Memberantas Rentenir Berbasis Masjid

MAWAR EMAS
PELATIHAN : OJK NTB bersama TPAKD NTB dan MES saat memberikan pelatihan kepada puluhan Takmir Masjid dalam melaksanakan program ‘Mawar Emas’ di Aula BPSDM Provinsi NTB, Rabu (21/10).

Perluas Akses Keuangan Menyasar Usaha Mikro Melalui ‘Mawar Emas’

MATARAM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTB gundah dan khawatir dengan maraknya pelaku usaha yang meminjamkan uang dengan bunga tinggi yang akrab disebut dengan ‘rentenir’ atau ‘bank subuh alias bank rontok’ di tengah masyarakat Nusa Tenggara Barat. Pasalnya, keberadaan rentenir ini justru bukan membantu untuk meringankan masalah, justru semakin menambah beban hingga memiskin masyarakat. Karena bunga pinjaman yang diberikan kepada nasabah atau peminjam sangat tinggi dan polanya setiap hari harus disetor (angsuran).

Semakin mengguritanya keberadaan rentenir di tengah masyarakat terlebih di tengah pandemi Covid-19, membuat OJK NTB bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) bertekad secara bersama sama untuk memberantas ruang gerak rentenir dengan menghadirkan kemudahan dan mendekatkan layanan industri keuangan di tengah masyarakat di desa yang selama ini hanya mengandalkan pinjaman uang dari rentenir, karena merasa proses cepat, meski bunganya sangat tinggi. OJK bersama TPAKD NTB bersepakat menghadirkan terobosan dengan membentuk program Melawan Rentenir Berbasis Masjid atau dikenal dengan sebutan ‘Mawar Emas’.

Untuk mengefektifkan program Mawar Emas ini, OJK NTB bersama TPAKD menggandeng Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) NTB. Sementara itu terdapat dua lembaga keuangan yang dilibatkan memberikan pembiayaan kepada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan masyarakat kecil yang selama ini menjadi sasaran empuk ‘bank subuh’ alias rentenir, yakni Bank NTB Syariah dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Adapun pola pembiayaan yang diterapkan kepada nasabah atau masyarakat pelaku UMKM adalah dengan akad Qardhul Hasan, istilah pembiayaan dalam keuangan syariah. Besaran pembiayaan diberikan mulai dari Rp 1 juta hingga maksimal Rp 2 juta per orang yang tergabung dalam kelompok. Setiap kelompok jumlah pedagang dan masyarakat kecil bervariasi, mulai dari 15 hingga 20 orang.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTB Farid Faletehan mengatakan untuk menjalankan program Mawar Emas sebagai amunisi memberantas keberadaan rentenir di tengah masyarakat yang selama ini belum mendapatkan akses pembiayaan dari perbankan, terlebih di tengah pandemi virus Corona (Covid-19), OJK NTB bersama TPAKD dan MES NTB terlebih dahulu memberikan pelatihan kepada Takmir Masjid secara bertahap. 

“Terbentuknya ‘Mawar Emas’ ini bertujuan untuk membantu masyarakat yang ‘unbankable’ dan selama ini tidak bisa lepas dari jerat rentenir untuk dapat mengakses pembiayaan super mikro dengan biaya yang murah dan proses mudah di tengah pandemi Covid-19 ini,” kata Farid Faletehan, Senin (26/10).

Setelah diluncurkan secara resmi pada Rabu 12 Agustus 2020 di Lombok Timur, OJK NTB bersama TPAKD NTB dan MES NTB melakukan gerak cepat memperluas pembiayaan ‘Mawar Emas’. Mulai dari melatih Takmir Masjid hingga memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat pedagang dan masyarakat kecil yang menjadi sasaran dari pembiayaan ‘Mawar Emas’.

