Mengabdi Belasan Tahun, Berhasil Bangun PAUD Pasar Percontohan

PENGHARGAAN : Baiq Erna Andayani menunjukkan penghargaan sebagai peserta orientasi dan seleksi PSM Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2016 kemarin (ZULKIFLI/RADARLOMBOK)

Menjadi Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) sejak tahun 2000 di bidang penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PKSM) sangat dinikmati Baiq Erna Andayani. Bagi ibu dua anak ini, menjadi PSM merupakan sebuah hobi tanpa ingin dipuji ataupun diberikan penghargaan. Tapi dengan banyaknya prestasi di bidang sosial, berbagai pengakuan dan penghargaan pun diraihnya.

 

 


ZULKIFLI – GIRI MENANG


 

Pada 2016 ini Kementerian Sosial (Kemensos) RI kembali mengadakan lomba PSM Berprestasi Tingkat Nasional. Dan Andayani terpilih menjadi satu-satunya wakil Provinsi NTB setelah melalui tahapan seleksi tingkat kabupaten Lombok Barat dan NTB. Dari 34 perwakilan masing-masing provinsi, nama Andayani melejit, masuk 17 besar dan kini sedang dilakukan seleksi untuk masuk lima besar.

Tim penilai dari Kemensos pun mengunjungi kediaman Andayani, Senin (10/10) untuk mengetahui secara langsung apakah yang disampaikan Andayani dalam presentasinya di Jakarta benar atau tidak. Beruntungnya, Bupati Lobar, Fauzan Khalid bersama Sekretaris Daerah, HM. Taufiq dan sejumlah kepala SKPD memberikan dukungan luar biasa dalam peyambutan tim penilai dari Kemensos tersebut.

Apa saja yang sudah dilakukan Andayani sehingga bisa mewakili NTB dalam lomba PSM Berprestasi Tingkat Nasional 2016? Kemarin koran ini mendatangi kediaman Andayani di Kelurahan Gerung Utara Kecamatan Gerung. Kediamannya tampak seperti taman PAUD, karena ada banyak wahana permainan dan ruang kelas. Benar saja, ini merupakan PAUD yang dibangunnya untuk mengakomodir pendidikan anak-anak sekitar. “ Kebetulan anak-anak sudah pulang, pukul 10.00 WITA mereka pulang,” ungkap Andayani.

Menjadi PSM kata ibu rumah tangga ini, merupakan sebuah hobi dan ada kepuasan tersendiri, karena bisa membantu sesama. Ia tidak pernah berpikir  bagaimana mendapat pujian ataupun penghargaan. Kendatipun saat ini sudah banyak penghargaan yang didapatkannya.

Ada banyak kegiatan sosial yang dilakukannya diantaranya dalam membantu anak terlantar, anak korban kekerasan atau pelecehan seksual, anak dengan kebutuhan khusus, wanita rawan ekonomi dan sosial, difabel, fakir miskin, eks narapidana, korban penjualan manusia, mantan buruh migran hingga pendidikan.

Pada awalnya kata istri Camat Lembar ini, dirinya bekerja seorang diri melakukan pendampingan dan fasilitasi, dengan merogoh kocek pribadi. Namun seiring waktu, bantuan yang diberikan belum maksimal. Lambat laun Andayani pun mencoba untuk menjalin mitra dengan lembaga-lembaga pemerintah, swasta serta donatur. Alhamdulillah, apa yang dilakukannya semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kemitraan antara lain dijalin dengan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Lobar, Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil NTB, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lobar, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga NTB, Dinas Kesehatan Lobar, Badan Keluarga Berencana Perlindungan Perempuan Lobar, TP PKK Lobar, GOW Lobar, DPW Lobar, PSMP Paramita Mataram, Kepolisian hingga lembaga luar NTB seperti Yayasan Pondok Kasih Surabaya dan International Humanity Foundation (IHF) Jakarta.

Sebagai contoh kerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lobar. Melalui kerja sama tersebut, wanita rawan sosial dan ekonomi yang dibina mendapatkan pelatihan menjahit, membuat kue sekaligus mendapatkan peralatan menjahit dan peralatan membuat kue. Kemudian dengan PSMP Paramita Mataram dalam hal penanganan anak-anak korban kekerasan atau pelecehan seksual. “Kemudian dengan IHF Jakarta, kita diberikan pelatihan guru (PAUD),” jelasnya.

Diterangkan Andayani, selain PAUD yang ada di kediamannya ini, ada juga PAUD atau lebih tepatnya semacam tempat penitipan anak di Pasar Gerung, beberapa ratus meter dari kediamannya. Tempat itu dibangun karena prihatin dengan banyaknya anak-anak usia PAUD ikut dengan ibunya berdagang di Pasar Gerung. Anak ditempatkan di gerobak-gerobak, atau sambil digendong atau dibiarkan berkeliaran di Pasar Gerung, sambil menunggu ibunya selesai jualan. Sehingga pada 2009, dirinya berinisiatif membangun tempat penitipan anak di Pasar Gerung dengan memanfaatkan Mushola Pasar Gerung. Sembari menunggu ibunya selesai jualan, anak-anak ini bisa bermain dan belajar dengan guru-gurunya. Guru-guru ini pun mendapatkan insentif dari pemerintah dan tempat penitipan anak yang dibangunnya ini pun menjadi percontohan di NTB. “Dan Alhamdulillah sampai saat ini berjalan dengan baik. Meskipun tempatnya sangat ribut, karena di samping mushola itu banyak yang jualan,” terangnya.

Beruntung beberapa waktu lalu, pihaknya mendapatkan bantuan 20 are yang letaknya di sekitar Pasar Gerung, untuk pembangunan PAUD dari Pemkab Lobar. Saat ini belum dilakukan pembangunan, karena anggaran belum ada. “Ya semoga saja ke depan kita ada anggaran untuk membangun PAUD di sana. Biar anak-anak juga bisa bermain dan belajar dengan lebih nyaman,” pungkasnya.(*)