Melihat Semangat Kaum Difabel Menjadi Pengrajin Kain Tenun

Keterbatasan Bukan Penghalang untuk Berkarya

Kaum Difabel Menjadi Pengrajin Kain Tenun
PENGRAJIN DIFABEL: Saupan, pengrajin kain tenun tradisional yang juga penderita difabel (tuna netra) ketika sedang bekerja menenun. (DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK)

Saupan, merupakan salah satu penyandang difabel (tuna netra) yang tak pernah putus asa untuk berkarya membuat kain tenun tradisional. Meskipun memiliki keterbatasan, dia tetap bersemangat. Bahkan uasahanya itu dapat memberikan lapangan perkerjaan kepada sesama penyandang difabel lainnya, bahkan warga sekitar yang normal.


*DEVI HANDAYANI – MATARAM*


KAIN tenun tradisional merupakan kerajinan tangan yang tidak gampang dibuat. Setiap pengrajin harus memiliki bakat dalam membuatnya. Seperti Saupan, warga Desa Peteluan Indah, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) ini, yang meskipun menjadi pengrajin tenun difabel satu-satunya yang ada di desanya. Namun hasil tenunannya ternyata mampu bersaing dengan pengrajin lainnya. Baginya, memiliki keterbatasan bukan menjadi penghambat untuk berkarya (menenun).

Awal memulai membuat kerajinan tenun, dia bertanya kepada istrinya yang juga merupakan pengrajin tenun. Dari bertanya-tanya, dia kemudian mencoba belajar sendiri, hingga akhirnya tenunan buatnya dilirik warga sekitar.

“Mulanya belajar dari istri, kan dia juga bisa nenun. Ketika sudah saya pahami apa yang dikatakan, setelahnya saya mencoba untuk membuatnya,” tutur Saupan ketika Radar Lombok datang berkunjung ke kediamannya, Kamis kemarin (5/7).