Menelusuri Pangkalan Pelacur di Kota Mataram (Bagian 1)

Harga Bisa Ditawar, Lapak Pasar Jadi Kamar Kencan

Pelacur Kota Mataram
LOKASI: Inilah lokasi pangkalan PSK di pasar Cakranegara di los pasar paling belakang. (Sudir/Radar Lombok)

Bisnis prostitusi di Kota Mataram semakin merajalela. Mulai dari high class hingga kelas “eceran”. Khusus untuk kelas eceran, beberapa kawasan dijadikan pangkalan seperti di pasar Cakranegara. Berikut liputannya.


SUDIRMAN-MATARAM


Miris! Bisnis prostitusi semakin tidak terkontrol di Kota Mataram. Bisnis syahwat ini semakin hari kian mewabah dan menjadi penyakit sosial.

Seperti di  di kawasan pasar Cakranegara misalnya. Bisnis terselubung menjajakan nafsu ini masih saja banyak dilakoni. Para PSK biasa mangkal di belakang  los pasar paling tersembuyi saat malam hari dengan kondisi lampu tidak dinyalakan.

BACA JUGA:

Pangkalan ini cukup kondang di Kota mataram. Para Penjajah Seks Komersial (PSK) menggantungkan hidupnya dengan mengais rezeki dari para pelanggan. Para buruh atau pekerja kasar yang butuh hiburan dan pelepas hajat duniawi menjadi sasaran pasarnya.

Penelusuran Radar Lombok. Para PSK ini satu per satu turun mencai pria hidung belang di sekitar pasar. Mereka beropreasi biasanya di atas jam 21.00 Wita ke atas. Mereka  tak segan-segan mengajak “ngamar” dengan tarif sekali kencan Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu.

Kamar yang mereka sediakan sungguh tidak layak bahkan beralasan kertas koran sampai plastik. Tempat yang dijadikan ngamar pun sangat praktis, seperti di los pasar maupun emperan toko.

Salah satu pelacur berinisial AM menuturkan, setiap  kendaraan berhenti, ia bersama  teman-temannya pasti menghampiri dan memberikan kode untuk tawar menawar. Setalah ada pembicaraan, mereka mengajak para pria hidung belang masuk.

‘’Bisa dengan harga teman. Tidak mahal,” ucapnya, Rabu malam (5/4).

Lokasi pasar ini semakin malam semakin ramai dari para penjaja birahi. Siring semakin larutnya malam, para PSK ini kian banyak yang lalu lalang.

Dari penuturan AM, tempat mangkal mereka tidak saja di pasar ini, kadang mereka juga mangkal di pasar panglima. Jarak tempuh kedua pasar ini relative sangat dekat. Dibutuhkan waktu sekitar 2 menit saja jika menggunakan kendaraan bermotor.

Tarif PSK ini sangat terjangkau. Dari harga Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Namun semakin malam, kadang harga diobral menjadi Rp 25 ribu. ‘’Kadang kita obral. Apalagi mau subuh. Biasa pedagang sudah datang berjualan,’’ ucapnya.

Dari penelusuran koran ini, nampak beberapa pria hidung belang masuk ke dalam pasar. Mereka terlibat transaksi harga. Setelh ada kesepakatan soal tarif, kencan dapat dilakukan langsung di los.

Keberadaan para PSK ini sebenarnya tidak begitu saja dibiarkan Pemkot Mataram. Mereka sudah beberapa kali ditertibkan, tapi masih tetap beroperasi.

Kepala Dinas Perdagangan L Alwan Basri mengatakan, beberapa upaya telah dilakukan. Bahkan Satpol PP sudah sering menertibkan mereka. Salah satu caranya yakni dengan memperbanyak titik penerangan. Bahkan Pemkot Mataram juga memperketat pejagaan.

 ‘’Kita sudah tambah lampu penerang, tapi rusak. Kita terus menindak mereka. Koordinasi dengan dinas teknis juga tetap berjalan,’’ katanya.

Saat ini, petugas keamanan telah ditambah. Sesuai dengan arahan pimpinan, kepala pasar diminta terus berinovasi serta memperbaiki citra negatif tersebut. Jangan sampai ada penyelewengan lapak. ‘’Kita akan tata lapak yang kerap disalahgunakan tahun ini, ada dari DAK Rp 1,2 miliar untuk revitalisasi pasar Cakranegara,’’ singkatnya.  (Bersambung)