Menelusuri Pangkalan Pelacur di Kota Mataram (Bagian 4 – Habis)

Kerap Diamankan dan Beroperasi Kembali

Pelacur Di Kota Mataram
DIDATA ULANG : Para PSK di Pasar Panglima didata ulang Satpol PP beberapa hari lalu. (Sudir/Radar Lombok)

Markas besar kalangan PSK di Kota Mataram adalah Pasar Panglima. Mereka yang mangkal di pasar ini rata-rata sudah usia 40 sampai 60 tahun.


SUDIRMAN-MATARAM


Pangkalan pelacur terbesar di Kota Mataram disinyalir berada di Pasar Panglima. Ini dibuktikan dengan keberadaan belasan wanita di atas usia 40 tahun ke atas yang senantiasa wara-wiri nyaris setiap malam.

Kala Radar Lombok melintasi tempat ini, para wwanita paruh baya ini tampak asyik memoles bibir dan wajah mereka dengan gincu dan bedak. Aroma parfum mereka cukup menyengat sampai ke jalan-jalan saat malam hari.

Tidak sedikit para wanita ini mengenakan pakaian seronok. Rata-rata rok mini dan atasan yang setengah terbuka. Sebagian lagi bercelana super pendek.

Saat malam semakin larut, beberapa pelacur mulai menampakan batang hidungnya. Mereka beraksi sampai subuh, sebelum kalangan pedagang keluar berjualan. Beberapa tempat sudah disediakan seperti di atas lapak, maupun kamar rumah warga setempat di belakang pasar yang disewa dengan harga Rp 25 ribu.

Dari penelusuran Koran ini, wajah-wajah lama para PSK yang kerap beroperasi di pasar ini masih berkeliaran. Meraka bahkan beberapa kali telah ditangkap Satpol PP Kota Mataram, tapi masih beraksi lagi. 

Tarif yang diberlakukan masih di bawah Rp 100 ribu, bahkan sampai Rp 50 ribu. Nampak beberapa wanita pirang berderetan di dekat Kantor Pos dekat pasar itu. Bahkan ada dari mereka yang tuna wicara ditemukan.

Saat didekati, para wanita paruh baya ini genit menggoda. Mereka berkali-kali mengajak “main”. Begitu juga ketika pelintas yang menggunakan jalan itu, tak luput dari godaan tawaran mereka.

Salah satu pelacur bernama IS (45 tahun) menuturkan, kiprahnya di dunia malam sudah hampir 10 tahun. Sebelumnya, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Setelah bercerai dengan suaminya, ia diajak ke Mataram bekerja rumahan.

‘’Tapi saat itu, saat diajak ke Pasar Panglima awalnya untuk kenalan dan pacaran. Kenalan pertama pacaran, tapi lama-lama ketagihan serta mendapat uang cepat,’’ katanya polos, Senin dini hari, (9/4).

Namun seiring persaingan saat ini, ia harus banting setir. Setiap malamnya, ia keliling ke pangkalan lain. Namun masih pilih-pilih pria hidung belang. Ia mengaku umumnya menerima tamu seusianya dan menolak pria yang masih di atas 20 tahun. ‘’Apalagi yang mabuk serta memilih gaya nungging, saya tolak biar dibayar berapa pun. Karena tidak tahan sakit tidak tertahan,’’ ucapnya.

Is mengakui, usia telah uzur sehingga memilih gaya kencan sekedar  memberikan pelampisan hasrat lelaki. Kadang-kadang, juga hanya menemani tamu dengan adegan bermesraan seadanya. Bayaranya pun hanya Rp 25 ribu.

‘’Kita tidak memaksa, kalau ada  pelanggan kita berikan arahan,’’ ucapnya.

Beberapa PSK yang kerap mangkal sudah diberikan pembinaan Satpol PP Kota Mataram. Bahkan, mereka sebelumnya telah didata ulang serta diberikan pembinaan ke panti sosial untuk tidak kembali melakukan aksi mereka.

Selain IS, ada beberapa PSK seperti AR yang baru beberapa tahun melakoni profesi sebagai PSK. Ia terbilang masih baru empat tahun di lokasi Pasar Panglima. Diakui, sebagai pangkalan terbesar di Kota Mataram rata-rata berkumpul di tempat ini, karena dianggap sudah aman. 

‘’Kita hanya mangkal, kadang ada pelanggan yang pilih kencan di dalam kamar hotel,’’ ucapnya. (*)