Farid menyebut sudah ada 113 masjid yang mendapatkan pelatihan pengelolaan pembiayaan berbasis masjid yang tersebar di NTB. Dari jumlah 113 masjid, terdapat 62 masjid yang sudah menyalurkan pembiayaan kepada pedagang dan masyarakat kecil, yakni 60 masjid dari Bank NTB Syariah dan 2 masjid dari PT PNM. Jumlah pedagang dan masyarakat kecil yang sudah mendapatkan pembiayaan dari program ‘Mawar Emas’ ini sebanyak 560 orang penerima dengan total pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp 581 juta.

“Kita ingin jumlah nasabah pedagang dan masyarakat kecil yang mendapatkan pembiayaan sampai Desember 2020 nanti diangka 1.000 orang. Karena itu, kami terus begerak memberikan pelatihan kepada Takmir Masjid,” terangnya.

Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Provinsi NTB Dr H Lalu Syafi’i menyebut kehadiran program ‘Mawar Emas’ ini sebagai salah satu upaya pemerintah bersama OJK NTB memperluas layanan industri keuangan kepada pedagang dan masyarakat kecil di pedesaan. Selama ini, masyarakat di pedesaan kesulitan mendapatkan layanan perbankan. Bahkan tak sedikit masyarakat terpaksa meminjam uang di rentenir yang selama ini menggerogoti perekonomian masyarakat dengan memberlakukan bunga sangat tinggi.

“Kita harapkan ‘Mawar Emas’ ini dapat memperluas akses keuangan kepada masyarakat untuk memberantas rentenir. Sehingga kedepannya menjadi pilar dalam peningkatan perekonomian umat,” katanya.

Kehadiran program ‘Mawar Emas’ lanjut Lalu Syafi’i untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat yang selama ini belum dapat mengakses pinjaman di perbankan, karena berbagai kendala. Salah satunya unbankable, karena usahanya terbatas, tidak memiliki jaminan sampai bertempat tinggal di pedesaan yang sulit mengakses pinjaman di lembaga resmi, seperti perbankan.

Program Melawan Rentenir Berbasis Masjid (Mawar Emas) ini dipilih, karena keberadaan masjid ada di seluruh pelosok desa dan perkampungan. Masjid juga tidak mengenal status sosial, sehingga semua lapisan masyarakat dengan mudah datang dan berkumpul di masjid. Dengan pendekatan berbasis masjid inilah menjadi harapan program ‘Mawar Emas’ bisa lebih dikenal oleh masyarakat, sehingga menjadi alternatif pembiayaan dan nantinya secara perlahan mampu memberantas keberadaan rentenir yang semakin mencekik perekonomian masyarakat NTB.

“Kehadiran ‘Mawar Emas’ ini menjadi pemutus mata rantai rentenir yang sudah cukup lama menjerat masyarakat,” harapnya.

Sementara itu, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) NTB Dr Hj Baiq Mulianah mengatakan kehadiran program ‘Mawar Emas’ di tengah masyarakat di masa pandemi Covid-19 menjadi peluang untuk memasyarakatkan keuangan syariah. Karena dalam pembiayaan di program ‘Mawar Emas’ menerapkan sistem syariah dengan akad Qardhul Hasan atau tanpa bunga.

“Alhamdulillah MES NTB bersama pihak terkait lainnya telah mengkonsolidasikan beberapa masjid untuk program ‘Mawar Emas’ termasuk ikut memberikan pelatihan kepada Takmir Masjid,” ungkap Hj Mulianah.

Mulianah menyatakan akan terus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk membumikan keuangan syariah di NTB melalui program ‘Mawar Emas’ dalam memperluas akses keuangan kepada masyarakat yang selama ini sudah merasa nyaman dengan rentenir, karena akses dengan lembaga keuangan resmi yang terbatas disebabkan jarak tempuh jauh dan lainnya.

“Dengan lahirnya program ‘Mawar Emas’ ini diharapkan mampu membangkitkan perekonomian pedagang dan masyarakat kecil,” pungkasnya. (luk)

BACA JUGA :  Mawar Emas Program Lawan Rentenir Hadir di Bima