Menengok Komunitas Sepeda Ontel atau Tua di NTB

ANTIK : Anggota komunitas penggemar sepeda tua atau ontel Lombok memamerkan sepeda antik yang dimilikinya dalam sebuah acara belum lama ini. (Ahmad Yani/Radar Lombok)

Di NTB banyak komunitas. Ada komunitas yang terbentuk karena dilatarbelakangi hobi anggotanya. Seperti komunitas , komunitas penggemar sepada ontel Lombok.


AHMAD YANI — MATARAM


Di sebuah hotel berbintang di Kota Mataram diundang sejumlah komunitas  dalam suatu acara belum lama ini. Salah satu komunitas yang menarik perhatian adalah komunitas penggemar sepeda ontel. Anggota komunitas tersebut berasal dari kabupaten kota di Pulau Lombok.

Ada puluhan sepeda ontel yang tergolong  antik  dipamerkan, lengkap dengan pernak – pernik terpasang di sepeda tersebut. Masing – masing kabupaten/kota di Pulau Lombok memiliki kelompok dan anggota masing – masing. " Di Mataram saja kita ada 60 orang anggota," kata I Gede Wijaya, salah satu anggota komunitas sepeda ontel, kepada Radar Lombok, kemarin.

Memiliki hobi mengoleksi sepeda antik  harus siap merogoh kantong sendiri dalam – dalam.  Para anggota komunitas ini memang  kebanyakan orang seni dan pengoleksi barang antik. Namun mereka  selalu hunting  untuk mendapatkan barang-barang orisinil untuk aksesoris sepeda.

Spart part dan onderdil dari sepeda ontel tersebut tak mudah diperoleh. Karena spart dan onderdil sangat jarang. Maka harga pun cukup mahal. Bahkan, tak jarang anggota komunitas harus  keluar negeri hanya berburu spart part dan onderdil sepeda antik tersebut.

Kendati demikian, hal tersebut tak menyurutkan hobi dan minat bagi para penggemar sepeda antik tersebut." Ketersediaan spare part Biasa disinilah kendala dan hambatan kita" ucapnya.

Namun biasanya, hal itu teratasi dengan jejaring dimiliki komunitas sepeda ontel tersebut. Hampir di semua daerah, bahkan di sejumlah negara di kawasan Asian Tenggara memiliki komunitas penggemar sepeda antik.

Dengan jejaring yang  dimiliki itu, biasanya mereka berbagi informasi. Tak hanya keunikan dan keotentikan dari sepeda tersebut yang dipertahankan. Namun terpenting pula, ada nilai historis dan kesejarahan luar biasa dari sepeda itu. Hampir sebagian besar sepeda ontel dipamerkan tersebut adalah produksi di bawah tahun 1945 atau sebelum masa kemerdekaan. Bahkan, sepeda tertua yang  dipamerkan tersebut adalah produksi tahun 1920. Sepeda antik itu menjadi saksi bisu sejarah anak bangsa ini mengusir, merebut dan mempertahankan kemerdekaan republik ini dari penjajah. " Ada nilai dan historis sejarah perjalanan bangsa ini terekam dalam sepeda ontel ini," kata Agus Pae, anggota komunitas sepeda ontel lainnya.

Uniknya lagi, sepeda ontel yang  dipamerkan pemilik tersebut sebagian sudah dipergunakan keliling nusantara. Bahkan, salah satu habis dipergunakan keliling negara-negara di  Asia Tenggara. " Salah satu anggota kami baru pulang goes to Asian dengan menggunakan sepeda ontel," tuturnya sambil menunjuk kearah salah sepeda berdiri berjejer rapi.

Dengan jejaring yang dimiliki komunitas penggemar sepeda tua tersebut, hal itu memudahkan bagi penggemar sepeda ontel tersebut berkeliling nusantara dan negara lainnya.

Mereka biasanya singgah di anggota komunitas ada di daerah dan negara tersebut. Sering kali kesempatan tersebut dipergunakan berburu spart part dan onderdil yang  kemungkinan ada di daerah dan negara disinggahin tersebut.

Komunitas ini diharapkan mampu merubah imej remaja dan anak muda yang menganggap sepeda merupakan barang yang sudah tidak diperlukan dan tergantikan oleh kendaraan bermotor. Sebenarnya imej ini yang harus ubah. Pihaknya berharap  orang-orang kembali ke masa lalu dan menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. '' Alangkah bersih dan sehatnya kota, jika keinginan itu bisa terwujud,” harapnya.

Ia mencontohkan negara maju, seperti Amerika dan Eropa yang sudah memasyarakatkan penggunaan sepeda kepada penduduknya. Bahkan  di China sejak dahulu menjadikan sepeda sebagai alat transportasi warganya.

Krisis BBM acap kali terjadi, membuka mata dunia, bahwa alat transportasi sepeda menjadi sangat penting dan sebagai salah satu solusi dalam mengatasi problem BBM. Sepeda tak lagi menjadi bahan pajangan, tapi benar-benar difungsikan sebagai alat transportasi.

“Di negara maju saja sosialisasi kearah tersebut sudah dilakukan, lantas kenapa kita tidak mencobanya?,” lugasnya.(yan)