Mengenal Brenda Gladystha Rupudara, Wakil NTB dalam Ajang Smart Model Look Indonesia 2018

Pede Andalkan Desainer Asli NTB

Brenda Gladystha Rupudara Wakil NTB dalam Ajang Smart Model Look Indonesia 2018
JUARA : Inilah Brenda Gladystha Rupudara, pemenang Smart Model Look Indonesia 2018 yang dilaksanakan di Bali, Minggu malam (21/10). (IST/RADAR LOMBOK)

Malam grand final Smart Model Look Indonesia 2018 dilaksanakan di Bali, Minggu, (21/10). Brenda Gladystha Rupudara asal Kota Mataram terpilih menjadi pemenang dalam ajang bergengsi ini.


AZWAR ZAMHURI – MATARAM


Brenda masih di Bali ketika Radar Lombok menghubunginya, Senin sore (22/10). Bahagia sekali gadis cantik kelahiran Ampenan, 06 Juni 2003 ini. Menjadi The Winner dalam ajang Smart Model Look Indonesia 2018 tentu saja sangat membanggakan. Tidak sembarang yang bisa dipaggil ke Bali untuk menjalani proses karantina hingga menjadi yang terbaik. Hanya 87 orang dari seluruh provinsi di Indonesia. “ Yang ke Bali itu harus juara 1,2,3 di daerahnya,” tutur anak kedua dari pasangan Alexsander N. Rupidara dan Ritha Taruk Limbong ini.

BACA JUGA: Jhon Ciptakan Lagu Buat Jokowi

Brenda sendiri awalnya tidak  terpikirkan bisa menjadi yang terbaik. Apalagi saingannya sangat berat. Terutama peserta asal Jawa Tengah, yang memiliki postur tubuh juga lebih tinggi. Setelah Provinsi NTB disebut sebagai pemenang, haru bercampur bahagia muncul dari wajah Brenda. Ia mampu mengalahkan seluruh peserta dari daerah lain yang tentu saja persiapannya lebih matang.

Siswi kelas 1 SMAN 2 Mataram ini menilai, rasa percaya diri menjadi salah satu kunci kemenangannya. Bukan saja kemampuan yang ditunjukkan selama kegiatan, namun juga berani tampil dengan busana desainer asli NTB. “ Mungkin menang karena Brenda aktif, gak malu. Selama ikut lomba, Brenda pakai gaun hasil desainer NTB,” ucap alumni SMPN 2 Mataram ini.

Sejak tanggal 19 Oktober pada masa karantina, juri melakukan penilaian. Berbagai lomba dimasukkan dalam penilaian. Termasuk, bakat yang dimiliki peserta di luar modeling.

Etika atau kepribadian saat karantina, tidak luput dari penilaian. Disini lah salah satu kelebihan Brenda, pandai bergaul dan aktif dalam berbagai kesempatan. “ Kalau ditanya, Brenda angkat tangan menjawab. Etika juga kan dinilai, karena menjadi model gak hanya punya tubuh bagus dan wajah cantik saja, tapi etika juga penting,” kata dara berwajah ayu yang tinggal di Jalan Sadari nomor 22 Ampenan ini.

Mental memang menjadi persiapannya. Bagi Brenda, gempa lebih menakutkan daripada persaingan dengan orang dari daerah manapun. “Kita harus percaya diri. Harus berani membawa nama Lombok, kita harus bangkit. Brenda takut gempa, tapi tidak takut menunjukkan kemampuan yang Brenda miliki,” ujarnya manja.

Mengharumkan nama Lombok, bukan sekedar jargon bagi alumni SD 38 Mataram ini. Terbukti, semua hal tentang Lombok, dioptimalkan dengan baik. Termasuk dalam hal busana yang dikenakan.

Pada malam grand final, ada beberapa jenis lomba. Seperti mengenakan busana batik dan busana pesta. “Brenda menggunakan gaun malam karya tangan orang NTB, kakak Jayho Regoya namanya. Beliau desainer yang selalu dukung Brenda,” ungkap pemilik mata indah ini.

Model uang bercita-cita menjadi dokter ini, bukan kali pertama ikut ajang Smart Model Look Indonesia. Tahun 2017 lalu, dirinya pernah menjadi peserta. Namun hanya bisa masuk sampai 10 besar saja.

Mengikuti kontestasi, bagi Brenda bukan hanya tentang juara dan gelar. Pengalaman dan ilmu, menjadi hal yang juga sangat penting. “ Lomba ini juga bagus. Penilaian juri murni, bisa keluarkan bakat selain model juga. Saat karantina, kita dapat ilmu publik speaking, modeling, dan banyak hal diajari,” terang Brenda yang usianya baru 15 tahun.

Kedepan, banyak hal yang ingin dilakukan pencinta dance ini. Namun yang terpenting, Brenda ingin berkontribusi memperkenalkan kekayaan budaya Lombok ke seluruh penjuru Indonesia dan dunia.

Modeling, memang pilihan hidupnya saat ini. Sang ayah yang wiraswasta dan ibu seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), tentu memberikan dukungan penuh. Meski, tidak bisa mengajari Brenda tentang dunia model.

Dalam keluarga juga, hanya Brenda yang terjun di dunia model. Kakaknya yang kuliah di Bandung, tidak memiliki bakat seperti dirinya. “Ikut modelling sejak kelas 2 SMP. Awalnya lihat-lihat teman model, lalu coba-coba. otodidak dah, karena orangtua dan kakak juga bukan model,” ucap dara berwajah ayu ini.

Pertama kali ikut lomba, ketika kelas 2 SMP untuk menjadi Brand Ambasador Lombok Epicentrum Mall (LEM). Namun tidak mendapatkan apa-apa. “Sering kalah dulu. Tapi gak mau nyerah. Akhirnya bisa dapat top model juara 3 untuk duta museum. Itu prestasi pertama, dan bikin tambah semangat lagi,” tutur Brenda.

Menjadi Duta Bricela juga pernah diraihnya. Kemudian 15 besar Indonesia Top Model dan berbagai ajang lokal dan nasional lainnya. “Kadang merasa bosan. Tetapi untuk mencapai cita-cita harus penuh dengan perjuangan. Harus selalu berdoa dan berjuang, itu yang diajarkan orang tua,” kenangnya.

Meski masih berusia belia, namun Brenda telah cukup matang memahami isi dunia. Suka dan duka dalam dunia modeling, telah menempa dirinya menjadi pribadi yang kuat dan pantang menyerah.

BACA JUGA: Lelah Tunggu Bantuan Pemerintah, Sukarno Bangun Rumah Terbalik

Pengetahuannya dalam dunia model, diakui masih minim. Itulah yang membuatnya terus ingin belajar. Apalagi usianya saat ini masih muda. Ketatnya persaingan, harus dijadikan motivasi untuk terus lebih baik. “Brenda senang juga, karena memiliki banyak teman. Contohnya seperti dalam lomba  Smart Model Look ini, bisa memiliki banyak teman dari berbagai suku dan dapat menambah wawasan,” yakinnya.

Tidak perlu menanyakan nilai akademik Brenda di sekolah. Meski sibuk dengan segudang aktivitas, namun prestasinya tetap membanggakan. Tuhan memang telah memberikan kepintaran padanya. “Pada saat kelulusan SMP, Brenda dapat pringkat ke-4 di dalam kelas. Dan hasil ujian nasional Brenda sangat bagus. NEM Brenda 35,50. Jadi tidak mengganggu pendidikan Brenda,” tutupnya.(*)