Mengenal Bripka Suhartono, Polisi Yang Mencetak Hafiz Qur’an

Berbagi Tugas dengan Istri Mendirikan TKIT-KBIT

Bripka Suhartono
KEGIATAN SEKOLAH : Salah satu kegiatan belajar mengajar di sekolah TKIT-KBIT Andalusia Islamic Pre School Mataram. (ALI MA’SHUM/RADAR LOMBOK)

Bripka Suhartono bukan polisi sembarangan. Meski hanya berpangkat bripka. Ia memiliki niat mulia untuk memajukan pendidikan. Ia berkeinginan untuk mencetak sebanyak-banyaknya pengahafal (hafiz) Alquran. Berkolaborasi dengan sang istri. Ia mendirikan dan membangun TKIT-KBIT Andalusia Islamic Pre School.


ALI MA’SHUM—MATARAM


SEPERTI kebanykan polisi, Bripka Suhartono juga memiliki tampang sangar. Kesehariannya, ia bertugas sebagai penyidik di Unit Reskrim Polsek Ampenan. Siapa sangka di balik tugasnya sebagai aparat penegak hukum. Ia mempunyai jiwa pendidik tinggi. Bersama sang istri, Chaoirina Dwi Nafisah, dua sejoli ini mendirikan TKIT-KBIT Andalusia Islamic Pre School. ‘’ Sekolah ini mulai beroperasi berdasarkan akta pendirian tanggal 3 Agustus 2016,’’ tuturnya mengawali cerita awal mula berdirinya sekolah di Mataram, kemarin.  

TKIT-KBIT Andalusia Islamic Pre School berada di Jalan Arif Rahman Hakim Karang Bedil Kelurahan Mataram Timur Kecamatan Mataram. Saat ini siswanya berjumlah 75 siswa. Terdiri dari program day care, kelompok bermain (play group) serta kelas TK A dan TK B. Kemudian juga tenaga pendidik berjumlah 14 orang. Semuanya lulusan S1 Pendidikan. ‘’Semua pengajarnya dengan kualifikasi S1 Pendidikan,’’ ungkapnya.

Sekolah itu didirikan berawal dari keprihatinannya dengan pendidikan agama yang kurang didapatkan siswa saat ini. Ia juga berkeinginan anak-anak saat ini faham dan hafal Alquran. Niat tersebut kemudian diaplikasikan dengan membangun sekolah. Tujuan utamananya adalah untuk mencari bibit tahfiz. “Kita mengupayakan di sekolah ini anak TK hafal satu juz  saat tamat nanti.  Yaitu juz 30 serta menghafal hadist dan doa harian,’’ kata lelaki 39 tahun ini.

Ditambah lagi dengan sang istri yang memang sejak awal pernah mengelola salah satu TK di Mataram. Kolaborasi keduanya kemudian merintis sampai dengan membangun sekolah. Keduanya juga segera melengkapi semua izin operasional yang dibutuhkan. Seperti izin operasional TK, izin penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kota Mataram. Bahkan, sekolah yang dibangunnya ini sudah masuk dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia. “Jadi ini bukan sekolah abal-abal.  Izinnya sudah lengkap dan masuk dalam JSIT,” tegasnya.

Ia juga berkeinginan, agar siswanya kelak bisa enterprenuer (usaha), tidak terpaku ingin jadi pegawai. Tapi juga memiliki jiwa pengusaha mengingat era saat ini teknologi dan kebebasan. Sehingga anak-anak  menurutnya perlu disaring  (filter) dengan pemahaman agama. “Perkembangan zaman saat ini tidak jelas. Untuk itu kita perlu mendidik anak-anak sejak dini,” terangnya.

Suhartono juga mengakui, berkecimpung dengan dunia pendidikan tidak menggangu tugasnya sebagai polisi selama ini. Sebisa mungkin membagi waktu. Lagi pula, keseharian sekolah dominan dikelola sang istri.  Tono panggilan akrabnya, lebih banyak terlibat membantu kelancaran fisik sekolah. “Seperti ada kekurangan apa di sekolah, saya  yang turun. Pengelolaan itu istri saya dibantu guru-guru yang lain,” katanya.

Perjalanan Bripka Suhartono membangun sekolah ini juga dituturkan sang istri, Chaoirina Dwi Nafisah. Wanita berhijab ini mengatakan, beberapa kendala ditemukannya dalam membangun sekolah tersebut. Salah satunya adalah persoalan lokasi yang statusnya masih menyewa. Sehingga membatasi ruang geraknya dalam mendesain kebutuhan sekolah, seperti letak ruangan dan lahan parkir. “Kalau untuk proses belajar mengajar tidak ada masalah,” katanya. 

Kedepannya, Chaoirina berharap sekolahnya bisa memiliki sarana dan prasarana sendiri. Ia berharap ada pihak berkenan menghibahkan sebidang tanah untuk pembangunan sekolah yang dirintisnya itu. Ia juga berharap sekolahnya kelak bisa berkembang dari lembaga menjadi yayasan. “Kalau dari segi pendidikan bisa meluluskan hafiz dan hafizah yang berjiwa mandiri,” harapnya. 

Selama ini, proses penerimaan siswa dilakukan dengan beberapa cara. Seperti memasang spanduk dan brosur di beberapa titik. Ajakan juga dilakukan melalui media sosial. ‘’ Namun saat ini kebanyakan dari dari mulut ke mukut orang tua murid,’’ sebutnya. 

Meski tergolong sekolah baru, tapi sekolah ini sudah mengadakan beberapa event kegiatan. Di antaranya mengadakan workshop robotic yang diadakan di sekolah. Ini bertujuan untuk mengenalkan anak usia dini  pada teknologi. Event lainnya lainnya, kreativitas tanpa batas seperti sulap edutainment. Kemudian juga kegiatan parenting dengan pembicara artis ternama. “tahun ini kegiatannya untuk membuat kerjainan tangan (handmade),’’ pungkasnya. (**)