Menengok Kehidupan Para Pengunsi di Desa Aik Berik (Bagian 1)

Pagi Bahagia, Malam Menderita

Menengok Kehidupan Para Pengunsi di Desa Aik Berik
BOKS: Inilah kondisi warga di Desa Aik Berik saat menghibur diri mereka dengan berbagai permainan yang diinisiasi Polres Lombok Tengah, Sabtu kemarin (1/9). (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

Sehari-hari menjalani kehidupan di tenda membuat para korban bencana gempa bumi di Desa Aik Berik Kecamatan Batukliang Utara memiliki segudang cerita. Ketika malam tiba, mereka mulai menderita karena merasa takut atas kemungkinan terjadinya gempa lagi dan ditambah rasa dingin. Namun, pada paginya mereka kembali ceria karena berbagai hiburan yang datang untuk menemani mereka.


*M. HAERUDDIN – PRAYA*


RATUSAN warga mulai bergegas mempersiapkan selimut dan perlengkapan tidur lainya. Sembari menuju tenda besar yang mereka buat, rasa dingin terasa menyengat tubuh. Tak lupa pada malam itu mereka saling menghibur dengan berbagai cerita kebahagiaan. Tak ketinggalan berbagai instansi dan lembaga lainya tetap mendatangi mereka untuk memberikan hiburan.

BACA JUGA: Putri Ayu Marta Tila’ar, Juara Nasional Lomba Masak Ikan Nusantara (LMIN) 2018

Aktivitas sehari-hari warga Dusun Pemotoh Tengak Desa Aik Berik ini sudah berjalan sejak gempa memorak porandakan rumah mereka bulan lalu. Jika malam tiba, mereka selalu kumpul di masjid darurat dekat tenda mereka. Di sanalah mereka saling menghibur diri dan bertukar informasi untuk menghilangkan kegelisahan atas bencana yang menimpa mereka.

Rasa takut pada malam hari memang tak bisa mereka pungkiri. Selain karena takut gempa, warga juga takut bahaya lainnya di tempat pengungsian. Mengingat cuaca dingin dapat membuat binatang melata keluar berkeliaran. Tida menutup kemungkinan akan merayap ke tenda tempat pengungsian mereka. “Pokoknya kalau malam sudah tiba, maka kita sudah mulai was-was,” tutur salah seorang pengungsi Inaq Sri kepada Radar Lombok, akhir pekan kemarin.

BACA JUGA: Kesan Relawan Yang Membantu Korban Gempa

Untuk menghilangkan rasa takut itu, warga pun memilih berkumpul di masjid atau tenda bersama. Dalam kesempatan itu, tidak jarang ada donatur atau dermawan datang untuk sekadar memberikan hiburan. Meski begitu, ketakutan malam hari tetap saja menyelimuti mereka. “Makanya kalau malam kadang kita giliran tidur di tenda, karena kita juga menjaga anak-anak. Di satu sisi, kita merasa takut juga,” ujarnya.