Mengenal Endri Susanto, Mantan TKI Pendiri Endri Foundation

PENGABDIAN: Endri bersama anak dan keluarganya yang dibantu. Ratusan anak penyandang cacat dan penderita sakit kronis telah dibantu. (Endri for Radar Lombok)

Endri Susanto, pemuda yang baru berusia 30 tahun berasal dari Dusun Dasan Gebang Desa Pekatan Kecamatan Tanjung  Kabupaten Lombok Utara (KLU)  mengabdikan dirinya untuk membantu penyandang cacat dan masalah sosial lainnya. Dia pun mendirikan yayasan  untuk membantu masyaraat yang membutuhkan bantuan.


HERY MAHARDIKA – TANJUNG


Endri alumni mahasiswa IKIP  Mataram. Dia lulus tahun 2014 lalu. Di kampusnya, dia dikenal sebagai mahasiswa berprestasi.  Dia  mendapatkan berbagai  kesempatan mengikuti  pertukaran pelajar dan pemuda  ke berbagai  negara.   “Saya  masuk kuliah setelah saya pulang menjadi TKI di  Singapura pada tahun 2007-2008. Saya memutuskan untuk pulang karena ingin kuliah pada tahun 2009,” ujarnya pemuda kelahiran 1986 ini kepada Radar Lombok, Kamis kemarin (2/3).

Dia lalu mengambil jurusan Bahasa  Inggris. Selama kuliah, dia aktif di  berbagai organisasi seperti menjadi Presiden Executif English Debate Community (E2DC) tahun 2010-2011, Wakil Presma IKIP Mataram tahun 2011 -2012, Presiden Mahasiswa IKIP Mataram tahun 2012-2013.

Atas kiprahnya itu, ia ditunjuk menjadi duta  pertukaran pemuda ke berbagai negara. Dia pernah mengikuti program  pertukaran pemuda ke Malaysia. Tahun 2011, dia ikut pertukaran pemuda ke Korea Selatan, tahun 2012 pertukaran pemuda ASEAN- China di China, 2012 pertukaran  pemuda ke Korea Selatan dalam rangka program Unesco dan tahun 2013 pertukaran pemuda  ASEAN- Japan di Kamboja. Dari berbagai pertukaran pemuda ke luar negeri  itu, saya  ditunjuk menjadi wakil ketua alumni pertukaran pemuda Indonesia-Korea tahun 2011-2016,” paparnya pemuda yang murah senyum ini.

Setelah lulus kuliah tahun 2014 lalu, Endri aktif di berbagai kegiatan sosial dan kepemudaan. Endri memutuskan fokus pada kegiatan sosial saat menghadiri kegiatan Pemuda Parlemen yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga di Hotel Santika Kota Mataram tahun 2014 lalu. “Dari sinilah cikal bakal pemikiran gerakan itu berjalan pada saat ketemu seorang bule bernama Peter David Honey warga negara New Zealand,'' tuturnya.

Saat itu, Peter David Honey memegang buku daftar orang sakit yang berasal dari Lombok yang telah dibantu selama ini. Endri mendekat Peter dan menanyakan buku yang dibacanya. '' Saya tidak percaya kalau itu semua yang ada di dalam buku orang Lombok. Si bule itupun langsung memperlihatkannya saya. Dari sinilah saya berinisiatif untuk membuktikan  turun langsung,” tuturnya suami Mikrajussa’adah ini.

[postingan number=3 tag=”boks”]

Sejak keluar dari hotel, Endri terus  teringat akan buku itu. Di otaknya, orang asing saja peduli dengan warga tidak mampu, kenapa dia sebagai warga lokal tidak.   Tidak lama, dia mengajak seorang kenalannya warga Malaysia yang tengah berlibur  untuk  keliling Lombok. Selama perjalanan, ia menemukan 300 anak terlantar, kanker, tumor, hydropalus, polio, dan down syndrome.  Mereka  dari warga tidak mampu. Endri lalu menggunakan uangnya sendiri membelikan bahan makanan untuk diberikan kepada anak-anak ini.

Setelah bertemu satu orang penderita penyakit keras, Endri mencoba me-posting melalui akun facebook pribadinya.  Pada hari pertama, respon orang-orang biasa saja. Namun, setelah beberapa hari foto-foto yang di-upload banyak mendapatkan tanggapan.  “Pada saat pertama, saya menggunakan uang pribadi untuk membelikan sembako  kepada penderita penyakit keras tersebut. Kemudian pemberian itu saya upload di facebook. Dari sanalah, ada sumbangan dari orang  lokal dan bule yang sedang berlibur. Begitu juga saya upload sebagai bukti bantuan sudah tersalurkan,” tandasnya.

Endri lalu berdiskusi dengan seorang temannya bernama Adam bagaimana cara supaya kegiatan sosialnya itu  bisa dinaungi sebuah lembaga sehingga terbentuk sebuah Yayasan Endri’S (Endri Foundation) pada bulan yang sama.

Sejak itu, ia berpikir tidak hanya mendistribusikan bantuan sembako tetapi juga bantuan  kesehatan. Apalagi banyak penderita ini  tidak memililki kartu BPJS, KIS dan  akta kelahiran. Dari sanalah, ia bersama pemerintah desa bekerja sama. Pihak desa yang mengurus melengkapi dokumen dan yaysannya  mengurus selanjutnya. “Yang pertama anak yang namanya  Iqbal yang mengalami penyakit hydropalus,” terangnya.

