Menelusuri Pangkalan Pelacur di Kota Mataram (Bagian 2)

Kencan di dalam Truk, Pelanggan Dapat Servis Miras

Menelusuri Pangkalan Pelacur di Kota Mataram
TEMPAT MANGKAL : Inilah Jalan Sandubaya yang biasa dijadikan tempat mangkal PSK. (Sudir/Radar Lombok)

Beberapa kawasan yang dijadikan pangkalan para PSK memiliki cara-cara sendiri memberikan pelayanan. Di pangkalan  Jalan Sandubaya misalnya, para PSK menyuguhkan miras jenis tuak kepada pelanggannya.


SUDIRMAN-MATARAM


Bisnis prostitusi di Kota Mataram khusunya kelas “eceran” semakin mudah didapatkan. Bisnis ini tidak memadang tempat. Baik di pasar tradisional maupun emperan pertokoan.

BACA JUGA:

Modusnya beragam, rata-rata mereka beraksi saat malam hari ketika pertokoan tutup.

Selain di Pasar Cakranegara, satu lagi lokasi yang  sedang naik daun. Lokasi tersebut yakni di komplek pertokoan Jalan Sandubaya, Kecamatan Sandubaya. Komplek pertokoan ini, sudah dikenal masyarakat luas. Bahkan para PSK semakin merajalela beraksi.

Jumat malam (6/4), Radar Lombok menemui langsung menemui mucikarinya  berinsial LL, 40 tahun. Sambil ditemani kopi hangat, di emperan toko satu per satu para PSK itu datang. Sejenak kemudian tampak puluhan PSK sudah dianter menggunakan ojek. Mereka duduk, sambil merokok ditemani kopi di emperan toko.

Sang mucikari menuturkan,  para PSK mencari mangsa rata-rata sopir truk yang  transit dari daerah luar dan hendak melanjutkan perjalanan. Mereka bisa beraksi, di dalam truk  dengan durasi  yang sudah ditentukan.

‘’Setiap pelanggan ada servis yang disediakan, seperti penyediakan miras  tradisional beberapa botol.  Kita sudah sediakan, untuk memberikan pelayanan lebih,’’ katanya, kepada Radar Lombok, Jumat dini hari kemarin, (7/4).

Lampu penerang jalan yang tidak optimal, serta lokasi strategis membuat lokasi ini semakin terkenal.  Jalan Sandubaya tercatat sebagai salah satu jalan nasional. Jalan ini dilalui  para sopir angkut jalur ke Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur maupun Lembar di Lombok Barat.

Jam operasional para PSK ini hampir sama setiap malam. Mereka keluar umumnya menjelang magrib saat tutup toko.  Semakin malam deretan  truk semakin banyak, bahkan bemo kuning  juga kerap dijadikan tempat berkencan pada pria hidung belang dengan PSK.

Untuk tarif, ada batasanya dari Rp 150 ribu sampai Rp 75 ribu. ‘’Kalau 150 ribu dapat satu botol tuak, plus durasi dua jam di dalam truk ditemani pacar,’’ tuturnya.

Sedangkan  tarif, Rp 75 ribu mereka bisa gunakan emperan toko. Yang sudah disediakan alas  berupa bekas baliho, serta busa mobil yang tidak digunakan sebagai kasur. Rata-rata pelanggan, kebanyakan dari kelas bawah.

Ia mengakui, beberapa kali sudah terjaring razia Satpol PP, namun hanya sekeder didata mereka diperbolehkan pulang.

Usia para PSK, diatas 40 tahun ke atas yang datang dari berbagai daerah, seperti Lombok Tengah, Lotim, Lobar, bahkan luar pulau Lombok. Tempat ini, kata LL sudah lama dijadikan sarang, terkadang ada yang membawa pelangganya ke hotel melati namun dengan bayaran lebih, diatas Rp 200 ribu. 

‘’Saya selaku tukang negosiasi dapat Rp 25 ribu sekali pakai.  Selesai main dengan PSK langsung diberikan PSK,’’ ucapnya.

Dari pembayaran pelanggan, PSK mendapatkan lebih. Ketimbang mereka sewa hotel, kadang  lebih banyak memilih di dalam truk. Bisa bermain diatas pangkuan para sopir, sambil ditemani musik maupun minuman saat bercinta.

Keberadaan ini, memang sudah lama terendus oleh Satpol PP Kota Mataram. Bahkan beberapa kali razia, namun tetap  beroperasi.

Kasat Satpol PP Bayu  Pancapati mengatakan, beberapa langkah sudah dilakukan untuk menertibkan mereka. ‘’Sudah kita gencarkan penertiban, bahkan sudah beberapa kali. Tapi masih ada yang bermain kucing-kucingan dilokasi tersebut,’’ katanya.

Beberapa waktu lalu, sudah gencar bahkan minuman keras  dari jenis bir maupun tuak dibeberapa lapak pedagang sudah ditertibkan. Ia berharap, peran dari lurah serta camat setempat juga harus aktif memantau wilayahnya. Bukan hanya Satpol PP tapi secara bersama-sama menertibkan mereka. (Bersambung)