SR saja, alat ini akan berbunyi dengan sangat keras, yang memungkinkan kita akan segera bagung dari tidur, makanya kalau kita taruh ini harus terhindar dari gangguan kucing dan tikus,” katanya.

Meski sudah berhasil membuat alarm anti gempa ini, tapi menurutnya masih ada kendala yaitu bagaimana agar alat ini bisa berbunyi pada saat mati lampu, karena alat yang dibuat saat ini harus tersambung dengan listrik. Sementara pada saat mati lampu tidak akan bisa berfungsi. “Bagaimana agar alat ini berfungsi dengan dua sistem kami masih mencari solusinya,”akunya.

Alat ini sudah dilombakan di tingkat kabupaten. Bahkan dari pihak sekolah juga sangat mendukung dengan alarm anti gempa ini. Karena apa yang dibuat ini salah satu alat yang bisa dimanfaatkan oleh orang banyak.

“ Karena sekarang kita sedang rawan gempa, maka saya harapkan alat ini bisa dimanfaatkan dengan baik sehingga kita bisa menghindar pada saat gempa melanda kita,”pungkasnya.(*)