Untuk membiayai kegiatan sosial ini, ia bersama sejumlah pemuda dan wartawan turun keliling ke pasar untuk menarik sumbangan dari para pedagangan. Dari sanalah terkumpul dana  dan langsung disalurkan. Kegiatannya tetap diunggah di media sosial.  “Semakin banyak di- upload semkin banyak bantuan. Gerakan pertama itu khusus di Lombok  Utara. Kami bergerak di Lombok Utara selama tujuh bulan. Yang sudah mendapatkan bantuan ratusan orang pasien baik kursi roda, tongkat, pengobatan penderita  kanker dan tumor,” jelasnya.

Sembari membantu orang lain, Endri pada bulan Oktober 2014 masuk menjadi staf ahli  Komisi IX  DPR RI. Selama menjalankan tugasnya menjadi staf ahli, Endri jarang pulang ke Lombok Utara seperti biasanya untuk membantu orang-orang sakit. Ia pun kerap ditelpon para orang tua penderita. “Setelah saya masuk itu, saya tetap itensi namun merasa kurang maksimal memberikan perhatian,” tuturnya.

Namun di sela-sela kegiatannya yang padat, Endri bersama teman-temanya tetap turun ke masyarakat. Gerakannya tidak hanya di Lombok Utara saja, tetapi juga di  Dompu, Sumbawa dan Bima.  Telah banyak warga yang dibantu.

Endri lalu menyewa rumah di Pagutan, Kota Mataram yang dijadikan sekretariat. Biaya sewa bangunan ini bantuan seorang pengusaha. Pada bulan Agustus tahun 2015, kegiatan yang dilakukan Endri dilirik Wheelcher For Kid Foundation Australia. Endri  diundang ke Bali  untuk mengikuti pelatihan pemasangan perakitan kursi roda yang berlangsung selama delapan hari dan langsung mendapatkan sertifikat untuk layak melakukan perakitan di pulau Lombok. “Yayasan Endri’s sudah resmi pada bulan Juni tahun 2015,” jelasnya.

Untuk memaksimalkan kegiatan Yayasan Endr’s, ia mengundurkan diri menjadi staf ahli DPR RI setiap bulannya digaji Rp 7,5 juta. Begitu juga posisinya sebagai anggota Panwaslu Lombok Utara. Dia lebih memilih mengelola yayasan yang dibentuknya meskipun tanpa ada gaji yang diterima.

Setelah mendapatkan sertifikat, tahun 2016 lalu  ia mendapatkan bantuan 85 unit kursi roda yang kemudian disebarkan ke anak-anak penderita  penyakit polio, seribal palsi dan down syndrome.   “Untuk kursi orang tua tersebar  juga pada tahun 2015 sebanyak 25 unit bersumber  dari relawan facebook,” tandasnya.

Kemudian, pada tahun 2016 memberikan bantuan berupa 250 unit tongkat disebarkan ke anak-anak yang ada pulau Sumbawa dan Lombok yang menderita penyakit stroke dan lumpuh. Dari sanalah pasien terus bertambah mencapai 300 orang lebih. Bahkan, warga dari NTT telah meminta bantuan kepada dirinya. “Dan tahun 2017 ini akan ada program seribu tongkat untuk penyandang disabilitas di NTB,” ungkapnya.

Membantu orang lain bagi Endri, panggilan jiwanya. Ia merasa bahagia pada saat ini melihat orang lain tersenyum. “Motivasi saya ingin memberikan yang terbaik kepada orang lain. Ketika ingin memberikan terbaik, harus memposisikan diri ke mereka supaya bisa merasakan,” optimisnya.

Sembari memberikan bantuan, Endri selalu menekankan pendidikan kepada keluarga pasien, agar mampu merawat anak-anaknya atau orangtuanya. Dalam Yayasan Endri's ini yang menjadi prioritas adalah anak-anak  yang memiliki masa depan.  Ia menginginkan masyarakat khususnya penyandang disabilitas atau pengidangpenyakit kronis juga mandiri dengan  membawa diri sendiri ke puskesmas atau berani bertemu dokter untuk bertanya. “Yang menjadi  tantangan terberat dari kalangan keluarga penderita yang kadang menolak. Namun, kami tetap memberikan motivasi, setelah diberikan kesadaran mereka mau,” tandasnya.

Ketika mereka menemukan warga yang menderita sakit,Yayasan Endri's langsung membawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Bagi yang  tidak memiliki BPJS, Yaysan Endri's  yang langsung menguruskan.   Sementara pada saat mereka perawatan, keluarga pasien tidak memiliki biaya transportasi dan makan, maka Endri dan kawan-kawan  siap menanggungnya.

[postingan number=3 tag=”kesehatan”]

Bekerja sosial tidak mendatangkan pendapatan. Untuk membiayai kebutuhan keluarga dan yayasan, Endri  hanya mengandalkan hasil kebun seluas 2 hektar miliki keluarganya dan kebun yang dibelinya saat  jadi TKI di Singapura. Dari sanalah, selama empat bulan sekali, dia  panen  cokelat, kelapa dan mente. Selain itu, ia juga membuka warung. “Ini untuk menanggung biaya hidup keluarga, saya yakin rezeki itu akan datang Allah. Saya tidak perlu takut akan rezeki Allah yang luas,” katanya  optimis.

Ia selaku pendiri Yayasan Endri’s memilik mimpi bagaimana bisa  membantu penderita  penyakit kronis, seperti kanker. Dia bercita-cita ingin

mendirikan rumah sakit kanker di Mataram. “Kalau saat ini sudah ada satu unit mobil operasional bantuan pengusaha Singapura dan lima unit motor operasional dari orang bule. Kedepan, kami harus bisa memberikan lebih baik,” pungkasnya.(*)