Menengok bisnis Sablon Syahrial Hamdani Aulia Yang Menjanjikan

SABLON; Inilah Syahrial Hamdani Aulia salah satu Sabloner Lombok saat mengerjakan jasa sablonnya. (NASRI BOEDJANA/RADAR LOMBOK)

Bisnis sablon baju mungkin tidak banyak yang meliriknya, karena besaran omzet dan banyaknya waktu luang yang tersita masih menjadi pertimbangan. Namun siapa sangka, usaha tersebut tidak kalah hebat dengan usaha lainnya yang beromzet tinggi, seperti yang didapat Syahrial Hamdani Aulia, seorang pemilik sablon di Lombok Timur dengan omzet puluhan juta per bulan.


NASRI BOEDJANA–LOMBOK TIMUR


DUNIA bisnis sablon baju memang tidaklah segampang yang dibayangkan. Karena selain membutuhkan keuletan yang tinggi, pelaku bisnis atau sablon juga harus memiliki skill dan jiwa seni menggambar yang tinggi. Ide dan gagasan yang sifatnya kreatif sangat dibutuhkan selama menggeluti bisnis sablon baju. Pasalnya dengan kreativitas tinggi, bisa menggaet konsumen untuk menggunakan jasanya. “Di dunia sablon ini kita memang di tuntut kreatif, aktif, dan berjiwa senin tinggi,” kata Syahrial Hamdani Aulia kepada Radar Lombok, Kamis (12/5).

Pria yang akrab disapa Danik ini membangun bisnis sablon mulai sejak 2014 lalu. Keuletan serta keaktifan dibarengi kreativitas tinggi rupanya lambat laun memiliki hasil yang signifikan. Pasalnya, tidak lama setelah memulai bisnisnya, pemesan yang sablon baju, termasuk yang minta didesainkan langsung cukup membludak. Di antaranya, mereka paling banyak dari kalangan sekolah dan pelaku usaha Clothingan Distro baju kekinian.

Pendapatan yang membludak ini berlangsung sejak sebelum mewabahnya Covid-19. Karena konsumen yang memakai jasanya tidak hanya ddari wilayah Pulau Lombok saja. Namun ada juga dari pulau Sumbawa dan luar daerah, seperti Kalimantan. Omzet yang didapat dari jasa sablonnya itu bisa mencapai 30 jutaan per bulan, dengan target 500 buah baju dalam satu bulan. “Alhamdulillah omset kotor saya mencapai 30 juta waktu itu. Tapi sekarang agak menurun, kadang 15 juta, kadang 10 juta,” bebernya

BACA JUGA :  Yuliana, Siswi Peraih Juara Dunia Pencak Silat 2018

Lewat bisnis sablon, ayah dua anak ini mengaku tidak pernah kesulitan soal uang. Karena selama ia menggeluti bisnisnya, pendapatannya jarang merosot, termasuk sampai saat ini. Tinggal di kampung, Desa Teros, Kecamatan Labuhan Haji, membuatnya cukup bermanfaat. Pasalnya, dengan bisnisnya itu ia bisa memperkerjakan anak muda setempat.

Mengawali karier di dunia sablon berlangsung cukup lama. Sebelum membangun usaha sendiri, ia awalnya menjadi tim desainer di salah satu tempat sablon. Namun dengan modal skill dan keseriusannya di dunia sablon, akhirnya pria kelahiran 1987 ini membuka bisnis sendiri. “Keinginan membuat usaha sablon sudah berlangsung sejak 2008 silam, sejak masih di bangku kuliah. Karena memang hobi saya itu desain gambar visual,” tuturnya.

Periode 2014 sampai 2019 bisnis sablonnya sangat familiar. Karena sejumlah pelaku usaha baju anak muda, selalu jasanya digunakan sebagai tempat sablon. Pasalnya, hasil dan kualitas yang diberikan dari jenis sablon Manual itu cukup memuaskan konsumen. Memasuki era pandemi dari 2020 itu, pemesan mulai menurun. Praktis pendapatannya juga menjadi menurun. Namun justeru masa pandemi itu membuatnya semakin kreatif.

BACA JUGA :  Mengunjungi Ruang Khusus Cuci Darah di RSUD Kota Mataram

Sehingga di pertengahan 2021 lalu, beberapa orderan yang didapat selalu dari karyanya sendiri dengan berbagai model desain. Akibatnya pemesan pun jarang sepi, meski tidak seramai sebelum pandemi. Tahun 2022 ini keadaan mulai sedikit normal. Pemesan sablon kerap tembus 200-an baju. Bahkan di awal tahun 2022 itu, ia berhasil membeli satu set mesin jahit kaos. Dengan demikian, selain terima jasa sablon, Danik juga mulai produksi baju kaos sendiri. “Kita gak pernah terima sablon yang sifatnya satuan. Minimal 12 baju baru kita kerjakan sekali sablon. Dalam sebulan bisa 200 sampai 500 buah,” katanya.

Berkat ketekunannya di dunia bisnis sablon bernama Sfinate Screen Printing. Selain mampu mendongkrak ekonomi keluarganya, ia juga dipercaya sebagai Ketua Persatuan Usaha Sablon di Lombok Timur (SLOTIM). Sebagai wadah mempersatukan pelaku bisnis sablon di Lotim.

Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, ia juga bisa membantu perekonomian keluarganya, meskipun sudah memiliki keluarga kecil. Kebermanfaatannya di lingkungan keluarga juga cukup diakui setelah menggeluti dunia bisnis Sablon. “Alhamdulillah dengan skill dan usaha sablon ini, paling tidak saya tidak menyusahkan keluarga dari sejak muda sampai sekarang,” tutupnya. (**)